Harga Bitcoin Belum Temukan Bottom? Analis Soroti 35 Hari Krusial

Harga Bitcoin masih menghadapi ketidakpastian mengenai apakah fase koreksi telah benar-benar mencapai titik terendah.

Pola siklus historis menunjukkan periode pelemahan saat ini belum berlangsung selama dua koreksi besar sebelumnya, membuka kemungkinan BTC masih membutuhkan waktu sebelum membentuk bottom yang lebih meyakinkan.

Pergerakan terbaru terjadi setelah Bitcoin terkoreksi dari puncak siklusnya dan kemudian mencoba melakukan pemulihan. Meski rebound mulai terlihat, struktur jangka panjang masih menyisakan ruang penurunan apabila pola historis kembali berulang.

Kondisi tersebut membuat beberapa pekan ke depan menjadi periode penting untuk mengukur kekuatan pemulihan pasar.

Siklus Lama Berulang, Harga Bitcoin Masih Punya 35 Hari Penentuan

Analis kripto Gerla menyoroti kemiripan durasi antara dua siklus koreksi Bitcoin sebelumnya. Berdasarkan grafik mingguan yang dibagikannya, koreksi setelah puncak 2017 membutuhkan sekitar 52 candle mingguan atau 364 hari sebelum mencapai area dasar.

Durasi serupa kembali terlihat pada koreksi yang mengikuti puncak 2021, yakni sekitar 52 candle atau 364 hari.

BTC analisis 8 sep

Sebaliknya, koreksi yang berlangsung setelah puncak siklus 2025 baru mencapai sekitar 47 candle mingguan atau 329 hari. Artinya, terdapat selisih sekitar 35 hari apabila periode koreksi sekarang nantinya menyamai durasi dua siklus terdahulu.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Harga Bitcoin Siap Tancap Gas, Aksi Ini Bisa Bawa BTC ke US$84 Ribu

Gerla juga memperhatikan posisi harga Bitcoin terhadap kanal pertumbuhan jangka panjang pada grafik mingguan. Dua bottom terdahulu terbentuk setelah BTC bergerak menuju lower band kanal tersebut. Dalam siklus sekarang, aset kripto terbesar itu belum mencapai batas bawah yang sama.

Pada grafik Gerla, lower band tersebut berada di sekitar US$45.243, jauh di bawah area harga Bitcoin sekitar US$79.432 yang ditampilkan ketika artikel ini disusun. Sementara itu, level sekitar US$89.612 menjadi area penting di atas harga, dengan zona berikutnya berada di sekitar US$126.116. Batas atas kanal jangka panjang terlihat di kisaran US$177.492.

Kondisi tersebut membuat Gerla belum menganggap bottom koreksi telah terkonfirmasi.

“Pergerakan naik saat ini bisa saja berubah menjadi bull trap, di mana pasar menyingkirkan para pembeli yang masuk terlambat sebelum kembali bergerak turun,” tambahnya.

Skenario yang dipantau adalah kemungkinan harga Bitcoin menguji lower band kanal dan membiarkan sekitar 35 hari tersisa berlalu. Namun, pola tersebut merupakan perbandingan historis, bukan kepastian bahwa BTC harus mengulang durasi maupun kedalaman koreksi sebelumnya.

BACA JUGA:  Bitcoin Dapat Lampu Hijau ke-2, Harga US$64.000 Jadi Titik Penting?

Leverage Balik Menumpuk, Rebound Bitcoin Belum Sepenuhnya Aman

Di tengah pembacaan siklus tersebut, analis Darkfost di CryptoQuant menyoroti kondisi berbeda dari pasar derivatif. Menurutnya, Bitcoin baru mengalami fase deleveraging paling tajam sejak 2023 setelah siklus yang sebagian besar aktivitasnya didominasi volume perdagangan futures.

BTC deleveraging 8 sep

Tekanan itu tercermin pada Open Interest (OI) Bitcoin di Binance yang sempat turun menembus rata-rata 180 harinya. Penurunan tersebut menunjukkan posisi ber-leverage ditutup atau dilikuidasi dengan cepat selama koreksi, termasuk posisi long dan short yang telah menumpuk di pasar.

Darkfost menilai proses tersebut diperlukan untuk membersihkan posisi berlebihan.

“Fase koreksi memaksa pasar menutup posisi berlebih sebelum leverage kembali menumpuk secara agresif,” ungkapnya.

Deleveraging menjadi semakin relevan karena siklus kali ini juga mencatat beberapa peristiwa likuidasi terbesar dalam sejarah Bitcoin.

Meski sempat terjadi pembersihan leverage, data yang disoroti Darkfost menunjukkan OI Binance masih relatif tinggi di sekitar US$9,6 miliar, dibandingkan rata-rata 180 hari sebesar US$8,3 miliar. Angka tersebut mewakili sekitar 37 persen dari keseluruhan OI Bitcoin.

BACA JUGA:  Perusahaan Kripto Ini Siapkan Rp3,56 Triliun untuk Staking ETH, Ini Tujuannya

Level itu bahkan lebih tinggi dibandingkan kondisi ketika pemulihan pada Mei membantu mendorong BTC kembali menuju US$82.000. Kembalinya trader ke pasar derivatif dapat ikut menopang rebound harga Bitcoin, tetapi sekaligus meningkatkan risiko apabila leverage kembali berkembang terlalu cepat.

Dengan demikian, dua indikator berbeda sedang menjadi perhatian pasar. Siklus jangka panjang yang diamati Gerla masih menyisakan sekitar 35 hari dan potensi pengujian lower band, sedangkan data derivatif Darkfost menunjukkan leverage mulai kembali setelah deleveraging besar.

Pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang akan menentukan apakah rebound mampu bertahan atau koreksi kembali berlanjut sebelum bottom yang lebih kuat terbentuk.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait