Nama Ferry Irwandi mendadak viral setelah ia mengaku pernah memiliki 400 keping Bitcoin sejak tahun 2012. Jika dihitung dari harga tertinggi Bitcoin, nilainya bisa melampaui Rp800 miliar. Namun bagaimana kisah sebenarnya? Yuk, simak 10 fakta penting soal bitcoin Ferry Irwandi yang perlu kamu ketahui sebelum terburu-buru menyimpulkan.
BACA JUGA:Â 10 Cara Mendapatkan Bitcoin, Dari yang Berbayar Hingga Gratis!
Fakta Bitcoin Ferry Irwandi

Kisah bitcoin Ferry Irwandi memang terdengar seperti mimpi, beli ratusan keping saat harga masih receh, lalu kaya raya saat harga meledak. Namun kenyataannya jauh lebih berliku dari narasi viral yang beredar di media sosial.
Ada koin yang hilang, exchange yang bangkrut, dan keputusan-keputusan yang harus diambil di tengah ketidakpastian, jauh sebelum Bitcoin dikenal seperti sekarang. Berikut adalah detail lengkapnya:
BACA JUGA:Â 10 Aplikasi Beli Bitcoin di Indonesia Terbaik & Terpercaya 2026
1. Pertama Kenal Bitcoin Bukan dari Investasi, Tapi dari Warnet
Ferry Irwandi bukan tipikal investor yang membaca whitepaper lalu langsung beli aset digital. Ia justru pertama kali mengenal Bitcoin dari dunia warnet dan komunitas gamer sekitar tahun 2011–2012. Saat itu ia bekerja sebagai operator warnet, lingkungan yang menjadi “pintu masuk” banyak orang Indonesia ke dunia kripto.
“Jadi kalau mau nanya OG-nya Bitcoin di Indonesia itu jangan tanya financial investor. Yang pertama kali pegang itu 2011 atau 2012 tuh orang-orang warnet.”, Ferry Irwandi.
2. Bitcoin Digunakan Sebagai Alat Tukar di Komunitas Gamer
Pada era itu, Bitcoin belum dikenal sebagai instrumen investasi. Di komunitas gamer Indonesia, BTC dipakai sebagai alat tukar untuk membeli item atau key game, salah satunya Dota 2. Transaksi dilakukan lewat forum online, jauh sebelum ada crypto exchange seperti yang kita kenal sekarang.
3. Beli 400 BTC dengan Modal Sekitar Rp22–40 Juta
Ferry mengaku membeli sekitar 400 Bitcoin pada 2012 dengan harga US$6–US$7 per koin. Total modal yang ia keluarkan diperkirakan hanya sekitar US$2.400 atau setara Rp22–40 juta, angka yang cukup besar saat itu, tapi jauh dari kata “investasi besar” menurut standar sekarang.
BACA JUGA:Â 10 Cara Menggunakan Bitcoin yang Bisa Kamu Coba Pada 2026!
4. 400 BTC Tidak Pernah Disimpan Utuh
Banyak orang keliru mengira Ferry menyimpan 400 BTC-nya dengan rapi lalu menjualnya saat harga meledak. Faktanya, koin tersebut keluar-masuk sejak awal. Sebagian dijual untuk membeli item game, sebagian ditukar uang tunai, dan banyak yang berpindah tangan lewat berbagai transaksi forum selama bertahun-tahun.
5. Sebagian BTC Hilang di Exchange Mt. Gox yang Bangkrut
Salah satu kerugian terbesar Ferry adalah menyimpan sebagian koinnya di Mt. Gox, exchange Bitcoin terbesar di dunia saat itu, yang kemudian runtuh pada Februari 2014 akibat peretasan besar-besaran. Sekitar 850.000 BTC milik pengguna hilang dalam insiden tersebut, dan sebagian milik Ferry termasuk di dalamnya.
6. Teknologi Penyimpanan Kripto Belum Aman di Era Itu
Pada 2011–2012, belum ada dompet kripto (crypto wallet) modern. Para pengguna harus menyimpan private key secara manual atau mengandalkan wallet versi awal yang rentan. Kondisi ini membuat risiko kehilangan aset jauh lebih tinggi dibanding era sekarang yang sudah memiliki hardware wallet seperti Ledger atau Trezor.
7. Hanya Tersisa 9 BTC Saat Harga Menyentuh ATH 2021
Setelah bertahun-tahun digerus oleh transaksi, kehilangan, dan penjualan bertahap, sisa Bitcoin yang masih dimiliki Ferry saat harga menyentuh US$68.000 (November 2021) hanya tinggal 9 keping. Nilainya sekitar US$612.000 atau ±Rp9 miliar,  lumayan, tapi jauh dari angka ratusan miliar yang sering beredar di media sosial.
“Ya lumayan tapi enggak 683 miliar juga. Tapi okelah, untuk bangun Malaka, untuk bangun beberapa bisnis dan usaha.” – Ferry Irwandi
8. Keuntungan Bitcoin-nya Dipakai untuk Bangun Bisnis Nyata
Hasil penjualan sisa Bitcoin-nya tidak Ferry gunakan untuk trading ulang atau berspekulasi. Uang itu ia putar untuk membangun bisnis, termasuk Malaka Project, media literasi digital dan platform edukasi non-formal yang kini dikenal luas di kalangan anak muda.
BACA JUGA:Â Panduan Lengkap Cara Investasi Bitcoin Untuk Pemula
9. Keuntungan Bitcoin Jadi Alasan Ferry Keluar dari PNS
Ferry sebelumnya berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia mengaku keputusan keluar dari pekerjaan pemerintahan itu sangat dipengaruhi oleh lonjakan nilai Bitcoin yang ia pegang. Tanpa keuntungan dari BTC, ia mengaku mungkin tidak akan berani resign dan membangun bisnis sendiri.
“Di tahun 2021 harga Bitcoin yang US$6 itu jadi US$68 ribu. Itu yang bikin aku keluar dari pekerjaan PNS.” – Ferry Irwandi
10. Ferry Masih Pegang Bitcoin Sekarang, Tapi dengan Pendekatan Konservatif
Hingga 2026, Ferry mengaku masih menyimpan Bitcoin dalam jumlah kecil. Ia menyebut dirinya investor yang sangat konservatif, hanya memegang “satu dua blue chip” berupa Bitcoin dan obligasi. Ia juga memperingatkan anak muda bahwa hanya sekitar 2 persen trader kripto yang benar-benar sukses secara signifikan.
Jadi, Jangan Salah Kaprah Lagi, Ya!
Semua angka ratusan miliar yang beredar di media sosial bersifat hipotetis, dihitung seolah Bitcoin Ferry Irwandi masih 400 BTC hingga harga puncak. Kenyataannya, sebagian besar koin sudah hilang, dijual, atau digunakan jauh sebelum harga melonjak.
Kisah Ferry ini bukan resep “beli dan simpan aset lalu kaya mendadak”, melainkan bukti bahwa perjalanan kripto penuh ketidakpastian, bahkan bagi yang sudah terlibat sejak awal.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



