Laporan terbaru dari lembaga riset kripto terkemuka, Galaxy Research, mengungkapkan bahwa 72 dari 100 aset kripto terbesar di dunia masih berada lebih dari 50 persen di bawah harga tertinggi sepanjang masa (ATH) mereka, bikin investornya keringat dingin.
Temuan ini menjadi sorotan di komunitas kripto global karena menunjukkan bahwa mayoritas altcoin belum benar-benar pulih dari fase bear market beberapa tahun terakhir.
Dalam laporan tersebut, Filecoin (FIL), Internet Computer (ICP), dan The Graph (GRT) menjadi tiga token dengan penurunan paling dalam di antara aset utama.
Sementara itu, proyek-proyek besar lain seperti Polkadot (DOT), Avalanche (AVAX), dan Cardano (ADA) juga mencatat koreksi signifikan meski tak sedalam tiga aset kripto sebelumnya. Temuan ini menegaskan bahwa tren penurunan masih membayangi sebagian besar aset di luar kategori blue chip seperti Bitcoin dan Ethereum.
Galaxy Research mencatat bahwa hanya segelintir aset kripto yang mampu bertahan dengan penurunan lebih ringan, seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB) dan LEO Token (LEO).
Keempatnya dianggap memiliki fundamental kuat serta tingkat kepercayaan pasar yang lebih tinggi dibanding altcoin lain.
“Perbedaan performa antara aset utama dan altcoin menjadi sinyal kuat adanya pergeseran minat investor menuju aset yang dianggap lebih aman,” tulis laporan tersebut.
Investor Beralih ke Aset Aman, Altcoin Masih Butuh Katalis
Fenomena ini terjadi di tengah kondisi pasar yang masih belum stabil. Banyak analis menilai bahwa perbedaan kinerja antara kripto besar dan altcoin merupakan bagian dari pola klasik dalam siklus pasar digital.
Dalam fase ketidakpastian seperti saat ini, investor cenderung melakukan apa yang disebut sebagai “flight to quality,” yakni mengalihkan modal ke aset dengan reputasi dan fundamental yang lebih kuat.
Menurut analisis Galaxy Research, kondisi ini bisa memiliki dua sisi. Di satu sisi, altcoin yang telah jatuh dalam bisa menjadi peluang bagi investor baru yang mencari harga “diskon.”
Di sisi lain, penurunan ekstrem juga dapat menjadi sinyal bahwa proyek-proyek tersebut masih kesulitan membuktikan utilitas dan daya tahan mereka di tengah tekanan pasar. Dengan kata lain, pasar sedang memilah mana aset yang sekadar hype dan mana yang memiliki nilai jangka panjang.
Meski demikian, beberapa analis percaya bahwa peluang rebound tetap terbuka, terutama bila ada katalis besar seperti peningkatan adopsi blockchain, kemajuan teknologi, atau regulasi yang mendukung inovasi aset digital.
Namun, laporan Galaxy Research menegaskan bahwa tanpa katalis kuat, sebagian besar altcoin kemungkinan akan tetap tertahan jauh dari level puncaknya.
Di sisi lain, aset seperti Bitcoin dan Ethereum dinilai masih menjadi acuan utama yang membentuk sentimen pasar kripto secara keseluruhan. Keduanya menunjukkan ketahanan yang lebih baik dan masih menjadi pilihan utama investor institusional maupun ritel yang ingin mengurangi risiko.
Secara keseluruhan, laporan Galaxy Research menyoroti kenyataan bahwa pemulihan pasar kripto belum terjadi secara merata. Sebagian besar aset digital masih berjuang bangkit dari kejatuhan, sementara hanya segelintir yang benar-benar menunjukkan kekuatan fundamental untuk kembali ke lintasan naik.
Bagi investor pemula, kondisi ini menjadi pengingat penting bahwa volatilitas kripto tetap tinggi dan strategi jangka panjang dengan riset mendalam masih menjadi kunci utama dalam menavigasi dunia aset digital yang penuh dinamika ini. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



