Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah lonjakan tajam dari kisaran US$60.000 membawa BTC untuk sempat menembus area US$79.000.
Meski momentum tersebut memperkuat dugaan bahwa fase bearish mulai mendekati akhir, proyeksi teknikal terbaru masih membuka peluang terjadinya satu penurunan besar sebelum Bitcoin benar-benar memasuki fase reli berikutnya.
Analis Klondike memetakan pergerakan BTC menggunakan skema Wyckoff Accumulation pada grafik tiga harian. Berdasarkan proyeksinya, struktur pasar belum sepenuhnya menyelesaikan fase akumulasi.
Bitcoin masih berpotensi kembali menguji US$62.300 hingga US$59.100 sebelum memasuki tahapan bullish yang lebih kuat.
Wyckoff Isyaratkan Kejatuhan Terakhir Harga Bitcoin
Dalam pemetaan Klondike, struktur Bitcoin sebelumnya telah melewati beberapa tahapan awal Wyckoff, mulai dari Preliminary Support (PS), Selling Climax (SC), Automatic Rally (AR), hingga Secondary Test (ST).
Pergerakan tersebut kemudian membawa pasar memasuki Phase B, yakni periode ketika penawaran dan permintaan masih berusaha menemukan keseimbangan.

Namun, proyeksi tersebut tidak menggambarkan perjalanan lurus menuju level lebih tinggi. Harga Bitcoin justru diperkirakan dapat kembali menuju support US$62.345 dan kemudian memasuki Phase C.
Pada tahap ini, Klondike memperkirakan adanya potensi Spring, yaitu pergerakan singkat ke bawah support yang dapat membawa BTC mendekati US$59.100 sebelum kembali pulih.
Jika skenario itu terjadi, penurunan tersebut akan menjadi bagian penting dari proses pengujian pasokan, bukan otomatis menandakan dimulainya tren bearish baru. Setelah Spring, grafik Klondike memperlihatkan potensi Test yang kemudian diikuti pembentukan Last Point of Support (LPS).
Fase berikutnya menjadi bagian krusial dari skenario. BTC diproyeksikan bergerak menuju resistance sekitar US$81.447 dan memasuki Phase D dengan membentuk Sign of Strength (SOS). Area itu penting karena keberhasilan menembusnya dapat membuka ruang bagi perubahan karakter pasar dari akumulasi menuju markup.
Bitcoin masih dapat melakukan koreksi melalui Backup/Last Point of Support (BU/LPS) setelah breakout. Namun, apabila resistance lama berubah menjadi support, Phase E dalam skema tersebut memproyeksikan ekspansi menuju US$90.000, melewati US$100.000, dan kemudian mendekati kawasan US$110.000-US$115.000.
Dengan demikian, jalur yang diproyeksikan Klondike menyiratkan paradoks, yakni harga Bitcoin masih dapat jatuh cukup dalam terlebih dahulu, tetapi pelemahan itu justru berpotensi menjadi tahap terakhir sebelum struktur akumulasi selesai. Jalur tersebut tetap merupakan proyeksi teknikal dan belum menjadi pergerakan harga yang terkonfirmasi.
US$60.000 Bisa Jadi Titik Balik
Pandangan bahwa fase bearish mulai kehilangan tenaga juga muncul dari XWIN Japan melalui analisis di CryptoQuant.
Ia menyoroti perubahan struktur pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir setelah BTC keluar dari rentang perdagangan sekitar US$62.000-US$67.000 yang telah bertahan selama enam pekan, lalu melonjak hingga sekitar US$79.400.
Perubahan tersebut sejalan dengan pernyataan CEO CryptoQuant Ki Young Ju pada 21 Agustus. XWIN Japan mencatat bahwa Ju mulai melihat reli dalam kondisi pasar bearish sebagai indikasi bahwa titik terendah kemungkinan telah terbentuk dan fase bearish mendekati akhir.
Pergeseran pandangan itu dinilai penting karena terjadi bersamaan dengan perubahan sejumlah indikator pasar, bukan semata karena kenaikan harga.
Permintaan di pasar spot dan perpetual disebut membaik, sementara Bitcoin ETF spot AS membukukan arus masuk bersih sekitar US$1,92 miliar dalam lima hari perdagangan. Kondisi itu mengindikasikan kenaikan harga Bitcoin tidak sepenuhnya digerakkan oleh aktivitas derivatif.

Data on-chain juga memberikan sinyal serupa. Berdasarkan level Glassnode per 19 Agustus yang dikutip XWIN Japan, Short-Term Holder Cost Basis berada di sekitar US$68.500, sedangkan True Market Mean berada di sekitar US$75.800. BTC kemudian berhasil merebut kembali kedua area tersebut.

Meski demikian, risiko koreksi belum hilang. Breakout terbaru turut memicu sekitar US$3 miliar likuidasi posisi short, sehingga short squeeze ikut memperbesar laju kenaikan.
Selain itu, Bitcoin pernah melesat dari sekitar US$60.000 menuju US$82.000 pada awal tahun ini sebelum pergerakan tersebut akhirnya terbukti hanya menjadi reli di tengah pasar bearish.
Karena itu, area US$75.000-US$76.000 kini menjadi salah satu pengujian penting. Jika harga Bitcoin mampu mempertahankan zona tersebut, menembus US$80.000 dan kemudian melewati resistance sebelumnya di US$82.000-US$83.000 dengan dukungan permintaan spot serta arus ETF yang tetap kuat, peluang terjadinya perubahan rezim pasar akan semakin besar.
Untuk saat ini, data XWIN Japan menunjukkan probabilitas bahwa kisaran US$60.000 telah menjadi dasar siklus meningkat secara signifikan. Namun, harga Bitcoin masih membutuhkan permintaan spot yang berkelanjutan dan kemampuan bertahan di atas level cost basis utama untuk mengonfirmasi bahwa fase bearish benar-benar telah berakhir.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


