Harga Bitcoin (BTC) berpotensi menghadapi tekanan jual baru meski peluang pemulihan menuju US$70.000 masih terbuka.
Analis kripto Aralez menilai kenaikan tersebut justru dapat menjadi fase terakhir sebelum Bitcoin kembali terkoreksi, dengan US$57.800 hingga US$48.000 masuk dalam peta target penurunan berikutnya.
Dalam analisis terbarunya, Aralez memproyeksikan harga Bitcoin terlebih dahulu bergerak naik untuk mengisi Fair Value Gap (FVG) yang terbentuk setelah penurunan tajam sebelumnya.

Grafik harian yang ia bagikan menunjukkan zona ketidakseimbangan di kisaran US$64.000 hingga US$68.000, dan reli dapat berlanjut mendekati US$70.000 sebelum arah pasar kembali berubah.
Harga Bitcoin Bisa Diajak Terbang ke US$70.000 Sebelum Dijatuhkan
Skenario Aralez menempatkan US$70.000 sebagai area penting dalam pergerakan jangka menengah Bitcoin. Setelah FVG terisi penuh, ia memperkirakan pasar memasuki periode distribusi selama sekitar tujuh hingga 10 hari. Fase ini kemudian berpotensi diikuti pelemahan yang membawa harga Bitcoin kembali ke bawah US$60.000.
Perhatian selanjutnya tertuju pada US$57.800. Level tersebut merupakan titik rendah penting pada struktur harga sebelumnya dan dipandang sebagai area tempat likuiditas berkumpul. Menurut proyeksi Aralez, Bitcoin berpotensi alami liquidity sweep di area itu sebelum melanjutkan penurunan menuju US$52.000.
Tekanan bearish bahkan diperkirakan belum selesai apabila US$52.000 gagal bertahan. Aralez memasukkan US$48.000 sebagai sasaran berikutnya sekaligus area potensial bagi pembentukan dasar siklus.
Dengan skenario tersebut, kenaikan menuju US$70.000 bukan dipandang sebagai awal reli berkelanjutan, melainkan retracement sebelum potensi koreksi terakhir yang lebih dalam.
Proyeksi itu sejalan dengan struktur yang ditampilkan pada grafiknya. Bitcoin sebelumnya membentuk puncak sekitar US$83.000 sebelum mengalami penurunan tajam hingga US$57.800.
Setelah itu, harga Bitcoin memasuki fase konsolidasi dan pemulihan, tetapi masih berada di bawah zona FVG yang menjadi target kenaikan dalam skenario tersebut.
Meski demikian, rangkaian target US$70.000, US$57.800, US$52.000 hingga US$48.000 tetap merupakan proyeksi teknikal. Realisasinya akan bergantung pada respons pasar ketika Bitcoin mendekati zona FVG, termasuk apakah pembeli mampu mempertahankan momentum setelah area ketidakseimbangan tersebut terisi.
Saat Grafik Mengancam Jatuh, Koin Lama BTC Malah Makin Diam
Di tengah skenario koreksi tersebut, data on-chain yang disorot analis Arab Chain di CryptoQuant menunjukkan kondisi berbeda dari sisi pergerakan Bitcoin berusia lama. Indikator Exchange Inflow Coin Days Destroyed (CDD) Bitcoin di Binance turun menjadi sekitar 155, level terendah sejak Mei.

Penurunan tersebut cukup mencolok dibandingkan aktivitas pada akhir Mei dan awal Juni. Pada periode itu, indikator beberapa kali menembus 500 dan bahkan sempat berada di atas 1.000, menunjukkan peningkatan perpindahan koin yang telah lama tidak bergerak menuju Binance.
Kini, ketika Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$63.000 dalam analisis tersebut, rendahnya Exchange Inflow CDD menunjukkan bahwa arus masuk ke Binance semakin sedikit berasal dari koin lama. Kondisi ini dapat mengurangi risiko tekanan jual besar yang bersumber dari perpindahan kepemilikan investor jangka panjang ke bursa.
Arab Chain menekankan bahwa kondisi tersebut belum dapat dianggap sebagai konfirmasi bullish bagi harga Bitcoin. Rendahnya aktivitas koin lama hanya menunjukkan salah satu sumber potensi tekanan jual sedang berkurang, sementara arah pasar tetap dipengaruhi oleh permintaan, likuiditas dan perilaku kelompok investor lainnya.
“Rendahnya pergerakan koin lama belum menjadi sinyal bullish yang pasti bagi pasar Bitcoin,” ungkapnya.
Risiko akan berubah apabila Exchange Inflow CDD kembali melonjak kuat, terutama jika kenaikan indikator berlangsung bersamaan dengan pelemahan harga Bitcoin. Situasi semacam itu dapat mengindikasikan pemegang jangka panjang kembali memindahkan aset ke Binance dan meningkatkan kemungkinan munculnya tekanan jual.
Dengan demikian, harga Bitcoin saat ini menghadapi dua sinyal yang perlu dicermati secara bersamaan. Secara teknikal, Aralez melihat ruang reli menuju US$70.000 sebelum risiko koreksi menuju US$57.800, US$52.000 dan akhirnya US$48.000 kembali terbuka.
Namun, data on-chain belum memperlihatkan lonjakan distribusi dari koin lama, sehingga skenario penurunan tersebut masih membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga dan perubahan aktivitas investor jangka panjang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


