Meski Venture Capital Makin Selektif, Exchange Crypto Lokal Tetap Seksi!

Meski pendanaan venture capital (VC) kripto global mulai melambat pada 2026, sektor exchange masih menjadi salah satu kategori yang paling diminati investor, termasuk di Indonesia. Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

BACA JUGA: Daftar Biaya Transaksi di Crypto Exchange Lokal Terbaru 2026

Venture Capital Kripto Sedang Melambat

Jika melihat kondisi pasar saat ini, ada narasi yang cukup sering muncul bahwa investor mulai meninggalkan startup kripto. Namun data menunjukkan cerita yang sedikit berbeda.

Melansir laman Galaxy Research, sepanjang kuartal pertama (Q1) 2026, venture capital menggelontorkan sekitar US$4 miliar ke perusahaan kripto dan blockchain melalui 355 transaksi pendanaan.

Nilai Kesepakatan Venture Capital ke Perusahaan Kripto dan Blockchain
Nilai Kesepakatan Venture Capital ke Perusahaan Kripto dan Blockchain. Foto: Galaxy Research.

Nilai tersebut memang turun sekitar 50 persen dibanding kuartal sebelumnya, tetapi masih jauh lebih sehat dibanding periode bear market 2023–2024. Selain itu, jumlah transaksi hanya turun sekitar 16 persen, menandakan investor masih aktif berinvestasi meski lebih selektif dalam memilih startup.

Yang menarik, kategori Trading, Exchange, Investing, dan Lending justru menjadi sektor dengan pendanaan terbesar. Menurut Galaxy Research, kategori tersebut menyerap sekitar US$2,6 miliar atau hampir 60 persen dari total modal yang diinvestasikan selama Q1 2026.

Artinya, ketika investor mulai mengurangi eksposur ke berbagai eksperimen Web3 yang belum jelas model bisnisnya, mereka justru lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki produk nyata, basis pengguna besar, serta potensi pendapatan yang lebih jelas. Salah satu contoh paling nyata adalah exchange kripto.

Exchange Crypto Lokal Tetap Seksi di Mata Investor

Tren global tersebut ternyata juga terlihat di Indonesia. Melansir laman Detik Finance, platform aset digital FLOQ berhasil memperoleh pendanaan strategis senilai US$11,3 juta atau sekitar Rp183 miliar. Pendanaan tersebut melibatkan sejumlah investor seperti Ascent, Sharpbyte, HFX Group, MD Capital, dan beberapa investor strategis lainnya.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pendanaan ini cukup menarik mengingat FLOQ baru diluncurkan pada Mei 2025. Dalam waktu kurang dari satu tahun, perusahaan tersebut telah mengumpulkan sekitar 1,8 juta pengguna terdaftar dan memperoleh penghargaan sebagai pedagang aset kripto dengan pertumbuhan tercepat dari Bursa Kripto CFX.

Dana segar tersebut rencananya akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur teknologi, meningkatkan keamanan sistem, mengembangkan produk baru, serta memperkuat kepatuhan terhadap regulasi industri aset digital Indonesia.

Kehadiran investor besar di balik FLOQ menunjukkan bahwa Exchange Crypto Lokal Tetap Seksi meskipun kondisi pendanaan global tidak lagi semurah beberapa tahun lalu. Investor tampaknya melihat potensi jangka panjang Indonesia sebagai salah satu pasar aset digital terbesar di Asia Tenggara.

BACA JUGA: 10 Exchange Crypto Terbaik di Dunia yang Cocok untuk Pemula!

Transformasi NOBI Menjadi Bybit Indonesia

Tidak hanya FLOQ, dinamika industri exchange Indonesia juga terlihat dari transformasi NOBI menjadi Bybit Indonesia.

Melansir laman SWA, perubahan identitas tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi perusahaan di tengah semakin kompetitifnya industri aset digital nasional.

Dengan mengadopsi merek Bybit yang telah dikenal secara global, perusahaan berharap dapat menghadirkan pengalaman perdagangan yang lebih baik sekaligus meningkatkan kepercayaan pengguna.

Transformasi ini juga menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih dianggap menarik oleh pemain global. Di tengah meningkatnya regulasi dan standar kepatuhan, perusahaan-perusahaan besar justru berupaya memperkuat kehadiran mereka di dalam negeri.

