Bank-bank sentral di berbagai negara tercatat meningkatkan pembelian emas dalam skala terbesar dalam sejarah modern, sementara pada saat yang sama, akumulasi Bitcoin oleh pelaku pasar swasta dan institusi meningkat signifikan.
Temuan ini disampaikan dalam analisis XWIN Research Japan di CryptoQuant, yang menunjukkan adanya pergeseran struktur penyimpanan nilai di tingkat negara dan masyarakat.
Menurut data tersebut, sejak tahun 2022, pembelian bersih emas oleh bank-bank sentral secara konsisten melampaui 1.000 ton per tahun. Tren serupa diperkirakan berlanjut hingga 2025, menjadikannya tahun ke-16 berturut-turut negara mengonsolidasikan cadangan emasnya.
Fenomena ini berbeda jauh dari periode 1990 hingga 2010, saat bank sentral tercatat sebagai penjual bersih emas. Pergeseran ini terjadi di tengah meningkatnya risiko mata uang, ketidakpastian geopolitik dan melemahnya kepercayaan pada stabilitas sistem fiat global.
Sementara itu di sisi lain, akumulasi Bitcoin justru terjadi dari arah masyarakat, institusi keuangan dan sebagian dana publik.

Data on-chain menunjukkan bahwa kepemilikan Bitcoin oleh pemegang jangka panjang berada mendekati rekor tertinggi dan cenderung tidak dijual, bahkan ketika pasar menguat.
Selain itu, cadangan Bitcoin di bursa kripto menurun selama tiga tahun terakhir, mengindikasikan pengetatan pasokan yang beredar.
“Transisi ini sudah terlihat jelas pada data on-chain, di mana emas dikonsolidasikan oleh negara, sedangkan Bitcoin dikumpulkan oleh rakyat, institusi dan entitas publik,” ujar XWIN Research Japan.

Negara Mengamankan Posisi dengan Emas
Akumulasi emas oleh negara dilakukan sebagai strategi lindung nilai terhadap risiko nilai mata uang dan ketegangan global yang terus meningkat. Hal ini mencakup kekhawatiran terhadap stabilitas dolar AS, peningkatan konflik regional dan kenaikan tingkat fragmentasi ekonomi internasional.
Emas berfungsi sebagai aset store of value yang telah lama digunakan dalam cadangan bank sentral dan mekanisme stabilisasi selama krisis ekonomi.
Dalam konteks ini, negara memprioritaskan aset fisik yang tidak bergantung pada sistem finansial satu negara tertentu. Dengan semakin meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, konsolidasi emas dipandang sebagai langkah pertahanan strategis untuk memperkuat daya tahan keuangan negara.
Bitcoin Muncul sebagai Penyimpan Nilai Digital
Berbeda dengan emas, Bitcoin berkembang sebagai aset lindung nilai yang dimiliki oleh masyarakat luas, investor institusional, perusahaan, hingga entitas publik. Strukturnya yang terdesentralisasi, pasokan tetap di 21 juta koin, serta kemudahan transfer lintas negara menjadikannya alternatif penyimpan nilai berbasis digital.
Penurunan terus-menerus saldo Bitcoin di bursa menunjukkan bahwa investor lebih banyak memindahkan aset ke penyimpanan mandiri atau kustodian jangka panjang.
Hal ini diperkuat oleh berkembangnya infrastruktur permintaan seperti Bitcoin ETF spot, strategi penempatan aset perusahaan dan uji coba adopsi oleh lembaga negara tertentu.
Di AS, sejumlah senator melangsungkan pembahasan bipartisan untuk menetapkan kerangka regulasi aset digital yang lebih jelas. Agenda tersebut termasuk inisiatif pengamanan konsumen, kepastian pajak dan ruang inovasi.
Jika kebijakan tersebut diimplementasikan, peluang Bitcoin untuk berperan dalam perencanaan cadangan nasional dapat terbuka di masa depan. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



