Harga AGIX Naik Ratusan Persen, Sosok Pendiri Ben Goertzel Jadi Sorotan

Topik teknologi kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) mulai merasuk ke industri crypto, terbukti dari harga token AGIX yang naik ratusan persen hanya dalam hitungan hari. Tak pelak, sosok founder Ben Goertzel turut menjadi sorotan.

Seperti diketahui, beberapa token yang mengusung AI dan Big Data, seperti SingularityNET (AGIX), menjadi token paling naik daun saat ini.

AGIX, token asli yang menggerakkan platform terdesentralisasi untuk membuat, mendistribusikan, dan memonetisasi layanan AI SingularityNET, berhasil mendapat sentimen positif pelaku pasar kripto, di mana harganya melonjak lebih dari 700 persen selama sebulan terakhir.

Berdasarkan laporan NewsBTC, harga AGIX dimulai dari US$0,045 di awal tahun, pada saat penulisan harga bertengger dengan santai di kisaran US$,0443.

Dalam tiga hari, dari hari Jumat (3/2/3023) sampai Senin (6/2/2023), harga token AGIX telah melesat hampir 100 persen dari US$0,25 menjadi US$0,48.

Ini membuat token AGIX duduk di peringkat ke-91 di pasar kripto utama setelah kapitalisasi pasarnya meningkat lebih dari US$517,3 juta.

Sementara itu, Beincrypto melaporkan bahwa, harga token AGIX telah kembali menyentuh level Fibonacci Retracement 0,618 yang dianggap sebagai support terbaru.

Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut pada penutupan mingguan, maka harga AGIX berpotensi mencapai ATH-nya di US$0,67. Itu artinya, kita menanti pembentukan candle pada akhir pekan ini.

Mengenal Lebih Jauh Sosok di Balik Token AGIX, Ben Goertzel

Merujuk dari laman Wikipedia, Ben Goertzel adalah seorang ilmuwan kognitif, peneliti kecerdasan buatan, CEO dan pendiri SingularityNET. 

“Dia (Ben Goertzel) membantu mempopulerkan istilah ‘kecerdasan umum buatan’ atau Artificial General Intelligence (AGI),” demikian tertera dalam keterangan ensiklopedia daring tersebut.

Perihal SingularityNET, Ben menjelaskan dalam profil LinkedIn nya, sebagai platform yang didirikan dengan misi menciptakan Kecerdasan Umum Buatan yang terdesentralisasi, demokratis, inklusif, dan bermanfaat. 

“Sebuah AGI tidak bergantung pada entitas pusat mana pun, yang terbuka untuk siapa saja dan tidak terbatas pada tujuan sempit satu perusahaan atau bahkan satu negara,” tulis Ben Goertzel, yang lulus dengan gelar PhD di bidang matematika dari Universitas Temple di bawah pengawasan Avi Lin pada tahun 1990, pada usia 23 tahun..

Intinya, sebagai pendiri dan CEO SingularityNET, Goertzel menginginkan sebuah proyek yang menggabungkan kecerdasan buatan dan blockchain untuk mendemokratisasi akses ke kecerdasan buatan.

“Tim SingularityNET terdiri dari insinyur berpengalaman, ilmuwan, peneliti, pengusaha, dan pemasar. Platform inti dan tim AI kami semakin dilengkapi dengan tim khusus yang dikhususkan untuk area aplikasi seperti keuangan, robotika, AI biomedis, media, seni, dan hiburan,” timpalnya.

SingularityNET, yang berjalan di Ethereum dan Cardano, sangat berfokus pada peningkatan interoperabilitas antara kedua jaringan, meluncurkan bridge ke token tahun lalu. Rencananya, pada kuartal I tahun akan dikenalkan token ADA sebagai staking portal unuk Cardano.

SingularityNET didirikan oleh Dr. Ben Goertzel, seorang ilmuwan kognitif dan perintis di bidang AI. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mengembangkan kecerdasan umum buatan, atau AGI.

Bahasa pemrograman MeTTa, yang akan digunakan SingularityNET untuk mewujudkan visinya, telah menunjukkan hasil yang positif dan memuaskan.

SingularityNET adalah proyek kripto pertama di sektor AI yang tersedia, sehingga tak heran mengapa investor begitu menggilai token ini saat kecerdasan buatan menjadi sorotan berbagai media.

Platform terdesentralisasi SingularityNET memungkinkan para developer untuk membangun, berbagi, dan monetisasi layanan AI. SingularityNET ini dibangun menggunakan teknologi paling kekinian alias teknologi blockchain dan tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah decentralized marketplace untuk AI. 

Para pengembang bisa membuat dan membagikan model dan algoritma AI mereka, lalu penggunanya bisa dengan bebas mengakses layanan di berbagai aplikasi. 

Goertzel: Kecerdasan Buatan (AI) Seperti Bayi

Pada Mei 2007, Ben Goertzel  berbicara di sebuah pembicaraan teknologi Google tentang pendekatannya untuk menciptakan kecerdasan umum buatan.

Goertzel mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk mendeteksi pola di dunia dan di agen itu sendiri, dapat diukur dalam hal perilaku yang muncul “mencapai tujuan yang kompleks di lingkungan yang kompleks”.

