Ripple mulai menyiapkan XRP Ledger menghadapi era komputer kuantum melalui kolaborasi bersama Project Eleven.
Dalam pengumuman resminya pada Selasa (19/5/2026), XRP Ledger disebut telah memiliki fondasi teknis yang memungkinkan transisi menuju quantum-resistant cryptography tanpa mengubah alamat wallet XRP atau r-address yang selama ini digunakan pengguna dan institusi.
Langkah tersebut dilakukan melalui audit menyeluruh terhadap jaringan, wallet, hingga validator layer sebelum sistem keamanan baru diterapkan secara bertahap.
Kolaborasi itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran industri blockchain terhadap ancaman “harvest now, decrypt later,” yakni skenario ketika data kriptografi blockchain dikumpulkan sejak sekarang lalu baru dipecahkan di masa depan saat kemampuan komputer kuantum semakin berkembang.
Ripple menjelaskan bahwa XRP Ledger menggunakan native account-based architecture dengan fitur built-in key rotation, sehingga pengguna dapat berpindah ke sistem tanda tangan tahan-kuantum tanpa harus mengganti identitas alamat wallet yang sudah digunakan pelanggan mereka selama bertahun-tahun.
Audit Penuh Disiapkan Sebelum Sistem Baru Diluncurkan
Sebagai bagian dari proyek tersebut, Project Eleven akan melakukan audit penuh terhadap seluruh infrastruktur XRP Ledger, termasuk keamanan jaringan inti, wallet, hingga validator.
Ripple juga mulai mengembangkan prototype custody wallet berbasis post-quantum cryptography serta melakukan pengujian validator-level security untuk memastikan kompatibilitas jaringan tetap terjaga selama masa transisi.
Dalam roadmap yang dipublikasikan, Ripple menargetkan implementasi penuh post-quantum security pada XRP Ledger selesai sebelum 2028.
Sebelum fase itu tercapai, jaringan akan menggunakan model hybrid, di mana sistem quantum-resistant signatures berjalan berdampingan dengan mekanisme lama agar pengembang dan institusi dapat melakukan penyesuaian secara bertahap tanpa mengganggu aktivitas jaringan utama.
Perkembangan tersebut membuat XRP Ledger mulai dipandang sebagai salah satu blockchain besar yang paling agresif mempersiapkan diri menghadapi ancaman komputer kuantum.
Di sisi lain, perhatian pasar terhadap XRP juga kembali meningkat setelah sejumlah analis melihat pola teknikal dan on-chain yang mulai menyerupai fase awal reli besar sebelumnya.
Pola Lama Harga XRP Kembali Jadi Sorotan Pasar
Analis teknikal ChartNerd menilai XRP berpotensi kembali memasuki fase penting menjelang 2026. Ia menyebut sinyal dari Gaussian Channel yang saat ini muncul hanya pernah terjadi tiga kali sebelumnya, yakni pada 2017, 2020 dan 2022. Dalam setiap kemunculan sinyal tersebut, XRP disebut selalu berhasil mencetak level harga baru yang lebih tinggi.

Sementara itu, analis on-chain Amr Taha di CryptoQuant melihat XRP kembali menunjukkan pola arus transaksi Binance yang mirip dengan kondisi pada 13 Februari 2026.
Berdasarkan data metrik 7-day Binance Deposit/Withdrawal Transactions, transaksi withdrawal atau penarikan XRP di Binance kini mencapai 51,5 persen, sedangkan deposit berada di level 48,4 persen.

Struktur tersebut menunjukkan aktivitas penarikan XRP kembali lebih dominan dibanding setoran ke bursa.
Kondisi itu menjadi perhatian karena pola serupa sebelumnya muncul ketika XRP diperdagangkan di area sekitar US$1,38 pada pertengahan Februari lalu. Menariknya, harga XRP saat ini kembali bergerak di zona yang hampir identik, sehingga struktur arus transaksi tersebut dinilai cukup penting dalam membaca perilaku pasar berikutnya.
Dominasi Withdrawal Dinilai Kurangi Tekanan Jual
Dalam analisinya, Amr Taha menjelaskan bahwa dominasi deposit biasanya menunjukkan lebih banyak aset masuk ke bursa yang kerap diasosiasikan dengan potensi aksi jual.
Sebaliknya, dominasi withdrawal sering dianggap sebagai indikasi berkurangnya pasokan XRP yang tersedia langsung di bursa karena investor mulai memindahkan aset mereka ke luar platform untuk disimpan.
“Dominasi withdrawal yang kembali muncul di area harga yang sama dapat menjadi petunjuk bahwa sebagian pelaku pasar mulai mengurangi tekanan pasokan jangka pendek di Binance,” ungkap Amr Taha.
Walau selisih antara withdrawal dan deposit belum tergolong ekstrem, Amr Taha menilai arah pergerakan data tersebut cukup signifikan secara struktural.
Setup seperti ini juga sering dipantau trader sebagai sinyal awal perubahan perilaku pasar karena ketika lebih banyak XRP keluar dibanding masuk ke bursa, potensi tekanan jual instan di pasar spot biasanya ikut menurun.
Situasi itu membuat pola transaksi XRP saat ini kembali menjadi perhatian pelaku pasar di tengah persiapan besar XRP Ledger menghadapi era kuantum.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


