Goldman Sachs menyatakan bahwa pasar kripto saat ini berpotensi mendekati titik terendah siklus setelah mengalami tekanan penurunan selama beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan laporan CNBC pada Kamis (26/3/2026), bank investasi tersebut menilai bahwa besaran penurunan harga yang terjadi saat ini telah mendekati rata-rata historis pada fase koreksi sebelumnya, sehingga membuka peluang bagi terbentuknya dasar harga atau bottom.
Menurut Goldman Sachs, penurunan yang terjadi di pasar kripto tidak hanya tercermin pada aset digital, tetapi juga pada saham-saham terkait industri ini. Sejak mencapai puncaknya pada Oktober 2025, saham perusahaan kripto tercatat telah turun sekitar 46 persen.
Kondisi ini dinilai membuat valuasi menjadi lebih menarik bagi investor, terutama untuk perusahaan yang berperan sebagai infrastruktur utama dalam ekosistem kripto.
Goldman Sachs secara khusus menyoroti tiga perusahaan kripto sebagai pilihan utama, yakni Robinhood, Figure Technologies dan Coinbase.
Ketiganya dianggap memiliki posisi strategis dalam mendukung aktivitas di pasar kripto, baik melalui layanan perdagangan, pembiayaan berbasis blockchain, maupun penyediaan infrastruktur aset digital.
“Penurunan harga yang terjadi telah mendekati pola historis, sehingga pasar kemungkinan sedang berada dalam fase pembentukan dasar,” tulis Goldman Sachs dalam laporannya.
Valuasi Menarik, Namun Aktivitas Masih Lemah
Meski demikian, Goldman Sachs mengingatkan bahwa kondisi pasar kripto belum sepenuhnya stabil. Salah satu indikator utama yang menjadi perhatian adalah potensi penurunan volume perdagangan dalam jangka pendek. Bank tersebut menilai bahwa aktivitas transaksi di pasar masih dapat melemah sebelum akhirnya pulih secara bertahap.
Penurunan volume ini dinilai krusial karena berdampak langsung terhadap kinerja perusahaan-perusahaan kripto. Sebagian besar pendapatan sektor ini sangat bergantung pada aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, melemahnya volume berpotensi menekan kinerja keuangan, meskipun harga aset mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Dalam proyeksinya, Goldman Sachs memperkirakan bahwa jika tren penurunan volume berlanjut, maka pendapatan perusahaan kripto pada 2026 dapat turun sekitar 2 persen, sementara laba berpotensi tertekan hingga 4 persen.
Kondisi ini mencerminkan bahwa fase pemulihan di pasar kripto tidak akan terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang dipengaruhi oleh dinamika likuiditas dan partisipasi pasar.
Fase Bottoming dan Potensi Pemulihan Bertahap
Lebih lanjut, Goldman Sachs menjelaskan bahwa dalam siklus sebelumnya, periode volume rendah biasanya berlangsung sekitar tiga bulan sebelum terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar kripto saat ini kemungkinan sedang memasuki fase “bottoming process” atau pembentukan dasar, di mana tekanan jual mulai mereda namun belum sepenuhnya digantikan oleh momentum beli yang kuat.
Fase ini ditandai dengan pergerakan harga yang relatif stabil namun cenderung rapuh. Investor masih bersikap hati-hati, menunggu sinyal yang lebih jelas terkait arah pasar selanjutnya.
Dalam konteks ini, pemulihan yang lebih solid diperkirakan baru akan terjadi setelah aktivitas perdagangan kembali meningkat dan likuiditas pasar membaik.
Dengan demikian, Goldman Sachs melihat bahwa meskipun risiko jangka pendek masih ada, kondisi saat ini dapat menjadi titik awal bagi perubahan tren di pasar kripto. Namun, keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada kembalinya volume perdagangan dan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



