Robinhood Chain saat ini jauh lebih murah dibanding Ethereum untuk urusan gas fee, tapi angka itu belum sepenuhnya mencerminkan biaya yang bakal kamu tanggung dalam jangka panjang.
Kalau kamu belakangan sering transaksi di jaringan blockchain, kamu pasti sadar biaya gas bisa jadi faktor penentu apakah sebuah transaksi terasa ringan atau malah bikin dompet meringis.
Nah, sejak Robinhood Chain resmi meluncurkan mainnet publiknya pada 1 Juli 2026, banyak yang mulai membandingkan biayanya dengan Ethereum, jaringan yang selama ini jadi tulang punggung ekosistem Web3.
Artikel ini akan mengupas perbedaan Robinhood Chain dengan Ethereum dari sisi gas fee, mulai dari cara kerja masing-masing jaringan sampai angka riil yang bisa kamu jadikan patokan.
BACA JUGA: Ini Perbedaan Robinhood Chain dengan Ethereum yang Harus Kamu Tahu!
Apa Itu Gas Fee?
Gas fee adalah biaya yang kamu bayar setiap kali melakukan transaksi di blockchain, entah itu transfer token, swap di DEX, atau interaksi dengan smart contract. Biaya ini dibayarkan kepada validator atau sequencer yang memproses dan mengamankan transaksimu. Semakin rumit transaksi yang kamu lakukan, semakin besar sumber daya komputasi yang dipakai, dan semakin mahal pula gas fee yang harus kamu bayar.
Memahami gas fee penting buat kamu, terutama kalau kamu masih pemula, karena biaya ini bisa memengaruhi keputusan trading. Di jaringan dengan gas fee mahal, transaksi bernilai kecil bisa jadi tidak ekonomis karena biayanya menggerus keuntungan. Di sinilah letak salah satu perbedaan Robinhood Chain dengan Ethereum yang paling terasa oleh penggunanya sehari-hari.
Bagaimana Komponen Gas Fee Ethereum Bekerja?
Ethereum menggunakan mekanisme yang disebut EIP-1559, yang mulai berlaku sejak upgrade London pada Agustus 2021. Sebelum aturan ini ada, pengguna harus menebak-nebak harga gas yang pantas lewat sistem lelang, yang sering bikin biaya tidak terprediksi.
Melansir laman Dwellir, mekanisme baru ini memecah biaya transaksi menjadi dua komponen utama, yaitu base fee dan priority fee.
Base fee ditentukan secara algoritmik oleh protokol berdasarkan tingkat kepadatan jaringan, dan nilainya otomatis naik atau turun tergantung seberapa penuh blok sebelumnya.
Bagian biaya ini kemudian dibakar alias dihapus dari peredaran, bukan diberikan kepada validator. Sementara itu, priority fee atau tip adalah biaya tambahan yang kamu tentukan sendiri untuk mendorong validator memasukkan transaksimu lebih cepat ke dalam blok, terutama saat jaringan sedang ramai.
Karena base fee mengikuti permintaan ruang blok yang sangat kompetitif di Ethereum mainnet, gas fee di jaringan ini bisa melonjak tajam saat aktivitas tinggi, misalnya ketika ada mint NFT besar-besaran atau lonjakan volume DeFi.
Berdasarkan data dari Token Terminal, rata-rata biaya transaksi Ethereum saat ini berada di kisaran US$0,1148, jauh lebih rendah dibanding puncaknya yang pernah menyentuh hampir 2 dolar AS dalam setahun terakhir, namun tetap fluktuatif mengikuti kepadatan jaringan.

Bagaimana Gas Fee Robinhood Chain Bekerja?
Robinhood Chain dibangun sebagai jaringan Ethereum Layer-2 menggunakan teknologi Arbitrum Orbit, tepatnya kerangka kerja Arbitrum Dedicated Blockchains. Melansir laman dokumentasi resmi Robinhood Chain, jaringan ini memakai ETH sebagai token gas asli, sehingga tetap terhubung dengan ekosistem Ethereum meskipun eksekusi transaksinya berjalan di luar mainnet.
Sebagai jaringan Layer-2, Robinhood Chain memproses transaksi di luar Ethereum mainnet lalu mengirim kembali data transaksi tersebut ke Ethereum untuk keamanan akhir.
