Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah bergerak naik dalam 24 jam terakhir di tengah fase konsolidasi yang masih membatasi pergerakan pasar.
Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$62.875, setara Rp1,13 miliar, naik 1,68 persen dalam 24 jam terakhir. Kenaikan tersebut terjadi ketika pelaku pasar masih menunggu arah pergerakan berikutnya setelah beberapa pekan harga bergerak dalam rentang yang relatif sempit.
Meski belum mampu keluar dari fase konsolidasi, sejumlah indikator teknikal dan on-chain mulai memperlihatkan sinyal yang sering muncul menjelang pergerakan besar.
Kondisi tersebut memunculkan pandangan bahwa harga Bitcoin saat ini berada dalam fase seperti pegas yang terus ditekan, di mana volatilitas cenderung menyusut sebelum akhirnya diikuti oleh pergerakan yang lebih kuat ke salah satu arah.
Bullish Divergence Muncul, Harga Bitcoin Bersiap Keluar dari Tekanan
Di tengah kondisi tersebut, analis Gerla menilai harga Bitcoin masih bergerak di dalam pola descending channel pada grafik 4 jam. Menurutnya, harga kini semakin terkompresi di dalam pola tersebut sambil mendekati garis tengah channel yang menjadi resistance dinamis.

Area US$62.400 hingga US$62.600 menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut. Jika harga Bitcoin berhasil keluar dari pola tersebut, target berikutnya berada di sekitar US$65.500 hingga US$66.500, yang merupakan garis atas descending channel.
Gerla juga menyoroti munculnya bullish divergence pada indikator Relative Strength Index (RSI). Saat harga sempat membentuk titik lower low di sekitar US$59.000 hingga US$60.000, RSI justru membentuk titik higher low.
Kondisi tersebut mengindikasikan momentum jual mulai melemah meskipun harga belum sepenuhnya berbalik arah.
Menurutnya, divergensi seperti ini kerap menjadi sinyal awal berkurangnya tekanan bearish. Selama area US$59.000 hingga US$60.000 tetap mampu dipertahankan sebagai support, peluang harga Bitcoin untuk melakukan breakout dari channel turun dinilai semakin terbuka, meski konfirmasi tetap bergantung pada keberhasilan harga menembus resistance utama.
Sementara itu, data pasar derivatif dari CoinGlass menunjukkan aktivitas perdagangan masih cenderung berhati-hati. Volume perdagangan kontrak derivatif Bitcoin tercatat turun 17,32 persen menjadi sekitar US$34,90 miliar, sedangkan open interest hanya berkurang tipis 0,14 persen menjadi US$46,87 miliar.

Penurunan volume diikuti open interest yang relatif stabil mengindikasikan belum banyak posisi baru yang masuk ke pasar. Kondisi tersebut mencerminkan sebagian besar pelaku pasar masih memilih menunggu konfirmasi arah berikutnya sebelum meningkatkan eksposur mereka.
Meski demikian, sentimen pelaku pasar di Binance masih sedikit condong ke sisi bullish. Rasio Long/Short Accounts BTC/USDT tercatat berada di level 1,5323, yang berarti jumlah akun dengan posisi beli masih lebih banyak dibandingkan posisi jual.
Walau belum menjadi jaminan terjadinya reli, data tersebut menunjukkan optimisme investor tetap bertahan di tengah fase konsolidasi.
Bitcoin Hadapi Dua Skenario, Melejit atau Turun ke US$50.000
Selain itu, analis Tryrex menilai Bitcoin masih bergerak di dalam descending channel pada timeframe 12 jam dan sedang menguji resistance penting di kisaran US$62.500 hingga US$62.900, yang bertepatan dengan garis tren turun.

Selama area tersebut belum berhasil ditembus, struktur pasar menurutnya masih didominasi tekanan bearish. Resistance berikutnya berada di zona US$67.000 hingga US$67.700, yang berpotensi menjadi target apabila breakout benar-benar terjadi.
Tryrex memperkirakan skenario yang paling mungkin adalah Bitcoin kembali menguji area support US$58.000 atau retest terhadap titik terendah sebelumnya. Apabila level tersebut gagal dipertahankan, tekanan jual diperkirakan masih akan berlanjut hingga membuka peluang penurunan menuju area psikologis US$50.000.
Namun, jika Bitcoin justru terus bergerak naik secara perlahan tanpa kembali menguji support tersebut, ia menilai pasar kemungkinan hanya akan memasuki fase squeeze yang lebih panjang sebelum pergerakan besar berikutnya muncul.
Bitcoin Masuk Zona Akumulasi, Peluang Reli Kian Terbuka
Selain sinyal teknikal, indikator on-chain juga mulai memberikan gambaran yang menarik. Analis CryptoZ menyoroti bahwa Adjusted Sell-side Risk Ratio (aSSRR) Bitcoin kembali turun ke zona yang secara historis kerap menjadi fase akumulasi sebelum dimulainya reli besar berikutnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan keuntungan maupun kerugian yang direalisasikan investor kini relatif kecil dibandingkan nilai kapitalisasi pasar Bitcoin.
Dengan kata lain, tekanan jual mulai berkurang karena semakin sedikit investor yang bersedia melepas kepemilikannya di harga saat ini, sementara pemegang jangka panjang masih memilih menyimpan aset mereka.
CryptoZ menjelaskan bahwa pola serupa pernah muncul pada awal 2019, akhir 2020, awal 2023, serta beberapa fase konsolidasi lain yang kemudian diikuti tren kenaikan kuat.
Meski indikator tersebut tidak dapat menentukan kapan breakout akan terjadi, ia menilai lingkungan pasar saat ini menunjukkan tekanan jual telah jauh berkurang. Apabila arus modal terus membaik dan likuiditas pasar meningkat, fase akumulasi ini berpotensi kembali menjadi fondasi bagi reli berikutnya pada harga Bitcoin.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


