Harga Bitcoin Belum Bullish? Data Ini Ungkap Jebakan Leverage yang Berulang Kali Memakan Korban

Harga Bitcoin (BTC) masih bergerak dalam fase konsolidasi yang belum memberikan kepastian arah tren.

Di tengah kondisi tersebut, analis on-chain Darkfost di CryptoQuant menilai banyak trader justru terjebak menggunakan leverage tinggi demi mengejar potensi keuntungan dari volatilitas yang rendah.

Namun, pola yang terlihat sepanjang tahun menunjukkan strategi tersebut berulang kali berakhir dengan gelombang likuidasi besar ketika pasar kembali terkoreksi.

Dalam analisis terbarunya, Darkfost menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini menciptakan keraguan hingga kapitulasi di kalangan investor. Fenomena tersebut terutama terjadi pada trader yang mencoba mengantisipasi pembalikan tren harga Bitcoin terlalu dini dengan menambah eksposur leverage di pasar derivatif.

Data Ini Bongkar Jebakan Leverage yang Terus Menjebak Trader Bitcoin

Darkfost mengungkapkan bahwa salah satu indikator utama yang menggambarkan kondisi tersebut adalah Open Interest Binance yang dihitung berdasarkan jumlah Bitcoin, bukan dalam denominasi dolar AS.

BTC open interest 14 juli

Metode ini dinilai mampu menghilangkan pengaruh perubahan harga Bitcoin terhadap nilai Open Interest sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai pertumbuhan posisi leverage di pasar. Saat ini, Binance menyumbang hampir 35 persen dari total Open Interest Bitcoin secara global.

BACA JUGA:  CZ Binance Akui Kehebatan Hyperliquid, Tapi Tak Singgung Aster

Sejak awal tahun, terdapat dua periode yang memperlihatkan pola serupa. Pada akhir Januari, Open Interest Binance meningkat dari sekitar 104.000 BTC menjadi 130.000 BTC dalam kurun sekitar satu setengah bulan, sementara harga Bitcoin bergerak mendatar tanpa membentuk tren yang jelas.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pola yang hampir identik kembali muncul pada awal Juni, ketika Open Interest bertambah hampir 53.000 BTC dalam waktu sekitar tiga bulan.

Menurut Darkfost, kedua fase akumulasi tersebut selalu diikuti oleh dimulainya gelombang penurunan pasar yang menghapus sebagian besar posisi leverage yang sebelumnya terbangun.

Dalam masing-masing kejadian, sekitar 36.000 BTC dan 35.000 BTC Open Interest lenyap hanya dalam waktu dua minggu akibat kombinasi penutupan posisi dan likuidasi paksa.

Sebagian penurunan Open Interest memang berasal dari trader yang memilih menutup posisi secara sukarela.

Namun, Darkfost menilai koreksi pasar menjadi faktor utama yang memicu likuidasi tersebut, terlebih ketika funding rate Binance telah kembali bergerak ke wilayah positif. Kondisi itu menunjukkan semakin banyak pelaku pasar yang membuka posisi long dengan leverage sehingga menjadi rentan ketika arah pasar berbalik.

“Untuk saat ini, melawan tren dan menambah leverage di pasar yang penuh ketidakpastian tidak memberikan hasil yang baik,” ujar Darkfost.

BACA JUGA:  CEO Ripple Kritik Michael Saylor, Sebut Strateginya Merusak Pasar Kripto

Ia menambahkan, data tersebut mengindikasikan masih banyak trader yang berusaha menebak titik balik harga Bitcoin atau mengejar setiap kenaikan kecil karena khawatir tertinggal momentum bullish.

Padahal, pola yang terus berulang menunjukkan bahwa akumulasi leverage justru sering menjadi awal dari gelombang likuidasi ketika pasar mengalami koreksi tajam.

Harga Bitcoin Masuk Zona Penentu, Bertahan atau Berbalik Arah?

Sementara itu, analisis teknikal dari Ece Vortex menunjukkan harga Bitcoin saat ini kembali menguji garis tren naik jangka panjang yang selama beberapa tahun terakhir menjadi fondasi utama setiap fase bullish.

BTC analisis 14 jul

Pada grafik mingguan, harga berada tepat di atas batas bawah ascending channel, yaitu area support dinamis yang sebelumnya berhasil menahan tekanan jual pada titik terendah pasar tahun 2022 sebelum memicu reli besar sepanjang 2023.

Ece Vortex menilai area tersebut menjadi titik yang sangat penting karena kembali menguji level yang sama seperti pada dua fase krusial dalam siklus sebelumnya.

Selama Bitcoin masih mampu bertahan di atas garis tren bawah ascending channel, struktur bullish jangka panjang dinilai belum mengalami kerusakan. Sebaliknya, apabila support itu ditembus secara meyakinkan, tekanan jual diperkirakan dapat meningkat dan mengubah prospek pergerakan dalam jangka menengah.

BACA JUGA:  Bitcoin Crash! Ternyata Ada Sinyal Besar yang Sudah Muncul Jauh Sebelumnya

Dari sisi level teknikal, area US$60.000 hingga US$63.000 menjadi support terdekat yang bertepatan dengan garis tren bawah ascending channel. Apabila harga Bitcoin mampu memantul dari zona tersebut, target awal berada di kisaran US$95.000 hingga US$100.000.

Jika momentum bullish terus berlanjut, pergerakan selanjutnya berpotensi mengarah ke area US$120.000 hingga mendekati batas atas ascending channel di sekitar US$140.000.

Dengan demikian, data on-chain dan analisis teknikal sama-sama menunjukkan bahwa fase saat ini merupakan periode yang sangat menentukan. Di satu sisi, peningkatan leverage yang berlebihan masih berisiko memicu gelombang likuidasi baru.

Di sisi lain, kemampuan harga Bitcoin mempertahankan area support jangka panjang akan menjadi penentu apakah tren bullish berikutnya masih memiliki peluang untuk berlanjut.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait