Aset kripto Ether (ETH) sentuh all time high (ATH) baru lagi. ETH menyentuh level psikologis, US$2 ribu pada hari ini, pukul 10:54 WIB.

Sementara itu di Indodax, dalam rupiah, ETH diperdagangkan Rp29,8 juta, lalu terkoreksi tipis ke Rp29,6 juta.

Sentuhan ETH di US$2 ribu telah diprediksi sebelumnya, dampak dari kenaikan harga Bitcoin (BTC), yang sudah sentuh lebih dari Rp800 juta pada hari yang sama.

Harga ETH lebih dari US$2000. Sumber: Tradingview.com.
Harga ETH dalam rupiah, lebih dari Rp29,8 juta. Sumber: Indodax.

Sebagaimana lazimnya, trader yang lakukan aksi ambil untung di BTC, melanjutkan akumulasi terhadap ETH sebagai aset kripto peringkat kedua terbesar di dunia.

Namun, mengingat ETH adalah aset kripto berkelasguna dalam DeFi dan smart contract, harga ETH yang tinggi berdampak buruk pada tingginya biaya transaksi.

Berdasarkan data Bitinfocharts.com, biaya transaksi rata-rata mencapai 0,012 ETH (U$23,82 USD). Tertinggi dalam 3 bulan sekitar US$25 (5/2/2021).

Sedangkan median transaction fee sekitar 0,0063 ETH (US$12,7 USD). Tertinggi dalam 3 bulan sekitar US$13,9 (5/2/2021).

Biaya transaksi besar adalah masalah paling krusial di Ethereum, yang saat ini dalam proses hijrah ke sistem Proof-of-Stake. Sistem baru itu kelak menjanjikan biaya yang murah, sekaligus volume transaksi yang jauh lebih besar.

Bagi trader kecil, biaya transaksi mahal adalah momok yang sangat lazim. Jikalaupun murah, maka prosesnya semakin lama.

Menyentuh ATH kali ini tampaknya murni sebagai aksi spekulasi dari semakin derasnya perhatian publik terhadap pasar aset kripto, terlebih-lebih ETH sejak pekan lalu sudah diperdagangkan di bursa berjangka di CME.

CME Luncurkan Ethereum Berjangka, Harga ETH Relatif Stabil

Masuk di pasar besar itu memungkinkan jangkauan nilai ETH masuk ke relung investor kelas kakap. [red]

Protected with blockchain timestamps

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO