Harga Bitcoin (BTC) berpeluang memperoleh dorongan positif setelah data inflasi AS terbaru menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan pasar.
Perlambatan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif dalam waktu dekat, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Berdasarkan data Consumer Price Index (CPI) AS terbaru yang rilis pada Selasa malam (14/7/2026), inflasi tahunan tercatat sebesar 3,5 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 3,8 persen dan turun dari periode sebelumnya yang mencapai 4,2 persen.
Sementara itu, inflasi inti (Core CPI) juga melambat menjadi 2,6 persen, di bawah ekspektasi 2,8 persen. Kondisi ini dinilai mendukung prospek harga Bitcoin karena biasanya diikuti pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya likuiditas di pasar keuangan.
Harga Bitcoin Menguat di Tengah Sentimen Positif Inflasi
Sentimen positif dari data inflasi turut tercermin pada pergerakan harga Bitcoin di pasar. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.806, setara Rp1,15 miliar, dengan kenaikan sekitar 2,04 persen dalam 24 jam terakhir.
Aktivitas perdagangan juga meningkat, tercermin dari volume transaksi harian yang mencapai sekitar US$27,64 miliar atau naik sekitar 19,03 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Secara historis, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan sering menjadi katalis positif bagi aset berisiko. Perlambatan CPI dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga mendorong penurunan Treasury yield dan melemahkan indeks dolar AS (DXY).
Kombinasi faktor tersebut biasanya membuat investor lebih percaya diri untuk kembali menempatkan dana pada aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk Bitcoin.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan faktor eksternal lain, seperti kondisi geopolitik dan pergerakan harga energi global yang berpotensi memengaruhi arah inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya dapat menjadi lebih terbatas.
Pola Teknikal Buka Peluang Reli Baru Bitcoin
Di sisi teknikal, analis Zayk menilai harga Bitcoin sedang memasuki fase penting pada grafik mingguan. Bitcoin saat ini menguji batas bawah pola falling wedge yang telah terbentuk selama beberapa bulan terakhir.

Area tersebut dipandang sebagai level support krusial yang akan menentukan apakah struktur bullish jangka menengah masih dapat dipertahankan atau justru berubah menjadi koreksi yang lebih dalam.
Menurutnya, indikator Relative Strength Index (RSI) mulai memperlihatkan bullish divergence, yakni kondisi ketika indikator membentuk tren naik sementara harga masih bergerak melemah.
Pola tersebut kerap diartikan sebagai sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda dan momentum bearish kehilangan kekuatan sehingga membuka peluang pembalikan arah apabila didukung kenaikan harga.
Meski begitu, konfirmasi tetap diperlukan. Zayk menilai reaksi harga Bitcoin di area support tersebut akan menjadi penentu. Apabila support mampu bertahan dan harga berhasil menembus garis resistance pola falling wedge, Bitcoin berpeluang memulai reli baru.
Sebaliknya, apabila support tersebut ditembus, risiko koreksi lanjutan masih terbuka sebelum terbentuk sinyal pembalikan yang lebih kuat.
Kapitulasi Investor Bitcoin Kembali Terjadi, Apa Dampaknya?
Sementara itu, analis Amr Taha di CryptoQuant mencatat bahwa tekanan pada investor Bitcoin jangka pendek masih cukup besar meski prospek makro mulai membaik.
Kapitalisasi pasar yang dimiliki pemegang Bitcoin jangka pendek (STH) turun menjadi sekitar US$233,9 miliar, lebih rendah dibandingkan titik terendah pada Oktober 2024 yang berada di kisaran US$237,7 miliar.

Selain itu, realized cap kelompok investor tersebut turun menjadi sekitar US$260,8 miliar, level terendah sejak Oktober 2024.
Selisih sekitar US$26,9 miliar antara market cap dan realized cap menunjukkan bahwa kelompok investor jangka pendek secara kolektif masih menanggung kerugian belum terealisasi sekitar 10,3 persen.

Tekanan itu juga tercermin dari arus dana ke bursa. Pada 13 Juli, sekitar 10.000 BTC milik investor jangka pendek dipindahkan ke Binance dalam kondisi rugi, menjadi transfer dengan realisasi kerugian terbesar sejak 26 Juni ketika sekitar 11.800 BTC mengalami kondisi serupa.
Meski demikian, perpindahan aset ke bursa tidak otomatis berarti seluruh Bitcoin tersebut langsung dijual.
Amr Taha mengatakan kondisi pasar saat ini belum menjamin Bitcoin akan mengulangi pergerakan yang sama seperti siklus sebelumnya.
Meski demikian, ia menilai kombinasi penurunan kapitalisasi pasar pemegang jangka pendek, defisit basis biaya sebesar US$26,9 miliar, serta kembali meningkatnya transfer Bitcoin ke Binance dalam kondisi rugi menunjukkan tekanan yang masih besar di kelompok investor tersebut.
“Segmen investor jangka pendek sedang mengalami salah satu fase reset terdalam sejak Oktober 2024,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi serupa pernah terjadi pada Oktober 2024 ketika Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$60.800 sebelum akhirnya membentuk titik terendah siklus dan melanjutkan kenaikan hingga menembus US$124.000.
Meski pola historis tidak menjamin pergerakan yang sama akan terulang, kombinasi dukungan dari data inflasi AS yang melandai, peluang teknikal yang mulai menguat, serta fase reset investor jangka pendek menjadi faktor yang kini terus dipantau pelaku pasar dalam membaca arah harga Bitcoin selanjutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


