Ferry Irwandi kembali mencuri perhatian setelah membagikan cerita yang mengubah cara pandang banyak orang tentang awal mula Bitcoin di Indonesia. Di tengah narasi besar soal investor dan institusi, Ferry justru mengungkap fakta yang jauh lebih “membumi”.
Menurutnya, adopter awal Bitcoin di Indonesia adalah operator warnet, bukan kalangan kaya atau pelaku finansial. Hal ini menunjukkan kripto awalnya tumbuh dari komunitas kecil, bukan dari pusat kekuatan ekonomi.
Operator Warnet, Adopter BTC Pertama di Indonesia
Dalam podcast Daging Talk bersama Atta Halilintar pada Jumat (13/03/2026), Ferry Irwandi dengan lugas menyebut bahwa pemegang Bitcoin pertama di Indonesia berasal dari lingkungan warnet, tempat yang dulu menjadi pusat aktivitas digital anak muda.
“Kalau lu nanya di Indonesia, holder Bitcoin pertama itu bukan investor tapi OP warnet. Holder Bitcoin pertama di Indonesia itu bukan investor, bukan whale, bukan orang-orang yang punya duit,” ujarnya.
Fenomena ini nampaknya terjadi sekitar tahun 2011 hingga 2012, saat Bitcoin belum dikenal luas oleh masyarakat. Nilainya masih sangat kecil dan belum dianggap sebagai instrumen investasi seperti sekarang.
Warnet pada masa itu bukan sekadar tempat internetan saja, tetapi juga ruang interaksi komunitas. Dari sanalah banyak orang pertama kali mengenal Bitcoin, terutama melalui aktivitas gaming.
Bitcoin Dulu Sekadar Alat Tukar di Komunitas Gamer
Berbeda dengan sekarang yang dimanfaatkan trader maupun investor untuk mencari keuntungan, pada awal kemunculannya, Bitcoin hanya berfungsi sebagai alat tukar, bukan instrumen investasi.
Ferry menjelaskan bahwa pada masa itu operator warnet bahkan “wajib” menggunakan Bitcoin untuk kebutuhan transaksi tertentu di dunia game.
“Kami punya kewajiban untuk menukar itu dengan Dota 2 key waktu itu. Karena satu-satunya pembayaran Dota 2 key itu pakai Bitcoin,” jelasnya.
Karena sifatnya fungsional, Bitcoin tidak disimpan lama. Koin terus berputar untuk transaksi, lalu dilepas kembali. Belum ada konsep hold atau strategi investasi jangka panjang.
Transaksi juga sederhana dan banyak dilakukan lewat forum tanpa dukungan exchange seperti sekarang. Hal ini membuat banyak pengguna awal tidak menyadari potensi besar Bitcoin di masa depan.
Pernyataan ini sekaligus meluruskan asal-usul 400 Bitcoin yang dikaitkan dengan Ferry. Angka tersebut bukan kepemilikan saat ini, melainkan total akumulasi transaksi yang pernah dilakukannya.
Pada akhirnya, kisah operator warnet sebagai adopter awal Bitcoin di Indonesia menjadi refleksi penting. Dari sekadar alat tukar di komunitas, Bitcoin kini berkembang menjadi aset global bernilai tinggi.
Ferry Irwandi Ingatkan Pentingnya Literasi bagi Trader Kripto
Namun, mereka yang memahami sejak awal tidak selalu yang paling kaya, melainkan yang paling dekat dengan penggunaannya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



