Harga Bitcoin (BTC) berpotensi memasuki fase kritis dalam siklus pasar berikutnya, di mana analis kripto Ali Martinez memperkirakan titik terendah besar (major bottom) dapat terbentuk pada Oktober 2026.
Proyeksi tersebut didasarkan pada teori siklus empat tahunan Bitcoin yang selama ini menjadi salah satu acuan utama dalam membaca pola pergerakan aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut.
Melalui analisis berbasis pola historis, Martinez menyebut apabila siklus empat tahun Bitcoin kembali berjalan seperti periode sebelumnya, maka fase bottom berikutnya berpotensi terjadi antara 6 Oktober hingga 16 Oktober 2026.
Perkiraan tersebut muncul setelah Bitcoin melewati fase kenaikan, distribusi dan potensi perlambatan pasar yang biasanya mengikuti siklus pasca-halving.
Siklus Empat Tahun Bitcoin Kembali Jadi Perhatian Pasar
Dalam analisisnya, Ali Martinez menunjukkan bahwa Bitcoin secara historis bergerak dalam pola berulang yang terdiri dari beberapa fase utama, yaitu akumulasi, markup atau periode kenaikan harga, distribusi, serta bear market sebelum kembali memasuki fase akumulasi baru.

Menurut Martinez, siklus sebelumnya memperlihatkan bahwa Bitcoin cenderung mengalami tekanan jual besar setelah mencapai puncak pasar. Pola tersebut terlihat setelah reli besar pada 2017 dan 2021, ketika Bitcoin memasuki fase distribusi sebelum akhirnya mengalami koreksi panjang dan membentuk dasar pasar baru.
Jika pola empat tahunan kembali terulang, maka harga Bitcoin berpotensi memasuki fase penyesuaian besar setelah periode kenaikan sebelumnya. Dalam skenario tersebut, Oktober 2026 menjadi periode yang diperhatikan karena dapat menjadi titik pembentukan dasar baru sebelum siklus berikutnya dimulai.
Meski demikian, teori siklus empat tahun tidak menjadi jaminan bahwa pergerakan harga Bitcoin akan mengikuti pola yang sama. Kondisi likuiditas global, kebijakan suku bunga bank sentral, arus dana institusi melalui produk investasi berbasis Bitcoin, serta perkembangan regulasi tetap menjadi faktor yang dapat mengubah struktur pasar.
Selain faktor waktu, investor juga memperhatikan level harga penting dalam menentukan kekuatan tren Bitcoin. Area psikologis US$100.000 menjadi salah satu level utama dalam struktur jangka panjang. Sementara itu, apabila tekanan jual meningkat, area US$60.000–US$70.000 berpotensi menjadi zona permintaan yang kembali diuji oleh pasar.
Harga Bitcoin Berada di Titik Kritis Antara Pemulihan dan Tekanan Jual
Sementara itu, analis GainMuse menilai Bitcoin saat ini berada pada titik keputusan setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa waktu terakhir. Dalam analisisnya, Bitcoin masih mencoba melakukan pemulihan dari area support yang meningkat, tetapi struktur pasar tetap rentan setelah mengalami false breakout sebelumnya.

GainMuse menyebut Bitcoin gagal mempertahankan pergerakan di atas level US$66.000, namun penjual belum mampu menembus area support penting di US$63.000–US$63.300. Area tersebut menjadi level pertahanan utama bagi pembeli karena keberhasilan mempertahankannya dapat membuka peluang pergerakan menuju resistance berikutnya.
Menurut analisis tersebut, apabila Bitcoin mampu bertahan di atas support tersebut, harga berpotensi kembali menguji area US$64.500 dan selanjutnya menuju zona resistance US$65.500–US$65.700.
Sebaliknya, penutupan harian di bawah US$63.000 dapat mengubah momentum menjadi lebih bearish dan meningkatkan risiko tekanan lanjutan.
Dari sisi makroekonomi, GainMuse juga menyoroti keputusan suku bunga The Fed sebagai katalis utama bagi aset berisiko.
Selain itu, dolar AS yang bergerak mendekati level tertinggi dalam satu bulan serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi menjadi faktor yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati sebelum mengambil posisi lebih besar.
Sentimen Pasar Bitcoin Mulai Pulih Lewat Sinyal Derivatif
Di sisi lain, analis XWIN Japan di CryptoQuant melihat adanya perubahan positif pada pasar derivatif Bitcoin setelah funding rate kembali bergerak ke wilayah positif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen pelaku pasar mulai membaik setelah sebelumnya lebih banyak berada dalam tekanan bearish.

XWIN Japan menjelaskan bahwa funding rate mencerminkan keseimbangan posisi long dan short dalam kontrak perpetual futures. Ketika funding rate positif, trader long membayar trader short, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap potensi kenaikan harga Bitcoin.
“Funding rate kembali positif, menunjukkan kondisi pasar yang lebih sehat,” ungkap XWIN Japan.
Menurut XWIN Japan, kondisi saat ini berbeda dengan periode ketika Bitcoin mengalami penurunan tajam, saat funding rate sering berada di wilayah negatif akibat dominasi posisi bearish.
Kembalinya funding rate positif secara bertahap menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai membangun kembali ekspektasi kenaikan tanpa memasuki kondisi spekulasi berlebihan.
XWIN Japan menilai kondisi tersebut menjadi sinyal konstruktif karena pasar bullish yang sehat biasanya didukung oleh peningkatan sentimen derivatif tanpa leverage berlebihan. Selain itu, pemulihan arus masuk Bitcoin ETF, meningkatnya partisipasi institusi, serta perbaikan indikator on-chain turut memperkuat fondasi pasar.
Meski demikian, volatilitas jangka pendek masih berpotensi terjadi seiring dengan perkembangan kebijakan moneter global dan sentimen regulasi. Pelaku pasar kini akan memperhatikan kemampuan Bitcoin mempertahankan support utama sekaligus menguji kembali area resistance sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


