Harga Bitcoin Bisa Turun ke US$50.000? Ini Analisis Wintermute

Pasar kripto akhirnya mendapat sedikit ruang bernapas setelah beberapa pekan diterpa tekanan makroekonomi dan gejolak geopolitik. Harga Bitcoin pun berhasil memantul dari level terendahnya seiring membaiknya sentimen pasar.

Namun, Wintermute menilai reli tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi kembalinya tren bullish. Bahkan, perusahaan perdagangan aset digital itu mengingatkan bahwa harga BTC masih berpeluang turun ke kisaran US$50.000.

Sentimen Makro Membaik, Bitcoin Ikut Pulih

Lewat analisis yang diunggah pada Senin (15/06/2026), Wintermute menilai pasar pekan ini didorong dua sentimen positif, salah satunya data inflasi Amerika Serikat Mei sebesar 4,2 persen secara tahunan yang sesuai ekspektasi pasar.

Sementara itu, inflasi inti justru melambat menjadi 2,9 persen. Kondisi tersebut memberikan harapan bahwa tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi mulai mereda dan tidak meluas ke sektor lainnya.

Di saat yang sama, berakhirnya konflik Iran juga menjadi katalis positif. Dibukanya kembali Selat Hormuz membuat harga minyak Brent turun tajam dari kisaran US$110 menuju level US$80-an, sehingga tekanan inflasi global ikut berkurang.

BACA JUGA:  Orang Ini Kehilangan Bitcoin Senilai Rp147 Miliar, Kok Bisa?

Data ini tercermin dari performa lintas aset pada pekan ke-24. Russell 2000 memimpin kenaikan 4,0 persen, diikuti altcoin 3,1 persen, Nasdaq 2,3 persen, dan Bitcoin 1,9 persen. Sebaliknya, minyak Brent menjadi aset dengan kinerja terburuk setelah turun 6,6 persen.

Performa Beberapa Komoditas di Pasar Global - Wintermute
Performa Beberapa Komoditas di Pasar Global – Wintermute

Meski begitu, Wintermute menilai pasar masih berada dalam fase menunggu keputusan Federal Reserve. Sikap bank sentral Amerika Serikat terhadap inflasi akan menjadi faktor penting yang menentukan arah aset berisiko pada paruh kedua tahun ini.

Reli BTC Belum Menjamin Tren Bullish Kembali

Menurut Wintermute, reli yang terjadi pekan ini belum cukup menjadi sinyal kembalinya tren bullish. Dalam dua pekan sebelumnya, pasar kripto sempat terkoreksi lebih dari 10 persen, sementara harga Bitcoin merosot sekitar 14 persen hanya dalam sepekan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Perusahaan tersebut menilai pelemahan itu bukan semata dipicu isu penjualan Bitcoin oleh Michael Saylor, melainkan kombinasi meningkatnya kekhawatiran inflasi serta berakhirnya reli dari kisaran US$60.000 menuju US$83.000 yang kini dinilai hanya sebagai bear market rally.

“Pekan ini menjadi momen pemulihan. Bitcoin bangkit dari level US$60.000 dan ditutup menguat 1,9 persen, sementara altcoin naik 3,1 persen. Namun, secara fundamental belum ada perubahan yang signifikan,” tulis Wintermute.

BACA JUGA:  Bitcoin Bisa Tertekan hingga September? Analis Soroti Satu Sinyal Bahaya Ini

Wintermute juga mencatat pasar telah mengalami tiga kali koreksi lebih dari 20 persen sejak Oktober tahun lalu. Koreksi terakhir bahkan disebut sebagai bear market fakeout yang menjebak pelaku pasar bullish maupun bearish.

Selain itu, aktivitas di pasar derivatif masih relatif sepi. Baik kontrak perpetual maupun opsi belum menunjukkan minat terhadap posisi directional, sehingga fase konsolidasi diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

“Selama tidak ada sentimen besar baru, skenario yang paling mungkin terjadi adalah fase konsolidasi hingga memasuki musim panas,” sebagaimana tercantum pada analisis tersebut.

Harga Bitcoin Berpotensi Kembali ke US$50.000

Meski area US$60.000 dinilai menarik untuk investasi jangka panjang bagi Bitcoin, Wintermute menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti pasar sudah mencapai titik terendah dalam siklus BTC saat ini.

“Hal itu bukan berarti pasar telah mencapai titik terendah. Masih ada kemungkinan Bitcoin kembali diperdagangkan di kisaran US$50.000 sebelum kondisi benar-benar membaik,” tulis Wintermute.

Siklus 4 Tahunan Bitcoin Berakhir? Data Ini Ungkap Fakta Mengejutkan

Artinya, peluang Bitcoin kembali diperdagangkan di kisaran US$50.000 masih terbuka jika kondisi likuiditas belum membaik, mengingat sejumlah indikator pasar belum menunjukkan pemulihan yang kuat.

BACA JUGA:  Mengapa Harga Bitcoin Tak Kunjung Melejit? Data Ini Ungkap Fakta Mengejutkan

“Hal yang perlu diperhatikan adalah arus dana, bukan harga atau sentimen. Pada siklus sebelumnya, kenaikan pasar ditandai oleh peningkatan berkelanjutan arus masuk ETF dan stablecoin, dan hingga saat ini belum ada tanda ke arah tersebut,” ungkap mereka.

Dengan demikian, investor perlu tetap waspada. Selama likuiditas belum pulih dan arus dana belum kembali menguat, risiko harga Bitcoin kembali turun ke US$50.000 masih belum sepenuhnya tertutup.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait