Harga Bitcoin Bersiap Cetak Sejarah? Pola yang Dulu Picu Reli 700 Persen Kembali Lagi

Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah analis melihat kemunculan sinyal teknikal yang pernah mendahului reli besar pada siklus sebelumnya.

Salah satu yang menarik perhatian datang dari analis Ali Martinez, yang menilai pola bullish divergence pada indikator Relative Strength Index (RSI) mingguan kembali terbentuk. Pada siklus terakhir ketika pola serupa muncul, Bitcoin kemudian melonjak lebih dari 700 persen hingga mencetak rekor harga baru.

Di sisi lain, pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$65.390, setara Rp1,17 miliar, dengan kenaikan sekitar 1,55 persen dalam 24 jam terakhir.

Pergerakan tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati apakah aset kripto terbesar di dunia itu benar-benar sedang memasuki fase awal pemulihan yang berpotensi berkembang menjadi reli lebih besar.

Pola Bullish Divergence Bitcoin Kembali Muncul, Akankah Reli Terulang?

Menurut Ali Martinez, indikator RSI pada grafik mingguan kembali memperlihatkan bullish divergence, yaitu kondisi ketika RSI mulai membentuk higher low sementara harga BTC masih mencetak lower low. Pola ini sering diartikan sebagai tanda bahwa tekanan jual mulai melemah meskipun harga belum sepenuhnya berbalik naik.

BTC analisis 16 jul

Ali membandingkan kondisi tersebut dengan pola yang muncul pada penghujung 2022. Saat itu, Bitcoin membentuk divergence serupa di time frame mingguan sebelum akhirnya memulai reli panjang yang menghasilkan kenaikan sekitar 717 persen, dari kisaran US$15.500 hingga mendekati US$120.000.

BACA JUGA:  CryptoQuant ‘Larang’ Strategy Beli Bitcoin Lagi, Ini Alasannya

Pada grafik terbaru, area sekitar US$63.844 menjadi titik penting yang menandai pembentukan divergence tersebut. Selama harga Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, struktur pemulihan dinilai masih tetap terjaga. Sebaliknya, apabila support itu kembali ditembus, peluang terjadinya kelanjutan tren naik dapat melemah.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Meski demikian, Ali tidak menyatakan bahwa reli ratusan persen pasti akan terulang. Analisis tersebut lebih menunjukkan adanya kemiripan struktur teknikal dengan siklus sebelumnya, sehingga pelaku pasar kini menunggu konfirmasi lanjutan melalui pergerakan harga dan momentum pasar dalam beberapa pekan mendatang.

Dua Level yang Jadi Penentu Arah Bitcoin Selanjutnya

Pandangan yang lebih berfokus pada jangka pendek disampaikan analis Wealthmanager. Ia menilai harga Bitcoin kembali menunjukkan momentum bullish setelah berhasil bergerak mendekati area resistance utama di US$65.500.

Bitcoin analisis 16 jl

Menurutnya, level tersebut menjadi batas penting yang harus ditembus. Apabila Bitcoin berhasil melewati US$65.500 kemudian mengubahnya menjadi support atau support flip, kondisi itu akan mengindikasikan bahwa pembeli masih mendominasi pasar dan membuka ruang kenaikan menuju US$67.000.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Bikin Pasar Salah Sangka? Pola Ini Justru Isyaratkan Lonjakan

Namun, Wealthmanager mengingatkan bahwa US$67.000 bukan hanya target kenaikan, melainkan juga area yang berpotensi memunculkan tekanan jual. Level tersebut bertepatan dengan Point of Control (POC) dari higher time frame (HTF), yaitu zona dengan volume transaksi terbesar dalam rentang harga tersebut.

Karena itu, meskipun peluang kenaikan masih terbuka, area tersebut dipandang sebagai resistance kuat yang layak diwaspadai apabila memicu penolakan harga.

Akumulasi Whale Capai Rekor, Bitcoin Dinilai Siap Memasuki Fase Pemulihan

Sementara itu, analis CW di CryptoQuant melihat sinyal pemulihan dari sisi data on-chain. Ia menjelaskan bahwa Bitcoin kini telah kembali bergerak ke dalam garis tren Supply in Loss, yaitu indikator yang mengukur persentase pasokan Bitcoin yang berada dalam posisi rugi.

Bitcoin supply in loss 16 jul

Menurutnya, secara historis dasar harga Bitcoin pada setiap siklus umumnya terbentuk di sekitar garis tren tersebut. Namun pada siklus kali ini, indikator sempat bergerak di atas garis tersebut, yang menunjukkan bahwa pasar mengalami tekanan turun lebih besar dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.

CW juga menyoroti bahwa proporsi kepemilikan Bitcoin oleh whale kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, periode akumulasi berlangsung lebih lama dibandingkan siklus sebelumnya.

BACA JUGA:  US$60.000 Jadi Benteng Bitcoin, Pola 'W' Buka Harapan Bull Run

Sementara itu, penurunan yang terjadi pada Juni disebut memicu aksi jual besar dari investor ritel, menciptakan salah satu tekanan turun paling kuat dalam sejarah Bitcoin.

Meski demikian, Bitcoin berhasil pulih dengan cepat setelah tekanan tersebut mereda dan mulai kembali ke jalur tren historisnya. Berdasarkan indikator yang diamati, CW menilai dasar harga kemungkinan telah terbentuk dan pasar sedang memasuki tahap persiapan menuju fase pemulihan.

“Setelah tekanan turun terkuat dalam sejarah, tekanan naik terkuat akan muncul,” ujar CW.

Dengan kombinasi sinyal teknikal dari grafik mingguan, level resistance jangka pendek yang mulai diuji, serta indikator on-chain yang menunjukkan berkurangnya tekanan jual, harga Bitcoin kini memasuki fase yang menjadi perhatian banyak analis.

Meskipun seluruh skenario tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pergerakan harga berikutnya, sejumlah indikator menunjukkan bahwa pasar mulai membangun fondasi yang lebih kuat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait