Platform pasar prediksi berbasis blockchain, Polymarket, mencatat lonjakan hebat dalam pendapatan biaya transaksi pada pekan pertama setelah penerapan model fee baru.
Dalam periode tersebut, Polymarket menghasilkan sekitar US$6,8 juta atau setara lebih dari Rp107 miliar, yang jika dihitung secara tahunan berpotensi mencapai sekitar US$355 juta atau mendekati Rp6 triliun.

Lonjakan Fee Dipicu Perubahan Strategi Monetisasi
Kenaikan tersebut terjadi dalam satu minggu penuh sejak sistem fee komprehensif mulai diterapkan secara luas di berbagai market yang tersedia di platform tersebut.
Lonjakan fee ini mencerminkan peningkatan aktivitas pengguna yang pesat di dalam ekosistem Polymarket. Berdasarkan data yang tersedia, fee harian kini berada di kisaran US$1 juta, menunjukkan adanya arus likuiditas yang besar dan konsisten.
Selain itu, total fee mingguan di seluruh sektor pasar prediksi on-chain juga menembus angka US$7 juta, di mana sekitar 96,8 persen di antaranya berasal dari aktivitas di Polymarket. Hal ini menegaskan posisi platform tersebut sebagai pemain dominan dalam industri pasar prediksi berbasis blockchain saat ini.
Secara waktu, peningkatan ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan diperkenalkannya struktur biaya yang lebih luas. Sebelumnya, Polymarket lebih berfokus pada ekspansi pengguna dan volume transaksi tanpa monetisasi yang agresif.
Namun, perubahan strategi tersebut kini mulai menunjukkan hasil yang signifikan, dengan peningkatan pendapatan yang langsung terlihat dalam waktu singkat.
Secara geografis, aktivitas ini berlangsung secara global, mengingat Polymarket beroperasi sebagai platform berbasis blockchain yang dapat diakses oleh pengguna dari berbagai negara.
Polymarket Jadi Pusat Likuiditas dan Sinyal Pasar Global
Dominasi Polymarket tidak hanya terlihat dari sisi pendapatan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap pasar yang lebih luas. Platform ini kini menjadi pusat likuiditas utama dalam pasar prediksi, dengan volume transaksi yang jauh melampaui pesaingnya.
Dalam konteks tersebut, Polymarket tidak lagi sekadar menjadi sarana spekulasi, tetapi mulai berperan sebagai sumber data alternatif yang digunakan oleh pelaku pasar.
Selain itu, platform pasar prediksi seperti Polymarket kini mulai memengaruhi pasar energi global, khususnya dalam perdagangan minyak Brent.
Sejumlah trader dan institusi dilaporkan menggunakan data probabilitas dari platform tersebut sebagai sinyal tambahan dalam menyusun strategi trading mereka, terutama di tengah kondisi geopolitik yang tidak stabil.
Data dari Polymarket dinilai mampu menangkap sentimen pasar secara real-time, meskipun sebagian pelaku pasar masih meragukan tingkat akurasi prediksi karena potensi bias dan keterbatasan informasi.
Di tengah pertumbuhan tersebut, Polymarket juga menghadapi sorotan publik terkait sejumlah market kontroversial yang sempat muncul di platform-nya.
Redaksi sebelumnya mencatat bahwa Polymarket mendapat kecaman luas setelah membuka market yang memungkinkan pengguna bertaruh mengenai waktu penyelamatan dua awak jet tempur AS yang ditembak jatuh dalam konflik dengan Iran.
Seorang anggota parlemen AS menyebut aktivitas tersebut sebagai tidak bermoral karena melibatkan situasi hidup dan mati.
Setelah tekanan publik meningkat, market tersebut akhirnya dihapus, dan pihak platform menyatakan akan melakukan evaluasi internal terhadap kebijakan yang berlaku.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa di balik pertumbuhan pesat dan dominasi pasar, Polymarket juga menghadapi tantangan dalam menjaga kepercayaan publik serta memastikan penggunaan platform yang bertanggung jawab.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



