Harga Bitcoin (BTC) menghadapi risiko koreksi tajam apabila reli berikutnya gagal menembus garis tren turun utama yang membatasi pergerakan aset kripto tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Analis kripto Gerla memperkirakan koin utama ini masih berpeluang bergerak naik terlebih dahulu menuju kisaran US$68.000-US$70.000, tetapi justru area tersebut berpotensi menjadi jebakan sebelum penurunan lebih dari 20 persen.
Dalam analisis terbarunya, Gerla menilai BTC saat ini masih bergerak di dalam ascending channel, dengan posisi harga berada di sekitar US$63.000. Selama struktur tersebut bertahan, kenaikan lanjutan masih memungkinkan.
Namun, fokus utama bukan sekadar seberapa tinggi harga Bitcoin dapat naik, melainkan bagaimana responsnya ketika kembali berhadapan dengan descending trendline jangka panjang.
Kenaikan Harga Bitcoin Menyimpan Jebakan Besar
Gerla menempatkan area sekitar US$68.000 hingga US$70.000 sebagai zona krusial berikutnya. Area itu berdekatan dengan garis tren turun besar yang sejak akhir 2025 beberapa kali menjadi penghalang kenaikan BTC.
Garis tersebut sebelumnya memicu rejection ketika Bitcoin berada di sekitar US$107.000-US$109.000, kemudian US$97.000-US$99.000, dan kembali saat bergerak di area US$81.000-US$83.000.

Pola tersebut membuat potensi pertemuan berikutnya dengan trendline menjadi penting. Dalam skenario Gerla, harga Bitcoin dapat terlebih dahulu melanjutkan kenaikan melalui ascending channel sebelum menyentuh resistance tersebut. Namun, ia tidak langsung menganggap sentuhan terhadap resistance sebagai sinyal jual.
Konfirmasi rejection tetap diperlukan. Apabila BTC mencapai garis tren utama dan kemudian menunjukkan rejection yang jelas, Gerla menilai kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi penurunan lebih dari 20 persen. Dengan asumsi rejection terjadi di sekitar US$69.000, koreksi sebesar itu akan membawa BTC mendekati area US$55.000.
Proyeksi pada grafik bahkan mengarah ke rentang sekitar US$54.000-US$56.000 sebagai wilayah yang dapat diuji apabila tekanan jual kembali mendominasi. Sebelum menuju area tersebut, US$60.000 berpotensi berfungsi sebagai support psikologis sementara.
Di sisi lain, area US$62.000-US$63.000 menjadi wilayah penting dalam mempertahankan struktur kenaikan jangka pendek. Pelemahan yang membuat BTC keluar dari ascending channel dapat mempercepat perubahan struktur sebelum harga Bitcoin sempat menguji resistance utama di atasnya.
Dengan demikian, risiko yang disoroti Gerla bukan berada pada kondisi pasar sekarang saja, tetapi terutama apabila reli ke US$68.000-US$70.000 gagal berlanjut. Zona tersebut dapat berubah dari target kenaikan menjadi titik awal tekanan jual baru jika buyer tidak mampu mendorong breakout terkonfirmasi di atas garis tren turun.
Seller Mulai Mundur, Bull Belum Menang
Sementara analisis teknikal memperlihatkan risiko rejection di area lebih tinggi, data on-chain yang diamati analis CoinNiel di CryptoQuant menunjukkan tekanan jual Bitcoin justru mulai berkurang. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pasar telah beralih ke fase bullish yang kuat.
Exchange Netflow Bitcoin tercatat turun drastis dari positif 3.507 BTC pada 14 Agustus menjadi hanya sekitar positif 29 BTC.
Penurunan aliran BTC menuju bursa tersebut mengindikasikan berkurangnya tekanan jual langsung, karena semakin sedikit koin yang masuk ke platform perdagangan dibanding beberapa hari sebelumnya.
Pada saat yang sama, Funding Rate turun dari 0,0228 menjadi 0,00465. Open Interest juga melemah dari sekitar US$23,11 miliar menjadi US$22,94 miliar. Kombinasi tersebut menunjukkan kondisi posisi long yang sebelumnya terlalu panas mulai mereda, meski leverage di pasar derivatif belum sepenuhnya kembali ke tingkat rendah.
“Tekanan jual mereda dan leverage mendingin, tetapi minat terbuka masih relatif tinggi,” ungkapnya.

CoinNiel juga mencatat Exchange Stablecoins Ratio masih sedikit berada di atas rata-rata 30 hari. Kondisi tersebut membuat likuiditas tetap perlu diperhatikan bersamaan dengan perubahan Netflow serta posisi pelaku pasar di instrumen derivatif.
Menurut analisis tersebut, pasar saat ini lebih bergerak menuju kondisi netral dibanding memberikan sinyal beli kuat.
Berkurangnya arus masuk BTC ke bursa dan normalisasi funding menjadi perkembangan konstruktif bagi harga Bitcoin, tetapi peningkatan kembali Netflow, Funding Rate, serta Open Interest dapat mengurangi peluang skenario penurunan risiko tersebut bertahan.
Konfirmasi yang lebih kuat akan muncul apabila Exchange Netflow berbalik negatif, yang menunjukkan lebih banyak BTC keluar dari bursa, sementara Funding Rate tetap terkendali. CoinNiel juga akan mengamati apakah Open Interest kembali meningkat setelah fase cooling down saat ini.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


