Bitcoin memasuki Q4 2026 dengan momentum yang mulai berubah. Setelah reli tajam pada akhir Agustus, Fidelity menilai November berpotensi menjadi periode krusial untuk melihat apakah bear market benar-benar telah berakhir.
November 2026 Jadi Titik Krusial Bitcoin?
Berdasarkan laporan Fidelity Viewpoints yang dirilis Selasa (01/09/2026), pola historis Bitcoin kembali menjadi perhatian. Selama sebagian besar sejarahnya, titik dasar bear market dan puncak bull market cenderung terbentuk dalam rentang sekitar empat tahun.
Jika pola tersebut kembali berulang, November 2026 bisa menjadi periode penting. Alasannya, bear market sebelumnya mencetak titik terendah pada November 2022, sehingga siklus berikutnya secara teori mendekati waktunya.
Namun, Fidelity menekankan bahwa kalender tersebut bukan rumus pasti. Bitcoin mungkin saja sudah mencetak dasar pada Juli, tetapi peluang turun kembali menuju titik terendah baru pada November atau setelahnya masih terbuka.
Chris Kuiper, Wakil Presiden Riset Fidelity Digital Assets, menilai bahwa perspektif jangka panjang lebih relevan dibandingkan mencoba menebak bottom secara presisi dari pola siklus yang tidak pernah benar-benar identik.
“Poin yang lebih penting bagi investor adalah adopsi aset digital terjadi dalam gelombang, dan hal itu dapat mempertahankan siklus,” kata Kuiper, menyoroti hubungan antara penggunaan jaringan dan pergerakan pasar.
Jangan Panik! Ini 5 Cara Menghadapi Bear Market Crypto untuk Pemula
Menurutnya, perspektif serta periode kepemilikan jangka panjang biasanya lebih bermanfaat bagi investor. Artinya, November layak dipantau, tetapi bukan berarti pasar otomatis mencetak titik dasar pada bulan tersebut.
Volatilitas Berubah, Tekanan Jual Kehabisan Tenaga?
Di luar teori siklus, Fidelity juga melihat volatilitas sebagai sinyal yang layak diperhatikan. Bear market Bitcoin sebelumnya kerap berakhir setelah fase volatilitas rendah, kemudian disusul ekspansi harga dengan pergerakan yang jauh lebih agresif.
Dari Juni hingga pertengahan Agustus, pasar kripto bergerak relatif tenang. Kuiper menyebut kondisi itu sebagai periode ketika tekanan jual tampak mulai kehabisan tenaga, sementara valuasi aset digital berada di area rendah secara historis.
Situasi berubah drastis pada akhir Agustus. Bitcoin melonjak lebih dari 25 persen hanya dalam pekan ketiga bulan tersebut, sementara Ethereum naik 34,1 persen dan Solana menguat sekitar 28 persen.
Meski belum cukup memastikan bear market crypto berakhir, pola tersebut menyerupai fase transisi yang pernah muncul sebelumnya. Menariknya, sejumlah kabar negatif juga gagal menyeret harga kembali turun lebih dalam.
“Peristiwa terbaru yang biasanya bisa menjadi katalis bear market, seperti insiden keamanan hardware wallet atau mandeknya CLARITY Act, ternyata tidak mendorong harga lebih rendah,” ujar Kuiper.
Menurutnya, respons tersebut memperkuat kemungkinan bahwa kripto berada dekat area dasar dan kini menunggu katalis positif. Regulasi ramah kripto, kebijakan moneter, use case baru, serta adopsi institusi ikut menjadi perhatian.
Adopsi Kripto Mulai Mengejar Harga
Sinyal lain datang dari fundamental jaringan. Ketika harga BTC tertekan dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas dan adopsi justru terus tumbuh, membuat perkembangan ekosistem tidak sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar.
Pada Juli, Bitwise melaporkan volume transaksi stablecoin telah mencapai 2,3 kali volume Visa. MetaMask juga mencatat pasar real-world assets (RWA) tumbuh lebih cepat pada 2026 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Fidelity melihat kondisi tersebut sebagai periode ketika adopsi dan harga sempat bergerak tidak searah. Namun, reli akhir Agustus membuka kemungkinan keduanya mulai kembali terhubung dan bergerak lebih selaras.
“Fidelity Digital Assets memandang metrik adopsi sebagai ‘fundamental’ jaringan,” kata Kuiper. Menurutnya, ketahanan metrik tersebut menunjukkan nilai dasar jaringan tetap terjaga, meskipun pergerakan harga belum selalu mencerminkannya.
Pola serupa pernah terlihat pada bear market 2021-2022. Saat itu, adopsi tetap berkembang ketika harga Bitcoin dan altcoin melemah, sebelum keduanya kembali bergerak lebih sejalan ketika pasar mulai pulih.
Apa Itu Clarity ACT? Ini Pengertian dan Dampaknya ke Investor Kripto!
Selain adopsi, perkembangan regulasi juga menjadi katalis penting menuju akhir tahun. Pasar menunggu kelanjutan CLARITY Act di AS, yang telah lolos Dewan Perwakilan Rakyat dan masih dipertimbangkan oleh Senat.
SEC juga mengusulkan Regulation Crypto Assets, kerangka baru terkait pengecualian registrasi sekuritas bagi sejumlah penawaran aset kripto tahap awal. Perkembangan positif di sisi kebijakan dapat memperkuat sentimen pasar crypto pada Q4.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