Fenomena tersebut menjadi sinyal bahwa industri kripto Indonesia mulai memasuki fase yang lebih matang. Fokus pelaku industri kini tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan pengguna, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan.

Investor Global Masih Berebut Pasar Indonesia

Daya tarik Indonesia tidak hanya terlihat dari pendanaan FLOQ dan transformasi NOBI menjadi Bybit Indonesia. Hingga 2026, Indonesia memiliki 25 exchange kripto berizin yang beroperasi di bawah pengawasan regulator.

Ketertarikan investor global juga terlihat dari berbagai nama besar yang berada di belakang exchange lokal. Pintu didukung oleh Pantera Capital, Coinbase Ventures, dan Lightspeed Venture Partners. Tokocrypto kini sepenuhnya dimiliki oleh Binance, exchange terbesar di dunia.

Sementara itu, Indodax, Reku, dan Pluang mendapatkan dukungan dari investor seperti East Ventures, AC Ventures, Accel, serta sejumlah modal ventura internasional lainnya. Bahkan Triv baru-baru ini memperoleh investasi dari MEXC Ventures.

Masuknya modal dari berbagai investor global menunjukkan bahwa Exchange Crypto Lokal Tetap Seksi di mata pasar. Selain melihat pertumbuhan jumlah pengguna kripto di Indonesia, investor juga mulai melirik peluang baru seperti tokenisasi aset dunia nyata (Real World Assets/RWA), yang berpotensi membuka pasar baru untuk perdagangan aset berbasis blockchain di masa depan.

BACA JUGA:  Mau Beli Saham OpenAI dan Anthropic Sebelum IPO? Begini Caranya!

Mengapa Investor Masih Tertarik ke Exchange?

Ada beberapa alasan mengapa Exchange Crypto Lokal Tetap Seksi dibanding banyak sektor kripto lainnya.

Pertama, exchange memiliki model bisnis yang relatif jelas melalui biaya transaksi, layanan premium, hingga produk investasi tambahan. Hal ini berbeda dengan banyak startup Web3 yang masih mencari model monetisasi yang stabil.

Kedua, exchange merupakan gerbang utama bagi pengguna baru yang ingin masuk ke dunia aset digital. Selama adopsi kripto terus bertumbuh, kebutuhan terhadap platform perdagangan juga akan tetap ada.

Ketiga, regulasi di Indonesia kini semakin jelas sejak pengawasan aset kripto berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepastian regulasi memberikan rasa aman yang lebih besar bagi investor maupun pelaku industri.

Selain itu, tren global juga mulai bergeser menuju sektor yang memiliki utilitas nyata. Data Galaxy Research menunjukkan bahwa investor kini lebih banyak mengalirkan modal ke bisnis yang menghasilkan pendapatan riil seperti exchange, layanan investasi, pembayaran digital, hingga infrastruktur blockchain.

BACA JUGA:  Kamu Jago Trading? Hypernova Bisa Modalin, Gini Caranya!

Bagaimana Masa Depan Exchange Crypto Lokal?

Melihat perkembangan saat ini, peluang pertumbuhan industri exchange Indonesia masih terbuka lebar.

Jumlah investor aset kripto Indonesia terus bertambah setiap tahun, sementara tingkat penetrasi blockchain masih relatif rendah dibanding potensi populasi yang ada. Kondisi tersebut menciptakan ruang pertumbuhan yang besar bagi pemain lama maupun pendatang baru.

Namun tantangannya juga tidak kecil. Persaingan semakin ketat, standar keamanan semakin tinggi, dan pengguna kini semakin kritis dalam memilih platform. Exchange yang mampu membangun kepercayaan, menjaga kepatuhan regulasi, serta menghadirkan inovasi produk kemungkinan akan menjadi pemenang dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, tren global menunjukkan bahwa investor tidak lagi mengejar pertumbuhan semata. Mereka mulai mencari perusahaan yang mampu menunjukkan jalur menuju profitabilitas dan keberlanjutan bisnis. Karena itu, meski pendanaan masih tersedia, hanya perusahaan dengan fundamental kuat yang berpeluang menarik modal baru.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait