Harga Bitcoin tengah berada di fase krusial setelah bergerak di kisaran US$63.000, sementara risiko koreksi lebih dalam masih membayangi pasar.
Di tengah kondisi tersebut, analis kripto Aralez memetakan skenario yang memperkirakan BTC dapat turun hingga kisaran US$40.000–US$45.000 sebelum kembali membangun tren naik.
Menurut roadmap-nya untuk tahun 2026, kenaikan pada Agustus berpotensi menjadi bull trap, sebelum fase distribusi pada September dan penurunan lebih dalam hingga Oktober.
Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di sekitar US$63.488, setara Rp1,13 miliar, dengan kenaikan tipis sekitar 0,02 persen dalam 24 jam terakhir.
Pergerakan yang relatif datar tersebut terjadi ketika BTC masih kesulitan membangun momentum kenaikan berkelanjutan, meski data inflasi terbaru AS memberikan kondisi makro yang secara teori lebih kondusif bagi aset berisiko.
Reli ke US$70.000 Bisa Jadi Jebakan Sebelum Harga BTC Terjun
Dalam analisisnya, Aralez memperkirakan harga Bitcoin terlebih dahulu berpeluang naik menuju sekitar US$70.000 pada Agustus. Namun, reli tersebut tidak dipandang sebagai awal kenaikan berkelanjutan. Sebaliknya, ia menandainya sebagai potensi bull trap sebelum pasar memasuki fase distribusi pada September.

Setelah distribusi berlangsung, tekanan jual diproyeksikan menyeret BTC ke bawah US$57.000. Penurunan kemudian diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober dengan terbentuknya bottom di kisaran US$40.000–US$45.000.
Aralez secara khusus menyoroti area sekitar US$42.105 sebagai salah satu level yang perlu diperhatikan apabila skenario bearish itu terwujud.
Menurut skenario tersebut, November kemudian menjadi periode akumulasi setelah dasar terbentuk. Aralez memperkirakan BTC mulai membangun tren naik baru dari area tersebut sebelum memasuki reli pada Desember.
Dalam perjalanan naik, grafik menandai US$89.876, US$94.797 dan US$99.718 sebagai level penting ketika Bitcoin kembali mendekati zona US$100.000.
Setelah mencapai sekitar US$100.000, Aralez memperkirakan periode akumulasi selama 30–45 hari sebelum reli berikutnya. Target akhirnya mengarah kembali ke area rekor tertinggi sekitar US$126.000, bahkan grafiknya membuka kemungkinan harga bergerak lebih tinggi setelah level tersebut ditembus.
Dengan demikian, proyeksi itu menggambarkan koreksi besar sebagai fase sebelum pemulihan, bukan akhir dari siklus kenaikan Bitcoin.
Enam Kali Gagal Tembus, Bitcoin Kini Terancam Dijebak Likuiditas
Di tengah proyeksi koreksi Bitcoin yang lebih besar, pergerakan jangka pendek BTC juga menghadapi level krusial. Analisis HolderStat pada time frame 4 jam menunjukkan harga masih tertahan di bawah resistance lokal US$63.819.

Area tersebut telah disentuh sekitar enam kali, sehingga dinilai berpotensi membentuk liquidity trap. Selama harga Bitcoin tetap berada di bawah level tersebut, bias jangka pendek masih condong bearish.
Tekanan jual berpotensi meningkat apabila BTC kehilangan support wedge di sekitar US$63.325. Support berikutnya berada di US$62.855, sedangkan target penurunan utama dipetakan hingga US$61.238.
Struktur saat ini juga memperlihatkan wedge kecil di dalam pola descending wedge yang jauh lebih besar dan telah terbentuk selama sekitar 209 candle. Kondisi tersebut menunjukkan BTC sedang berada dalam fase kompresi menjelang pergerakan yang lebih menentukan.
Namun, skenario penurunan itu dapat kehilangan validitas apabila Bitcoin berhasil menembus US$63.820 dengan dukungan volume. Jika breakout terkonfirmasi, perhatian selanjutnya beralih ke resistance tren sekitar US$66.784.
Penembusan struktur besar tersebut dapat mengubah prospek teknikal menjadi lebih bullish, dengan proyeksi pada grafik membuka ruang menuju kawasan US$73.000–US$74.000. Karena itu, reaksi harga di sekitar US$63.820 menjadi salah satu penentu apakah BTC lebih dahulu memperpanjang koreksi atau justru memulai pemulihan.
CPI dan PPI Sudah Mendukung, Tapi Pembeli Bitcoin Justru Menghilang
Melirik ke sisi non-teknikal, analis XWIN Japan di CryptoQuant melihat persoalan lain di balik lemahnya harga Bitcoin, yakni permintaan pasar spot yang belum cukup kuat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena BTC gagal mencatat reli kuat setelah publikasi data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS.
Data CPI Juli secara umum berada sesuai ekspektasi, sedangkan PPI dilaporkan lebih baik dengan pertumbuhan bulanan 0,0 persen dibandingkan perkiraan kenaikan 0,2 persen.
Kondisi inflasi yang lebih lunak secara teori dapat mengurangi tekanan terhadap kebijakan moneter The Fed, menekan imbal hasil obligasi dan memperbaiki likuiditas untuk aset berisiko. Pasar saham AS menguat dan imbal hasil obligasi turun, tetapi Bitcoin tetap bertahan di kisaran US$63.000–US$64.000.
XWIN Japan menilai respons tersebut menunjukkan lemahnya permintaan spot. Aktivitas perdagangan spot masih terbatas, sementara arus dana ke Bitcoin ETF spot AS juga belum memberikan dorongan berarti.

Coinbase Premium Index bahkan sebagian besar berada di wilayah negatif sejak Mei dan berada di sekitar minus 0,1 persen, yang mengindikasikan terbatasnya tekanan beli dari investor berbasis di AS.
“Kabar makro positif belum cukup karena permintaan spot Bitcoin masih tetap lemah,” ungkap XWIN Japan.
Pada saat yang sama, posisi di pasar futures masih relatif besar. Kombinasi pembelian spot yang lemah, likuiditas tipis dan tingginya posisi dengan leverage dapat meningkatkan risiko pelepasan posisi long ketika berita makro positif gagal mendorong harga naik.
XWIN Japan juga menyoroti US$68.700 sebagai level penting karena berdekatan dengan Short-Term Holder Cost Basis. Investor yang baru beli BTC berpotensi menjual ketika harga pulih ke area tersebut, sehingga menciptakan tambahan pasokan di atas pasar.
Karena itu, keberlanjutan reli harga Bitcoin dinilai membutuhkan perubahan pada struktur permintaan. Arus masuk ETF perlu kembali menguat, Coinbase Premium bergerak positif, volume spot meningkat dan BTC harus mampu merebut kembali area US$68.700.
Tanpa perubahan tersebut, kegagalan Bitcoin merespons kondisi makro yang lebih mendukung dapat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap harga Bitcoin belum sepenuhnya berakhir.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


