Tekanan jual XRP kembali meningkat tajam setelah sejumlah indikator on-chain dan derivatif di Binance menunjukkan pelemahan struktur pasar secara bersamaan.
Data terbaru memperlihatkan bahwa likuidasi posisi long XRP melonjak hingga sekitar US$4,5 juta, menjadi level tertinggi sejak akhir Februari 2026.

Analis on-chain Amr Taha di CryptoQuant menyebut tekanan yang terjadi kali ini tidak hanya terlihat dari sisi harga, tetapi juga dikonfirmasi oleh penurunan open interest, melemahnya aktivitas spot maupun futures, hingga meningkatnya aksi jual agresif di Binance.
“Posisi long tampaknya dipaksa keluar pasar setelah beberapa minggu aliran Binance melemah,” ungkap Amr Taha.
Tekanan Spot dan Futures XRP Melemah Bersamaan
Open interest XRP di Binance turun dari sekitar US$247,5 juta sejak 14 April menjadi mendekati US$233 juta. Penurunan tersebut menandakan berkurangnya eksposur leverage trader di tengah tekanan pasar yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Di saat yang sama, cumulative volume delta (CVD) perpetual Binance juga mengalami penurunan cukup dalam. Nilainya tercatat bergerak dari sekitar minus US$474 juta menjadi minus US$574 juta, atau memburuk sekitar US$100 juta tambahan. Kondisi ini menunjukkan seller agresif masih mendominasi pasar derivatif XRP.
Tekanan jual ternyata juga merambah pasar spot. Spot CVD di Binance dilaporkan turun lebih dari US$50 juta selama periode yang sama, menandakan pelemahan tidak hanya berasal dari futures tetapi juga aktivitas jual beli langsung di pasar spot XRP.
Lonjakan likuidasi long menjadi sinyal tekanan terbesar dalam fase ini. Nilai likuidasi yang mencapai sekitar US$4,5 juta bahkan melampaui lonjakan pada Februari lalu yang berada di kisaran US$4,3 juta ketika XRP diperdagangkan di dekat area US$1,34.
Sinyal Teknikal XRP Mulai Memburuk
Di tengah tekanan derivatif tersebut, kondisi teknikal XRP juga mulai memunculkan sinyal pelemahan baru. Analis teknikal ChartNerd menilai indikator Stochastic RSI mingguan XRP baru saja membentuk death cross untuk kali ketiga sejak ATH Juli 2025.

Menurutnya, dua death cross sebelumnya sempat memicu koreksi lebih dalam dan bertepatan dengan relief rally menuju death cross EMA 20 dan EMA 50 pada Januari 2026 yang akhirnya membuka penurunan menuju area US$1,11.
Kini, harga XRP disebut kembali menguji area EMA mingguan tersebut sebagai resistance untuk pertama kalinya sejak fase koreksi sebelumnya.
ChartNerd menilai kegagalan XRP bertahan di area weekly EMA 20 atau weekly EMA 50 di sekitar US$1,80 berpotensi membuka tekanan turun lanjutan pada paruh kedua tahun ini. Sebaliknya, skenario bearish tersebut baru dianggap batal apabila XRP mampu merebut kembali kedua EMA tersebut dan mengubahnya menjadi area support baru.
Meski begitu, aktivitas jaringan XRP Ledger (XRPL) justru menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Data dari Santiment menunjukkan lonjakan harga XRP di atas US$1,54 untuk kali pertama dalam dua bulan terakhir sempat mendorong aktivitas on-chain ke level tertinggi sejak Maret 2026.

Santiment mencatat jumlah alamat aktif di XRP Ledger mencapai 48.453 alamat dalam 24 jam, tertinggi sejak 30 Maret. Selain itu, network growth juga melonjak menjadi 3.317 alamat baru, menjadi level tertinggi sejak 19 Maret 2026.
XRPL Mulai Digunakan untuk Settlement Obligasi
Di tengah tekanan harga jangka pendek, utilitas XRPL justru mulai berkembang ke sektor tokenisasi aset dunia nyata. CEO Brad Garlinghouse sempat memproyeksikan bahwa XRP Ledger akan menjadi salah satu infrastruktur utama untuk settlement obligasi on-chain di masa depan.
Proyeksi tersebut mulai terlihat nyata setelah Ripple dilaporkan terlibat dalam proses settlement obligasi pemerintah yang ditokenisasi di Korea Selatan melalui kerja sama dengan Kyobo Life Insurance.
Dalam implementasi tersebut, Ripple disebut memanfaatkan XRPL dan layanan Ripple Custody untuk membantu penerbitan, penyimpanan, hingga penyelesaian transaksi obligasi digital secara real-time.
Brad Garlinghouse sebelumnya juga menilai sistem settlement obligasi tradisional masih bergantung pada banyak perantara dan membutuhkan waktu penyelesaian berhari-hari. Menurutnya, blockchain seperti XRP Ledger mampu memangkas proses settlement menjadi hitungan detik dengan biaya jauh lebih rendah.
Narasi tersebut semakin menarik perhatian pasar karena nilai pasar obligasi global diperkirakan mencapai sekitar US$140 triliun.
Seiring meningkatnya tren tokenisasi aset dunia nyata (RWA) di industri blockchain, XRPL kini mulai diposisikan tidak hanya untuk transfer lintas negara, tetapi juga sebagai infrastruktur settlement berbagai instrumen fixed income digital, termasuk surat utang negara dan obligasi tokenisasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


