Ferry Irwandi Soroti Tujuan Bitcoin, Benarkah Selama Ini Disalahpahami?

Belakangan ini, perdebatan lama soal tujuan awal Bitcoin kembali mencuat. Bukan karena harga, melainkan karena tujuannya. Ferry Irwandi menyentil narasi yang kerap digaungkan sebagian komunitas kripto lewat Instagram story yang diunggah pada Selasa (10/02/2026).

Menurutnya, banyak orang terlalu jauh menafsirkan Bitcoin. Seolah sejak awal ia diciptakan untuk menghancurkan bank sentral, mengganti uang fiat, bahkan merombak sistem ekonomi global. Ferry menilai anggapan itu berlebihan.

“Satoshi itu insinyur, bukan ekonom. Kaga ada urusan yang gitu-gituan. Bahkan gue berani taruhan, nggak sejauh itu dia mikir. Itu naratif ekonomi yang dibangun orang-orang yang suka cerita-cerita seru,” jelasnya.

Story Instagram Ferry Irwandi Terkait Bitcoin
Story Instagram Ferry Irwandi Terkait Bitcoin

Pernyataan itu terdengar sederhana karena menempatkan Bitcoin hanya sebagai “alat” transaksi biasa. Namun justru di situlah letak menariknya perdebatan ini. Apakah benar BTC hanya sebatas alat pembayaran digital semata?

IKLAN
Chat via WhatsApp

Menengok Kembali Whitepaper Bitcoin

Untuk menjawabnya, tak ada cara lain selain kembali ke sumber utama. Whitepaper Bitcoin yang dirilis Satoshi Nakamoto pada 31 Oktober 2008 menjadi pijakan paling sahih untuk membaca niat awalnya.

BACA JUGA:  Polkadot Jadi Sorotan Utama, Ini 3 Faktor Pendukungnya

Dalam abstrak dokumen tersebut, terlihat jelas bahwa pernyataan Ferry tidak sepenuhnya keliru. Satoshi memang memperkenalkan Bitcoin sebagai sistem untuk transaksi digital secara langsung.

“Versi uang elektronik yang sepenuhnya peer-to-peer akan memungkinkan pembayaran online dikirim langsung dari satu pihak ke pihak lain tanpa melalui lembaga keuangan,” tulis Satoshi.

Kalimat itu tegas. Bitcoin memang dirancang sebagai sistem pembayaran peer-to-peer tanpa bergantung pada lembaga keuangan sebagai perantara. Penekanannya teknis, tanpa pernyataan eksplisit soal menggulingkan bank sentral.

17 Tahun Whitepaper Bitcoin: Menelusuri Jejak Kripto Besutan Satoshi

Namun ada aspek teknis yang terbuka untuk beragam tafsir. Satoshi merancangnya untuk mencegah double spending tanpa pihak ketiga. Mekanisme ini secara tidak langsung menantang sistem keuangan konvensional yang bergantung pada perantara.

“Tanda tangan digital menyediakan sebagian dari solusi, tetapi manfaat utamanya akan hilang jika masih diperlukan pihak ketiga yang dipercaya untuk mencegah double spending. Kami mengusulkan solusi atas masalah double spending dengan menggunakan jaringan peer-to-peer,” sebagaimana tercantum dalam whitepaper-nya.

Di sinilah letak kuncinya. Masalah yang ingin dipecahkan bukan sekadar pembayaran online, melainkan ketergantungan pada trusted third party, meskipun pendekatannya tetap berfokus pada aspek teknis.

BACA JUGA:  Bitcoin ETF Kehilangan Arus Dana, Sinyal Pasar Sedang Rapuh?

Sekadar Sistem Pembayaran atau Sesuatu yang Lebih Besar?

Jika dibaca secara literal, Ferry tidak sepenuhnya salah. Whitepaper memang tidak memuat misi ideologis. Tidak ada deklarasi perang terhadap sistem fiat. Tidak ada slogan anti bank sentral.

Namun desain teknis yang menghilangkan lembaga keuangan sebagai perantara membawa implikasi yang lebih luas. Ketika sebuah sistem dapat berjalan tanpa otoritas pusat, ia secara otomatis menawarkan alternatif terhadap model yang sudah ada.

Bitcoin mungkin lahir sebagai solusi teknis. Tetapi solusi itu menyentuh inti sistem keuangan modern, yakni kepercayaan yang selama ini dipusatkan pada institusi yang biasanya berperan sebagai perantara.

Di situlah perdebatan ini berada. Apakah kita hanya membaca teks whitepaper BTC secara harfiah, atau juga melihat dampak struktural dari desainnya? Jawabannya tentu kembali pada sudut pandang masing-masing.

Beli Bitcoin Sejak 2012, Segini Nilai BTC Ferry Irwandi Saat Ini

Di Antara Fakta dan Tafsir

Perbincangan ini pada akhirnya bukan soal siapa yang benar atau salah. Ia lebih menyerupai dua sudut pandang yang berdiri di sisi berbeda dari dokumen yang sama.

BACA JUGA:  Sharpe Ratio Kasih Alarm, Bitcoin Masuk Fase Kritis Jelang Titik Balik?

Secara faktual, Bitcoin diperkenalkan sebagai sistem pembayaran peer-to-peer tanpa lembaga keuangan sebagai perantara. Hal itu tertulis jelas dalam whitepaper yang dirilis oleh Satoshi Nakamoto.

Namun secara konseptual, sistem tanpa trusted third party secara alami menantang dominasi model keuangan terpusat. Bukan karena ditulis sebagai manifesto, melainkan karena memang demikian cara kerjanya.

Bitcoin mungkin tidak lahir dengan slogan revolusi. Tetapi ia dibangun dengan arsitektur yang, cepat atau lambat, mengubah cara orang memandang uang, kepercayaan, dan peran institusi dalam sistem keuangan modern.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait