Dokumen lama dari Epstein Files mencuat dan menyoroti sisi lain Michael Saylor. Bukan soal Bitcoin atau bisnis, melainkan potret personalnya di lingkar elite sosial New York dan Cannes. Dokumen ini dirilis oleh DOJ pada Sabtu (31/01/2026) sebagai bagian dari berkas terkait Jeffrey Epstein.
Saylor Masuk Lingkar Elite lewat Donasi US$25.000
Salah satu email bertanggal 8 Mei 2010 dari Peggy Siegal memuat penilaian tajam atas interaksinya dengan Saylor. Siegal dikenal sebagai konsultan sosial dan fundraiser elite yang lama berkecimpung di dunia seni, film independen, mode, dan filantropi Amerika Serikat.
Dalam email itu, Peggy Siegal menyebut bahwa Michael Saylor menyumbang US$25.000 untuk sebuah acara amal. Imbalannya bukan sekadar nama di undangan, melainkan akses langsung ke lingkar sosial kelas atas, mulai dari sutradara, desainer, selebritas, hingga tokoh seni.
Acara tersebut digambarkan mewah. Mulai dari gala Independent Filmmakers Project di studio Diane von Furstenberg, jamuan makan ratusan tamu, hingga pesta lanjutan di Boom Boom Room yang dipenuhi figur dunia seni dan film.
Namun, alih-alih membaur, Saylor justru dinilai gagal memanfaatkan momen itu. Peggy menulis bahwa para sutradara cerdas yang duduk di sampingnya tak berhasil mengajak diskusi berarti. Percakapan yang keluar disebut sangat minim dan juga kaku.
“Ia tidak punya kepribadian, terlihat seperti zombie yang sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan,” tulis Peggy secara blak-blakan dalam email tersebut.

Dinilai “Aneh” dan Gagal Bangun Koneksi Sosial
Nada email pada dokumen terkait Jeffrey Epstein kian tajam ketika Peggy menyebut Michael Saylor sebagai complete creep. Ia mengaku bahkan harus menjauh setelah mencoba memperkenalkannya kepada sejumlah tamu karena merasa situasinya terlalu aneh.
Menurutnya, terdapat jarak yang jelas antara Saylor dan lingkungan sosial. Meski memiliki kekayaan besar, termasuk kapal pesiar yang sempat ia banggakan, hal tersebut dinilai tidak otomatis berbanding lurus dengan kecakapan bersosialisasi.
“Ada jarak personal yang jelas, dan saya tidak yakin bisa begitu saja menerima uangnya lalu menjanjikan kehidupan yang lebih baik, karena ia tidak memiliki kepekaan terhadap perilaku sosial,” jelas Peggy.
Pandangan ini bukan datang dari satu pihak. Dalam dokumen lain pada Epstein Files yang bertanggal 22 Maret 2010, seorang kenalan bernama Jim Coleman menggambarkan Saylor sebagai sosok yang mencoba membeli penerimaan sosial dengan uang.
“Dia adalah tipikal orang komputer yang berusaha mencari penerimaan sosial. Namun, dari yang saya lihat, ia menempuh jalan yang keliru dengan menghamburkan banyak uang dan justru menarik sebagian besar pergaulan yang salah,” tutur Jim.
Epstein Files Buka Sisi Gelap Lingkar Sosial Elite
Rangkaian email terkait Jeffrey Epstein juga menyinggung sisi gelap dunia sosial kelas atas. Peggy mengkritik bagaimana institusi seni dan budaya kerap membuka pintu bagi siapa pun yang sanggup membayar mahal, terlepas dari latar belakang atau sensitivitas kultural mereka.
Ia menyebut bahwa fenomena manufactured art scene sebagai lelucon yang mahal, di mana uang mampu membeli citra, legitimasi, bahkan posisi prestisius di dewan budaya.
Epstein Files Picu Spekulasi, Satoshi Nakamoto Diduga Bukan Satu Orang
Bagi publik, kemunculan Michael Saylor dalam Epstein Files bukan soal hukum. Namun, hal ini membuka narasi lain tentang sisi personal di balik figur Strategy, yang digambarkan canggung, terputus, dan gagal membaca dinamika sosial.
Sebuah pengingat tajam bahwa kekayaan dan pengaruh tidak selalu menjamin penerimaan, terutama di dunia yang menilai karisma sama tinggi dengan kekuasaan finansial.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



