Harapan Pemangkasan Suku Bunga Kian Redup, Sentimen Pasar Makin Rapuh

Ketidakpastian kembali menyelimuti pasar keuangan. Harapan terhadap pemangkasan suku bunga di akhir tahun meredup, seiring munculnya proyeksi baru dan analisis ekonom yang menunjukkan arah kebijakan The Fed mungkin tidak sejalan dengan ekspektasi. 

Di tengah sentimen yang rapuh, berbagai indikator, mulai dari inflasi, tenaga kerja, hingga kondisi politik, membentuk narasi yang bertolak belakang. Situasi ini memicu kecemasan, terutama di kalangan investor yang menggantungkan strategi pada arah suku bunga.

Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga dan Efek Shutdown

Pelaku pasar keuangan tengah menghadapi ketidakpastian, dengan perdebatan apakah The Fed akan memangkas atau menahan suku bunga pada Desember mendatang.

Menurut Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, arah kebijakan berubah cepat mengikuti perkembangan data dan pernyataan terbaru dari pejabat The Fed yang berwenang.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Spekulasi cut rate sebelumnya menguat karena lemahnya serapan tenaga kerja AS. Kondisi ini dianggap membuka peluang stimulus melalui penurunan suku bunga, namun faktor penentunya tetap berada pada data inflasi.

“Namun untuk memastikan bahwa The Fed benar-benar akan memangkas bunga acuannya adalah dengan menanti rilis data inflasi,” jelasnya.

BACA JUGA:  OJK Lewat Satgas PASTI Ungkap Skema Investasi Kripto Bodong

Persoalannya, rilis data penting tersebut muncul di tengah government shutdown di AS. Meski kini shutdown telah berakhir, Gunawan menjelaskan bahwa ketika aktivitas pemerintahan kembali normal, data inflasi dan tenaga kerja berpotensi menunjukkan perbaikan.

“Nah pastinya data akan mencatat perubahan positif baik pada inflasi, penyerapan tenaga kerja yang kembali akan memicu spekulasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan besaran bunga acuannya di akhir tahun,” ujarnya.

Inflasi, Hawkish, dan Dilema di Tubuh The Fed

Gunawan menjelaskan bahwa ada dua isu besar yang membuat The Fed cenderung menahan suku bunga. Pertama, inflasi menunjukkan tren kembali menguat di tengah meningkatnya tensi perang dagang AS.

Kedua, data ekonomi diperkirakan akan membaik setelah government  shutdown berakhir, sebuah kondisi yang umumnya memperkuat sikap hawkish yang dilontarkan oleh ketua The Fed sebelumnya.

Ia juga menyinggung bahwa kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) sebelumnya menjadi indikator bahwa BI telah mengantisipasi langkah The Fed. 

BACA JUGA:  FOMC Tahan Suku Bunga, Begini Nasib Kripto

“BI sudah memiliki kalkulasinya sendiri sehingga tidak perlu mengikuti arus pasar yang saat ini tengah berspekulasi terkait dengan potensi pemangkasan bunga acuan Bank Sentral AS,” kata Gunawan.

Namun dilema saat ini masih menghantui Federal Reserve. Secara politis, Presiden AS masih mendorong cut rate untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Meski The Fed telah menurunkan suku bunga dua kali sebelumnya, langkah ini belum cukup untuk mencapai target inflasi 2 persen yang menjadi tolok ukur kebijakan mereka.

Dinamika Pasar Menjelang Keputusan The Fed

Pandangan lembaga global ikut membentuk ekspektasi pasar. Nomura Holdings dalam laporan terbarunya memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 9–10 Desember. Proyeksi ini dinilai konsisten dengan sikap hawkish Jerome Powell.

Aduh! The Fed Diperkirakan Tidak Pangkas Suku Bunga Desember

Nomura juga memprediksi cut rate baru terjadi pada 2026, dengan potensi tiga kali penurunan sepanjang tahun. Perkiraan ini bertumpu pada pelemahan pasar tenaga kerja yang terlihat dari NFP dalam beberapa bulan terakhir. Namun proyeksi tetap bergantung pada arah inflasi dan aktivitas ekonomi pasca-shutdown.

BACA JUGA:  Vitalik Buterin Dukung Zcash lewat Donasi ke Shielded Labs

Dampaknya meluas hingga pasar kripto. Suku bunga tinggi biasanya mendorong investor menghindari aset berisiko, membuat kripto bergerak datar atau terkoreksi ringan. Sebaliknya, sinyal cut rate kerap memicu aliran likuiditas baru dan mendukung reli aset digital.

Selain itu, pergerakan dolar AS menjadi faktor tambahan yang mempengaruhi minat investor kripto. Penguatan dolar AS cenderung menekan sentimen, sementara pelemahan dolar membuka ruang bagi arus masuk ke aset digital.

Ke depan, arah pasar, baik kripto maupun instrumen tradisional, akan sangat ditentukan oleh sinyal kebijakan The Fed. Jika suku bunga ditahan di level tinggi, pasar berpotensi tetap stabil tetapi lesu. Namun indikasi pelonggaran dapat kembali menyalakan momentum risk-on.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia