Harga Bitcoin Buka Peluang Reli Baru, Tapi Satu Zona Ini Wajib Diwaspadai

Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah bergerak naik dalam 24 jam terakhir.

Aset kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan di kisaran US$63.329, setara Rp1,14 miliar, dengan kenaikan sekitar 0,17 persen dalam 4 jam terakhir dan 1,75 persen dalam 24 jam terakhir.

Pergerakan tersebut memunculkan optimisme bahwa momentum bullish mulai kembali terbentuk, meski sejumlah analis masih mengingatkan adanya area krusial yang harus dipertahankan agar reli dapat berlanjut.

Di tengah membaiknya sentimen pasar, sejumlah analis teknikal dan on-chain menilai harga Bitcoin kini berada pada fase penentuan.

Selain munculnya sinyal teknikal yang mendukung kenaikan, terdapat pula beberapa zona likuiditas dan level support penting yang diperkirakan akan menentukan apakah penguatan saat ini mampu berkembang menjadi reli yang lebih besar atau justru berbalik menjadi koreksi.

Sinyal Bullish Menguat, Namun Ancaman Koreksi Masih Membayangi

Analis SuperBro menilai struktur teknikal harian Bitcoin mulai menunjukkan perkembangan positif setelah terbentuk bullish crossover antara simple moving average (SMA) 10 dan SMA 20. Persilangan tersebut dianggap sebagai sinyal awal bahwa momentum beli kembali menguat setelah sebelumnya pasar sempat berada dalam tekanan.

BTC analisis 10 jul

Menurutnya, kondisi ini merupakan skenario yang memang diharapkan untuk membuka peluang pemulihan tren jangka pendek. Namun, ia mengingatkan bahwa pasar masih menghadapi tantangan berupa area likuiditas yang berpotensi menarik pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 8 Juli 2026: DOGE, JTO, CELO, AERO dan APT Kompak Beri Sinyal Bullish, Siap Meledak?

SuperBro menjelaskan terdapat klaster likuidasi posisi long ber-leverage tinggi di sekitar US$60.500. Zona tersebut juga berdekatan dengan gap pada Bitcoin ETF spot yang dinilai masih berpotensi ditutup pasar di kemudian hari.

Dengan demikian, meskipun struktur teknikal mulai membaik, harga Bitcoin masih berisiko mengalami koreksi sementara menuju area tersebut apabila pelaku pasar terlebih dahulu memburu likuiditas sebelum melanjutkan tren naik.

Apabila tekanan beli terus bertahan, SuperBro melihat peluang Bitcoin bergerak menuju sejumlah area Fair Value Gap (FVG) yang berada di kisaran US$68.000–70.000, kemudian US$72.000–73.000, US$74.500–75.500, hingga US$76.000–77.000.

Sebaliknya, kehilangan support di sekitar US$60.500 berpotensi membuka ruang koreksi yang lebih dalam sebelum tren bullish kembali berlanjut.

Zona US$62.400–62.800 Jadi Kunci Nasib Bitcoin

Pandangan serupa juga disampaikan analis Max Trades. Ia melihat bahwa Bitcoin telah berhasil menembus pola descending triangle, yang mengindikasikan tekanan jual mulai berkurang. Namun, breakout tersebut dinilai belum sepenuhnya terkonfirmasi.

Bitcoin analisis 10 jl

Menurut Max Trades, perhatian utama kini tertuju pada proses retest terhadap garis tren yang telah ditembus. Ia menilai area support di kisaran US$62.400–62.800 akan menjadi penentu arah harga Bitcoin dalam jangka pendek.

BACA JUGA:  Heboh! Bitcoin Mulai Menguasai Jantung Politik AS, Ini Faktanya

Apabila Bitcoin mampu mempertahankan area tersebut dan memantul setelah retest, peluang kenaikan diperkirakan semakin terbuka dengan target berikutnya berada di sekitar US$65.000. Sebaliknya, jika harga kembali turun menembus support tersebut, breakout berpotensi berubah menjadi false breakout yang dapat memicu tekanan jual baru.

Dalam skenario bearish, Max Trades memperkirakan Bitcoin berpeluang kembali diperdagangkan di sekitar US$60.000, sehingga respons pasar di zona US$62.400–62.800 menjadi level yang paling menentukan untuk pergerakan selanjutnya.

Di Balik Jual Rugi Strategy, Ada Fakta Besar soal Cadangan Bitcoin

Sementara itu, analis on-chain Darkfost di CryptoQuant menyoroti penjualan Bitcoin terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan Strategy pada pekan ini. Perusahaan tersebut melepas 3.588 BTC senilai sekitar US$216 juta untuk mendanai pembayaran dividen instrumen Digital Credit yang mereka terbitkan.

Darkfost mengungkapkan bahwa Bitcoin tersebut sebelumnya dibeli dengan harga rata-rata sekitar US$75.476, sementara penjualannya dilakukan di kisaran US$60.000, sehingga transaksi itu diperkirakan menghasilkan kerugian sekitar 20 persen.

BACA JUGA:  3 Kripto DeFi yang Dinilai Masih Undervalued Menurut Grayscale

“Pilihan ini mencerminkan kebutuhan likuiditas perusahaan, bukan keyakinan terhadap arah pasar,” ungkap Darkfost.

Meski demikian, ia menilai posisi Strategy masih sangat kuat karena hingga kini perusahaan tersebut masih menguasai sekitar 843.775 BTC, jumlah yang bahkan melampaui cadangan Bitcoin milik Binance yang tercatat sekitar 656.561 BTC.

BTC di CEX

Darkfost juga menjelaskan bahwa secara keseluruhan bursa kripto saat ini menyimpan sekitar 8 juta BTC, dengan hampir 30 persen di antaranya berada di Binance. Menurutnya, harga realisasi Bitcoin yang tersimpan di Binance diperkirakan berada di kisaran US$60.900, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata harga akumulasi milik Strategy.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa meski Strategy sempat merealisasikan kerugian untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, mayoritas Bitcoin yang berada di Binance masih memiliki basis biaya yang lebih rendah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pelaku pasar dalam menilai ketahanan harga Bitcoin apabila volatilitas kembali meningkat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait