Cara Grid Trading Kripto Biar Tetap Cuan Saat Crypto Sideways

Pasar kripto tidak selalu bergerak naik atau turun dengan arah yang jelas. Ada kalanya harga justru bolak-balik di area yang sama selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Bagi trader, kondisi sideways seperti ini terasa membosankan karena momentum besar sulit muncul. Namun, justru di fase seperti ini ada strategi yang bisa dimanfaatkan, salah satunya grid trading.

Alih-alih menebak apakah harga aset kripto akan naik atau turun, strategi trading kripto dengan metode grid mencoba mengambil keuntungan dari pergerakan kecil yang berulang di dalam rentang tertentu.

Apa Itu Grid Trading Kripto?

Grid trading adalah strategi yang membagi area harga menjadi beberapa level beli dan jual. Jadi, trader tidak hanya masuk di satu harga, tetapi menyiapkan sejumlah order pada level yang berbeda.

Cara kerjanya sederhana. Bayangkan harga bergerak seperti naik-turun tangga. Ketika turun satu anak tangga, sistem membeli. Saat harga naik lagi ke anak tangga berikutnya, aset dijual untuk mengambil selisihnya.

Misalnya harga Bitcoin sedang berada di angka US$60.000 dan diperkirakan bergerak di antara US$58.000 hingga US$62.000.

Cara Kerja Grid Trading Kripto
Cara Kerja Grid Trading Kripto

Rentang tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa grid. Ketika harga turun menyentuh level tertentu, order beli akan aktif. Jika harga memantul ke grid di atasnya, sistem kembali menjual.

Siklus itu bisa terus berulang selama harga bergerak di dalam area yang ditentukan. Karena itu, pasar sideways dengan volatilitas yang cukup aktif justru bisa menjadi kondisi ideal untuk grid trading.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Kelebihan dan Kekurangan Grid Trading

Grid trading saat trading kripto memang terlihat sederhana, tetapi tetap punya sisi menarik sekaligus risiko yang perlu dipahami sebelum digunakan.

BACA JUGA:  Ini Perbedaan Robinhood Chain dengan Ethereum yang Harus Kamu Tahu!

Kelebihan Grid Trading

Salah satu daya tarik grid trading adalah trader tidak perlu terlalu pusing mencari satu titik entry yang dianggap sempurna. Modal bisa dibagi ke beberapa level sehingga posisi masuk secara bertahap.

Strategi ini juga banyak digunakan melalui trading bot. Setelah range dan jumlah grid ditentukan, sistem bisa menjalankan order beli-jual secara otomatis tanpa harus terus menatap chart.

Grid trading juga cukup cocok ketika pasar sideways. Selama harga terus bergerak naik-turun di dalam range, sistem masih punya peluang untuk menjalankan siklus beli rendah dan jual lebih tinggi.

Kekurangan Grid Trading

Masalah biasanya muncul ketika harga keluar jauh dari area grid. Jika terjadi dump tajam, trader bisa memegang aset di harga yang lebih tinggi dan menghadapi floating loss.

Sebaliknya, ketika harga breakout kuat ke atas, sebagian aset bisa sudah terjual pada grid sebelumnya sehingga trader tidak menikmati seluruh potensi kenaikan.

Jumlah grid juga perlu diperhitungkan. Grid yang terlalu rapat memang membuat transaksi lebih sering terjadi, tetapi profit per transaksi menjadi semakin tipis dan bisa tergerus trading fee.

Grid Trading vs LP dan DLMM, Apa Bedanya?

Sekilas grid trading memang punya kemiripan dengan liquidity providing karena sama-sama bisa memanfaatkan harga yang bergerak bolak-balik. Namun, mekanisme dan sumber keuntungannya cukup berbeda.

Perbedaan Grid Trading dan LP

Pada grid trading, trader memasang order beli dan jual di beberapa level harga. Profit datang dari selisih harga ketika aset dibeli lebih rendah lalu dijual kembali di level yang lebih tinggi.