“Kecerdasan buatan seperti bayi yang diinisialisasi, kemudian dilatih sebagai agen di dunia simulasi atau virtual seperti Second Life untuk menghasilkan kecerdasan yang lebih kuat,” terangnya.

Dia melanjutkan, bahwa pengetahuan direpresentasikan dalam jaringan yang simpul dan tautannya membawa nilai kebenaran probabilistik serta nilai perhatian, dengan nilai perhatian yang menyerupai bobot dalam jaringan saraf. 

Beberapa algoritma beroperasi di jaringan ini, yang utama adalah kombinasi dari mesin inferensi probabilistik dan versi khusus dari pemrograman evolusioner.

Film dokumenter 2012 The Singularity oleh pembuat film independen Doug Wolens memamerkan visi dan pemahaman Goertzel dalam membuat kecerdasan umum buatan.

“Fokus utama saya hari ini adalah proyek SingularityNET (http://singularitynet.io), yang menyatukan AI dan blockchain untuk menciptakan pasar terbuka terdesentralisasi untuk AI,” ujar Goertzel. 

Menurutnya, ini adalah media untuk penciptaan dan kemunculan AGI, cara untuk meluncurkan layanan AI yang unggul bagi setiap pasar vertikal, dan cara untuk memungkinkan semua orang di dunia berkontribusi dan mendapat manfaat dari AI.

Melansir dari AIForGood, disebutkan bahwa Dr. Ben Goertzel merupakan ilmuwan lintas disiplin, pengusaha, dan penulis. 

Lahir di Brasil dari orang tua Amerika, pada tahun 2020 setelah lama tinggal di Hong Kong, Goertzel memindahkan basis operasi utamanya ke pulau pedesaan dekat Seattle. Dia memimpin SingularityNET Foundation, OpenCog Foundation, dan AGI Society yang menjalankan konferensi Artificial Intelligence tahunan.

Selain itu, Dr. Goertzel juga mengepalai organisasi nirlaba Futuris Humanity+, menjabat sebagai Kepala Ilmuwan di perusahaan AI Rejuve, Mindplex, Cogito, dan Jam Galaxy, semua bagian dari ekosistem SingularityNET, dan berfungsi sebagai kibordis dan vokalis di Jam Galaxy Band, band pertama dipimpin oleh robot humanoid.

“Sebagai Kepala Ilmuwan dari perusahaan robotika Hanson Robotics, dia memimpin tim perangkat lunak di belakang robot Sophia; sebagai Kepala Ilmuwan AI untuk Kesehatan Kebangkitan, dia memimpin tim yang merancang pemikiran di balik adik perempuan Sophia, Grace,” tulis laman tersebut.

Peneliti utama inisiatif tersebut, Dr Julia Mossbridge, berpendapat bahwa agen AI seperti Sophia dan Grace dapat menawarkan pengalaman cinta tanpa syarat kepada manusia, memenuhi salah satu kebutuhan kita yang terdalam dan paling intim, yaitu didengarkan tanpa takut dihakimi.

“Lebih banyak ruang harus diberikan untuk aspek penelitian AI ini, yang merangsang opini publik untuk merenungkan apa yang terjadi ketika penemuan luar biasa digunakan untuk melayani masyarakat luas,” terang Goertzel.

Menurutnya, seiring kemajuan teknologi AI menuju sistem yang semakin mirip manusia dan secara umum cerdas, manusia harus menempatkan fokus pada aplikasi nyata yang menghubungkan manusia dengan AI dan robot pada tingkat yang dalam sambil memberikan nilai praktis, alih-alih membiarkan ketakutan bawah sadar kita yang samar-samar memandu hubungan kita dengan teknologi.

“Saat masyarakat pada umumnya bersiap untuk mengatasi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari kelelahan petugas kesehatan hingga kebutuhan untuk membantu populasi global yang menua, bantuan dari robot sosial bisa menjadi berkah,” katanya. 

Secara khusus, dalam pandangan Goertzel, robot humanoid telah terbukti sangat efektif dalam melibatkan orang secara sosial, yang menjadikannya sumber yang bagus untuk berbagai skenario di mana selain menyelesaikan tugas secara efisien, mereka juga perlu memberikan persahabatan dan pengertian.

Pekerjaan penelitian Dr. Goertzel mencakup banyak bidang termasuk kecerdasan umum buatan, pemrosesan bahasa alami, ilmu kognitif, pembelajaran mesin, keuangan komputasi, bioinformatika, dunia virtual, permainan, parapsikologi, fisika teoretis, dan banyak lagi. 

“Dr. Goertzel telah menerbitkan lebih dari 25 buku ilmiah, 150 makalah teknis, dan banyak artikel jurnalistik, dan memberikan ceramah di sejumlah besar acara di seluruh dunia,” tertulis di AIForGood.

Dr. Goertzel menikah dengan ahli bahasa komputasi Ruiting Lian, dan memiliki 5 anak dan satu cucu. Bersamaan dengan pekerjaan teknis dan filosofinya, Goertzel senang membuat fiksi eksperimental dan musik serta hiking, backpacking, kayak, dan aktivitas luar ruangan lainnya. [ab]

Terkini

Warta Korporat

Terkait