Melansir laman Splitshot, biaya gas di Robinhood Chain bisa jadi murah karena tiga alasan struktural, yaitu eksekusi yang tidak lagi bersaing memperebutkan ruang blok Ethereum mainnet, biaya data yang dikompresi dan dibagi rata ke seluruh transaksi dalam satu batch, serta kapasitas blok yang sangat besar berkat waktu blok sekitar 100 milidetik. Kombinasi ini membuat lelang biaya yang biasa memicu lonjakan gas di jaringan padat jarang terjadi di Robinhood Chain.
Satu hal unik lain adalah model sequencer Robinhood Chain yang bersifat first-come first-served. Artinya, urutan transaksi murni ditentukan oleh waktu kedatangan ke sequencer, bukan oleh siapa yang berani membayar gas lebih tinggi. Model ini berbeda dengan Ethereum, di mana priority fee yang lebih besar bisa mempercepat konfirmasi transaksimu.
BACA JUGAÂ 5 Wallet Robinhood Chain Terbaik untuk Trading di 2026!
Perbedaan Gas Fee Robinhood Chain dengan Ethereum
Kalau bicara angka konkret, perbedaan Robinhood Chain dengan Ethereum cukup mencolok. Melansir laman Splitshot, sebuah transaksi swap nyata di Robinhood Chain pada 15 Juli 2026 hanya menghabiskan biaya sekitar 0,0000092 ETH, atau setara kurang dari 2 sen dolar AS saat itu.
Data dari Token Terminal juga menunjukkan rata-rata biaya transaksi di Robinhood Chain berada di angka US$0,0384, jauh di bawah rata-rata Ethereum yang berada di kisaran 0,1148 dolar AS.

Namun kamu perlu tahu ada satu variabel penting yang membuat perbandingan ini belum sepenuhnya adil. Melansir laman Crypto.news, Robinhood saat ini menerapkan subsidi gas selama 90 hari sejak peluncuran mainnet, yang membuat sebagian besar biaya transaksi pengguna ditanggung oleh Robinhood sendiri.
Subsidi ini dijadwalkan berakhir pada akhir September 2026. Artinya, biaya yang benar-benar kamu rasakan sebagai pengguna saat ini masih lebih rendah dari angka protokol yang tercatat di atas kertas, dan gambaran biaya yang lebih jujur baru akan terlihat begitu subsidi ini dicabut pada Oktober 2026.
Tren kenaikan grafik biaya transaksi Robinhood Chain belakangan ini juga sejalan dengan lonjakan aktivitas jaringan, termasuk gelombang trading memecoin dan volume swap yang terus bertambah sejak awal Juli 2026.
Semakin ramai jaringan, semakin besar pula gas yang terpakai per transaksi, meski secara absolut angkanya masih jauh lebih kecil dibanding Ethereum mainnet.
Kenapa Gas Fee Murah Bisa Mengubah Cara Kamu Trading?
Di Ethereum mainnet, gas fee sering jadi pertimbangan serius sebelum kamu memutuskan bertransaksi, apalagi untuk nominal kecil yang bisa habis dimakan biaya.
Sebaliknya, di jaringan dengan gas fee semurah Robinhood Chain, perhatianmu bisa bergeser ke faktor lain yang justru lebih berpengaruh terhadap hasil trading, seperti price impact dan slippage yang besarnya tergantung ukuran transaksi dibanding kedalaman likuiditas pool, bukan lagi soal biaya jaringan.
Gas yang murah juga membuat kebiasaan baik jadi lebih terjangkau, misalnya melakukan transfer percobaan dalam jumlah kecil sebelum transaksi besar, atau memecah satu posisi jadi beberapa kali entry.
Di Ethereum mainnet, kebiasaan semacam ini punya harga yang cukup nyata, sementara di jaringan Layer-2 seperti Robinhood Chain biayanya nyaris tidak terasa.
Jadi, Mana Yang Lebih Murah Buat Kamu?
Untuk saat ini, Robinhood Chain jelas unggul dari sisi biaya transaksi dibanding Ethereum mainnet, baik karena struktur Layer-2 yang memang dirancang hemat biaya maupun karena subsidi gas yang masih berjalan hingga akhir September 2026.
Tapi perbedaan Robinhood Chain dengan Ethereum ini perlu kamu lihat secara proporsional, sebab Ethereum tetap menjadi lapisan keamanan yang mendasari Robinhood Chain itu sendiri, dan biaya yang lebih tinggi di Ethereum juga mencerminkan tingkat desentralisasi serta keamanan yang sudah teruji bertahun-tahun. Begitu subsidi Robinhood Chain berakhir pada Oktober 2026, barulah kamu bisa melihat perbandingan biaya yang benar-benar setara antara kedua jaringan ini.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


