Harga Bitcoin kembali berada dalam tekanan setelah reli kuat sebelumnya mulai kehilangan momentum. Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di sekitar US$77.532, setara Rp1,37 miliar, turun 2,39 persen dalam 24 jam.
Pergerakan tersebut menempatkan aset kripto terbesar dunia itu di bawah area psikologis US$80.000, ketika pelaku pasar masih mencari arah berikutnya setelah volatilitas meningkat menjelang akhir Agustus.
Koreksi jangka pendek terjadi setelah BTC sebelumnya mencatat kenaikan tajam dari kisaran US$64.000 dan sempat mendekati US$81.000. Kini, kemampuan pembeli mempertahankan area pertengahan US$70.000 menjadi perhatian karena pelemahan lebih dalam dapat memperpanjang konsolidasi.
Sebaliknya, kembalinya permintaan yang cukup kuat untuk membawa harga Bitcoin melewati resistance terdekat dapat membuka ruang bagi pengujian level yang lebih tinggi.
US$83.000 Jadi Garis Pemisah Bull dan Bear Bitcoin
Analis kripto Rod melihat struktur BTC pada grafik empat jam masih sesuai dengan skenario bullish dalam Elliott Wave. Menurut pemetaannya, harga Bitcoin saat ini sedang menjalani wave 4, yakni fase korektif yang muncul setelah ekspansi kuat pada wave 3. Fase tersebut diperkirakan menjadi koreksi terakhir sebelum peluang pembentukan wave 5.

Dalam skenario Rod, koreksi wave 4 berpotensi membawa BTC mendekati kawasan US$75.000–US$76.000. Apabila pembeli mampu mempertahankan area tersebut, momentum berikutnya berpeluang mendorong aset ini menuju US$85.000–US$86.000 sebagai bagian dari wave 5.
Namun, US$83.000 menjadi level konfirmasi paling penting dalam proyeksi tersebut. Rod menilai breakout di atas area itu dapat mengubah keseimbangan pasar secara signifikan dan memperlemah skenario bearish.
Dengan kata lain, harga Bitcoin perlu merebut US$83.000 untuk memberikan konfirmasi lebih kuat bahwa tren naik belum selesai.
Skenario bullish itu tidak berarti BTC diperkirakan terus naik tanpa koreksi. Setelah wave 5 terbentuk, Rod memproyeksikan kemungkinan munculnya struktur re-akumulasi A-B-C.
Dalam ilustrasinya, wave A dapat membawa BTC kembali menuju sekitar US$76.000, disusul pemulihan wave B menuju US$82.000, sebelum wave C berpotensi menguji area US$71.000–US$72.000.
Jika fase re-akumulasi tersebut berhasil diselesaikan tanpa merusak struktur yang lebih besar, harga Bitcoin berpeluang kembali membangun momentum.
Proyeksi lanjutan Rod kemudian mengarah ke kawasan US$87.000–US$88.000, meski skenario tersebut tetap bergantung pada keberhasilan BTC menembus US$83.000 terlebih dahulu.
Kebijakan The Fed Bisa Uji Kekuatan Reli Bitcoin
Di luar faktor teknikal, analis XWIN Japan di CryptoQuant menyoroti risiko makroekonomi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pidato utama di Jackson Hole.
Warsh menegaskan inflasi masih menjadi perhatian utama bank sentral AS dan tidak memberikan sinyal bahwa pemangkasan suku bunga, yang terhenti sejak Desember 2025, akan segera dilanjutkan.
Warsh menilai ekonomi AS tetap tangguh, dengan tingkat pengangguran 4,1 persen, konsumsi yang sehat, serta investasi bisnis tumbuh sekitar 9 persen. Lebih dari separuh peningkatan investasi tahun ini berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), sementara laba korporasi dilaporkan meningkat lebih dari 20 persen.
Masalah utama berada pada inflasi. Inflasi PCE tercatat 3,7 persen secara tahunan dan mencapai 4,1 persen berdasarkan laju tahunan enam bulan.
Selain itu, 54 persen komponen PCE mengalami kenaikan lebih dari 3 persen, jauh di atas rata-rata sebelum pandemi sebesar 32 persen. XWIN Japan menilai sikap tersebut membawa konsekuensi hawkish bagi pasar kripto.
“Bagi Bitcoin, pesan ini hawkish karena peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil sekarang,” ungkap XWIN.
Ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dapat mendorong imbal hasil obligasi dan dolar AS, sekaligus mengurangi daya tarik aset yang sensitif terhadap likuiditas.
Kondisi tersebut membuat prospek harga Bitcoin tidak hanya bergantung pada struktur teknikal. Permintaan spot dan ETF yang kuat dapat membantu menyerap tekanan jual, tetapi kenaikan berikutnya membutuhkan arus modal riil jika The Fed tidak segera memberikan dukungan melalui pelonggaran moneter.
Dengan demikian, kemampuan harga Bitcoin menembus US$83.000 akan diuji bersamaan dengan lingkungan likuiditas global yang masih ketat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


