CEO Triv, Gabriel Rey, menegaskan bahwa kasus Timothy Ronald tidak akan menghancurkan industri kripto Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas komentar Gema Goeryadi dalam sebuah podcast yang menyebut bahwa industri kripto nasional bisa “hancur” jika Timothy dipenjara. Menurut Gabriel, anggapan tersebut tidak berdasar dan tidak mencerminkan kondisi nyata ekosistem kripto di Tanah Air.
“Saya sangat tidak setuju jika satu industri kripto yang kita bangun bertahun-tahun dikaitkan ke satu orang, seakan-akan bisa runtuh semuanya,” ujar Gabriel Rey melalui akun media sosialnya.
Ia menilai industri kripto memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar bergantung pada figur tertentu. Aktivitas perdagangan, jumlah investor, serta komunitas kripto di Indonesia tetap berjalan normal, sebelum dan sesudah kasus Timothy Ronald ramai diperbincangkan.
Pernyataan Gabriel muncul setelah Gema Goeryadi menyampaikan pandangannya dalam sebuah podcast bahwa potensi hukuman terhadap Timothy Ronald dapat berdampak buruk bagi industri kripto Indonesia. Ucapan tersebut memicu perdebatan di kalangan pelaku industri, komunitas kripto dan warganet.
Menurut Gabriel, dampak yang ditimbulkan oleh kasus lokal seperti ini tidak bisa disamakan dengan peristiwa besar di tingkat global. Ia mencontohkan runtuhnya bursa kripto FTX, yang sempat mengguncang pasar dunia, menurunkan harga Bitcoin, serta menggerus kepercayaan investor.
“FTX yang segede itu saja collapse, kepercayaan ke exchange turun, harga Bitcoin drop, transaksi kripto turun drastis, tapi market tetap recover,” ungkap Gabriel.
Ia menambahkan, faktor global seperti kebijakan suku bunga AS atau pergerakan harga Bitcoin justru jauh lebih berpengaruh terhadap minat investor dibandingkan isu lokal. Jika sentimen global membaik dan harga Bitcoin naik, investor ritel akan kembali masuk ke pasar kripto seperti sebelumnya.
Aktivitas Transaksi Tetap Stabil di Tengah Kasus Timothy Ronald
Gabriel Rey juga menegaskan bahwa sejak kasus Timothy Ronald menjadi viral, aktivitas transaksi di berbagai bursa kripto lokal tidak menunjukkan penurunan signifikan. Menurutnya, komunitas kripto di Indonesia tetap aktif dan ekosistem berjalan seperti biasa.
“Sejak kasus ini viral, transaksi kripto di semua exchange lokal tetap ramai. Artinya, tidak ada dampak langsung ke industri,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Setya Mickala, salah satu OG Bitcoin Indonesia. Ia menilai industri kripto nasional sudah berkembang pesat sejak lama, bahkan sebelum munculnya figur seperti Timothy Ronald. Dengan atau tanpa Timothy, aktivitas kripto tetap berjalan.
Gabriel juga menyoroti bahwa yang justru berpotensi terdampak dari kasus Timothy Ronald adalah industri penjualan kelas atau pelatihan berbayar, bukan industri kripto secara keseluruhan. Ia menilai masyarakat kini memiliki akses luas terhadap edukasi kripto gratis melalui berbagai platform digital.
“Sekarang edukasi kripto gratis sudah bertebaran di mana-mana. Kalau ga males tinggal belajar aja,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah warganet mengkhawatirkan dampak kasus ini terhadap persepsi masyarakat umum. Mereka menilai pemberitaan tentang Timothy Ronald berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap kripto, terutama bagi masyarakat yang masih skeptis.
Namun, Gabriel menegaskan bahwa sikap kritis terhadap kripto sudah ada sejak lama dan tidak berubah meski industri terus berkembang. Ia mengingatkan bahwa industri kripto telah memberikan kontribusi signifikan kepada negara, termasuk dalam bentuk pajak.
“Walaupun industri kripto sudah menyumbang pajak lebih dari Rp1 triliun ke pemerintah, orang yang nyinyir tetap ada,” ungkap Gabriel dalam postingan berbeda.
Jumlah Investor Tetap Tinggi, Sentimen Global Jadi Penentu
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai sekitar 20 juta orang. Menurut Gabriel Rey, mayoritas investor tersebut memahami risiko dan karakter industri kripto, serta tidak terpengaruh oleh kasus Timothy Ronald.
Ia menilai bahwa arah industri kripto Indonesia lebih dipengaruhi oleh kondisi global, seperti pergerakan harga Bitcoin, kebijakan moneter AS dan sentimen pasar internasional. Ketika bull run kembali terjadi, minat investor ritel diperkirakan akan meningkat, terlepas dari isu lokal yang sedang berlangsung.
Gabriel kembali menegaskan bahwa kasus Timothy Ronald tidak akan menentukan masa depan industri kripto nasional. Menurutnya, ekosistem kripto dibangun oleh komunitas, pelaku usaha, regulator, serta jutaan pengguna, bukan oleh satu individu.
“Apapun hasil dari kasus Timothy nanti, itu tidak akan berpengaruh ke industri kripto lokal,” ujarnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



