Kekhawatiran terhadap wabah hantavirus mulai meningkat. Bukan hanya karena munculnya kasus kematian di sebuah kapal pesiar yang terdampar di Atlantik, tetapi juga karena pasar prediksi kripto mulai ramai dipenuhi spekulasi soal potensi pandemi baru pada 2026.
Wabah Hantavirus di MV Hondius Picu Kepanikan
Perhatian dunia tertuju pada hantavirus setelah muncul di MV Hondius, kapal ekspedisi asal Belanda yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Kapal tersebut membawa 149 penumpang dari 23 negara dalam perjalanan menuju Kepulauan Canary.
Situasi berubah mencekam ketika pasangan lansia asal Belanda mendadak jatuh sakit dan meninggal dunia di tengah pelayaran. Tak lama kemudian, seorang warga Jerman juga dilaporkan tewas.
Hingga WHO menerima laporan resmi pada akhir pekan lalu, sedikitnya delapan orang menunjukkan gejala infeksi. Lima di antaranya telah terkonfirmasi positif hantavirus melalui uji laboratorium.

Otoritas kesehatan kemudian mengidentifikasi virus tersebut sebagai Andes virus, satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu. Akibatnya, kapal sempat ditolak bersandar di Cape Verde dan para penumpang harus menjalani karantina.
Situasi makin rumit karena sebagian penumpang diketahui sudah turun di beberapa pelabuhan sebelum wabah terdeteksi. Hal ini memicu pelacakan kontak di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Singapura, dan sejumlah wilayah Eropa.
Polymarket Ramai Prediksi Pandemi Hantavirus 2026
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap wabah hantavirus yang muncul di MV Hondius, pasar prediksi kripto Polymarket justru dipenuhi oleh aktivitas taruhan terkait virus tersebut.
Salah satu market paling ramai di Polymarket saat ini mempertanyakan apakah WHO akan secara resmi menyebut hantavirus sebagai “pandemi” sebelum akhir 2026. Volume taruhan pada market tersebut telah mencapai US$3,4 juta atau sekitar Rp58 miliar.
Per Sabtu (09/05/2026), probabilitas pandemi berada di kisaran 9 persen. Angka itu turun tajam setelah sebelumnya sempat melonjak di atas 40 persen ketika laporan awal penularan antarmanusia mulai muncul.
Penurunan probabilitas terjadi setelah pihak WHO menegaskan bahwa situasi saat ini tidak sama seperti pandemi COVID-19.
“Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal dari pandemi COVID. Hantavirus sudah ada sejak lama. Kami memahami virus ini. Penyebarannya tidak sama seperti virus corona,” kata Maria Van Kerkhove, pejabat senior WHO, Kamis (07/05/2026).

Fenomena ini juga merembet ke sektor meme coin. Sebuah token bernama Soothsayer dilaporkan sempat melonjak lebih dari 2.200 persen setelah dikaitkan dengan prediksi wabah hantavirus dan viral.
Meski WHO menilai risiko global masih rendah, kasus hantavirus di MV Hondius tetap menjadi pengingat bahwa wabah penyakit dapat dengan cepat memicu kepanikan, spekulasi, hingga pergerakan besar di pasar kripto.
Kini perhatian publik tertuju pada perkembangan investigasi WHO dan hasil pelacakan kontak lintas negara. Sementara itu, trader di pasar prediksi Polymarket masih terus berspekulasi apakah hantavirus benar-benar akan berkembang menjadi ancaman baru.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


