Harga Bitcoin kembali berada di area krusial. Setelah terkoreksi cukup panjang dari puncaknya, BTC kini bergerak di kisaran US$63.000 hingga US$64.000 dan masih kesulitan membangun momentum pemulihan.
Sejumlah indikator on-chain mulai menyoroti zona harga yang berdekatan. Area US$57.600 hingga US$57.800 muncul sebagai batas penting, sementara likuiditas pasar yang melemah membuat ruang kenaikan BTC masih cukup terbatas.
Menariknya, pola saat ini memiliki kemiripan dengan fase akhir bear market 2022. Meski begitu, kondisi tersebut belum berarti Bitcoin pasti turun ke sana karena tekanan pasar belum mencapai fase stres ekstrem.
Dua Cost Basis Ini Jadi Penghalang Kenaikan Bitcoin
Data yang dibagikan CryptoQuant pada Senin (10/08/2026) menunjukkan bahwa rintangan Bitcoin berikutnya berada tidak jauh dari harga saat ini. Realized Price UTXO Age Bands menempatkan US$67.000 dan US$72.000 sebagai area resistance penting.
Level tersebut berasal dari realized price kelompok koin berusia satu hingga tiga bulan dan tiga hingga enam bulan. Artinya, area itu mencerminkan rata-rata harga beli sejumlah investor yang relatif baru.
Ketika harga Bitcoin mencoba naik, pemilik BTC yang sebelumnya membeli di level lebih tinggi berpotensi memanfaatkan pemulihan untuk keluar atau mengurangi posisi. Kondisi ini dapat menambah tekanan jual di sekitar cost basis tersebut.

Mengutip analis ShayanBTC, CryptoQuant menilai keberhasilan BTC merebut kembali kedua area itu akan menjadi sinyal positif. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan mulai mampu menyerap suplai dari investor yang berada dekat titik impas.
“Jika Bitcoin berhasil merebut kembali level realized price tersebut, hal itu akan menunjukkan bahwa pasar mampu menyerap potensi suplai dari pembeli baru sekaligus memperkuat narasi pemulihan,” jelasnya.
Dengan harga BTC yang masih bergerak di sekitar US$63.000 hingga US$64.000, BTC harus terlebih dahulu menembus level US$67.000. Setelah itu, US$72.000 menjadi ujian berikutnya sebelum narasi pemulihan mendapatkan konfirmasi lebih kuat.
Likuiditas Menyusut, Bitcoin Sulit Tembus US$67.000
Masalahnya, dorongan untuk menembus resistance tersebut berhadapan dengan kondisi likuiditas yang kurang mendukung. Kapitalisasi stablecoin justru mengalami penurunan cukup konsisten sejak mencapai puncak pada Mei 2026.
Menurut data yang dibagikan Darkfost, kapitalisasi stablecoin turun US$15 miliar, dari sekitar US$280 miliar menjadi US$266 miliar. Grafik tersebut memperlihatkan penurunan terjadi bersamaan dengan pelemahan Bitcoin sejak Mei.
Kondisinya bahkan sudah relatif stagnan sebelum penurunan tersebut. Sejak terakhir kali BTC mencetak ATH, kapitalisasi stablecoin bergerak sideways, menandakan arus likuiditas baru ke pasar belum cukup kuat.
“Dari Oktober hingga Mei, market cap bergerak sideways. Artinya, tidak ada likuiditas baru yang masuk ke pasar, atau jumlahnya belum cukup. Meskipun Bitcoin berhasil stabil, permintaan belum kembali pulih,” tuturnya di X, Senin (10/08/2026).

Dengan kata lain, resistance US$67.000 dan US$72.000 muncul ketika bahan bakar pasar berkurang. Kombinasi tersebut membuat pemulihan Bitcoin membutuhkan lebih dari sekadar pantulan teknikal dalam jangka pendek.
US$57.800 Muncul sebagai Kandidat Bottom Bear Market
Di sisi bawah, perhatian mulai beralih menuju US$57.600. Axel Adler Jr, lewat analisis yang dibagikan pada Senin (10/08/2026), mencatat MVRV Z-Score Bitcoin telah turun di bawah rata-ratanya, meski masih bertahan di atas level nol.
Harga BTC juga masih sekitar 13 persen di atas rata-rata cost basis pasar. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang meningkat, tetapi investor secara agregat belum memasuki fase kerugian ekstrem seperti pada bear market terdalam.
Karena itu, area US$57.600 menjadi titik krusial yang perlu diperhatikan. Menurut Adler, penurunan di bawah level tersebut dapat menjadi sinyal bahwa struktur pasar mulai mengalami tekanan yang lebih serius.
“Penurunan harga Bitcoin di bawah level US$57.600 akan menjadi tanda pelemahan serius pertama dan membuka jalan menuju zona tekanan yang lebih dalam,” pungkas Adler di X.

Menariknya, angka tersebut hampir sama dengan level yang disoroti analis Quinten Francois. Mengutip grafik yang dibagikan oleh CryptoChan, Ia membandingkan pola indikator bear market 2022 dengan kondisi 2026 dan menemukan kemiripan pada bagian right shoulder.
Pada 2022, right shoulder indikator tersebut bertepatan dengan penurunan terakhir Bitcoin menuju sekitar US$15.500. Untuk struktur 2026, posisi serupa menurut perhitungannya muncul di sekitar US$57.800.
Namun, kemiripan historis bukan jaminan pola akan terulang. Harga BTC masih bertahan di atas rata-rata cost basis, sehingga US$57.600 hingga US$57.800 dipandang sebagai area konfirmasi risiko daripada target pasti.

Untuk saat ini, Bitcoin berada di antara dua area penting. Level US$67.000 hingga US$72.000 menjadi pintu rebound BTC, sedangkan US$57.600 hingga US$57.800 menjadi batas yang dapat menentukan apakah tekanan bearish benar-benar semakin dalam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