BACA JUGA:  7 Tips Mengelola Risiko Trading DLMM di Meteora untuk Pemula

Sementara itu, pada liquidity provider atau LP, modal dimasukkan ke dalam liquidity pool agar dapat digunakan pengguna lain untuk melakukan swap.

Sebagai gantinya, liquidity provider memperoleh bagian dari trading fee. Namun, LP juga menghadapi risiko seperti impermanent loss ketika harga kedua aset di dalam pool bergerak cukup jauh.

Perbedaan Grid Trading dan DLMM

DLMM pada dasarnya masih termasuk strategi LP, tetapi likuiditas bisa ditempatkan secara lebih spesifik pada sejumlah bin harga.

Penjelasan Lengkap Trading DLMM di Meteora untuk Pemula

Trader dapat memilih area mana yang ingin diberi likuiditas. Semakin dekat bin dengan harga aktif, peluang mendapatkan fee biasanya lebih besar karena modal lebih terkonsentrasi.

Namun, ketika harga bergerak keluar dari kumpulan bin tersebut, posisi bisa menjadi out of range dan berhenti menghasilkan fee sampai harga kembali atau likuiditas dipindahkan.

Jadi, grid trading mengejar selisih dari aktivitas jual beli kripto, LP konvensional mendapatkan fee dari penyediaan likuiditas, sedangkan DLMM memungkinkan likuiditas lebih terkonsentrasi pada area tertentu.

Cara Memulai Grid Trading Kripto

Grid trading sebaiknya tidak langsung dipasang hanya karena harga sedang terlihat datar. Trader tetap perlu menentukan area yang masuk akal agar strategi tidak mudah rusak ketika volatilitas berubah.

Tentukan Range Harga

Mulailah dengan melihat area support dan resistance yang beberapa kali menahan harga.

Jika sebuah aset berulang kali bergerak di antara US$95 hingga US$105, area tersebut bisa dijadikan acuan awal untuk membuat batas bawah dan batas atas grid.

Atur Jumlah Grid

Setelah range ditentukan, area tersebut dibagi menjadi beberapa level order.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 3 Agustus 2026: AAVE, ENA, PEPE, PENGU dan ARB Uji Level Kritis, Peluang Bullish atau Berbalik Turun?

Semakin banyak grid, jarak antarlevel menjadi semakin dekat. Transaksi memang bisa lebih sering terjadi, tetapi profit per transaksi juga semakin kecil.

Beberapa tips yang bisa dipakai:

  • Pilih aset dengan likuiditas dan volume yang besar.
  • Hindari grid ketika harga sedang tren naik atau turun kuat.
  • Tentukan range dari struktur harga, bukan hanya persentase.
  • Pastikan jarak antar-grid lebih besar dari biaya trading.
  • Jangan menggunakan seluruh modal dalam satu grid.
  • Siapkan batas kapan strategi harus dihentikan jika harga keluar dari range.
  • Evaluasi kembali grid ketika volatilitas pasar mulai berubah.

Grid Trading Bukan Mesin Cuan Otomatis

Grid trading memang menarik karena trader tidak harus selalu benar dalam menebak arah pasar. Selama harga masih aktif bergerak naik-turun di dalam range, peluang transaksi tetap terbuka.

Namun, strategi trading crypto ini bukan berarti bisa otomatis menghasilkan cuan setiap hari.

Hasil akhirnya tetap bergantung pada pemilihan aset, lebar range, jumlah grid, volatilitas, trading fee hingga disiplin mengelola risiko.

Day Trading Kripto: Cara Kerja, Teknik Populer, dan Tips Penting untuk Pemula!

Karena itu, fokusnya bukan sekadar memasang grid sebanyak mungkin, tetapi membuat range yang realistis dan tahu kapan strategi tersebut sudah tidak cocok dengan kondisi pasar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait