Harga Bitcoin mengalami crash pada perdagangan Rabu (3/6/2026) setelah sejumlah faktor negatif muncul secara bersamaan, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik global, data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan, hingga memburuknya sentimen pasar kripto.
Kondisi tersebut mendorong harga Bitcoin turun hingga menyentuh kisaran US$66.900, level terendah sejak awal April.
Pada saat artikel ini disusun, harga BTC terus bergerak lebih rendah, di kisaran US$65.750, setara Rp1,17 miliar. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar di dunia itu tercatat melemah 7,24 persen, sementara secara mingguan penurunannya mencapai 13,23 persen.

Tekanan Makro dan Sentimen Pasar Memukul Bitcoin
Penurunan harga Bitcoin terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko. Ketegangan geopolitik yang berkembang di Timur Tengah membuat pelaku pasar global memilih mengurangi eksposur terhadap aset spekulatif dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, pasar juga merespons data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS pada Selasa (2/6/2026) yang menunjukkan jumlah lowongan kerja mencapai 7,618 juta. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 6,79 juta dan mengindikasikan kondisi ekonomi AS masih cukup kuat.
Data tersebut membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed kembali berkurang. Akibatnya, likuiditas yang selama ini diharapkan mengalir ke aset berisiko, termasuk Bitcoin, berpotensi tertahan lebih lama.
Sentimen pasar pun turut terpengaruh setelah Strategy dilaporkan menjual 32 BTC senilai US$2,5 juta, sebuah langkah yang relatif jarang dilakukan perusahaan tersebut.

Walaupun jumlah yang dilepas tergolong sangat kecil dibanding total kepemilikan Bitcoin mereka, aksi tersebut memicu diskusi di kalangan investor karena bertentangan dengan citra Strategy yang selama ini dikenal konsisten menambah cadangan Bitcoin.
Di sisi lain, lembaga analitik blockchain Santiment melaporkan bahwa sentimen di media sosial saat ini menunjukkan kondisi “Extreme Fear” atau ketakutan ekstrem. Menurut data mereka, banyak pelaku pasar mulai memperkirakan harga Bitcoin dapat turun ke bawah US$60.000, bahkan sebagian memperkirakan menuju area US$50.000.

Santiment menjelaskan bahwa meningkatnya komentar bearish di media sosial sering kali menjadi tanda kapitulasi investor ritel. Dalam beberapa siklus sebelumnya, kondisi serupa kerap muncul menjelang terjadinya pemulihan harga, meskipun tidak selalu menghasilkan reli dalam waktu dekat.
Efek Domino di Balik Crash Bitcoin
Selain faktor sentimen, data Options Gamma Exposure BTC dari Glassnode menunjukkan adanya kondisi struktural di pasar derivatif yang berpotensi mempercepat penurunan harga Bitcoin ketika level tertentu berhasil ditembus.

Berdasarkan data tersebut, area antara US$68.000 hingga US$50.000 menjadi zona yang cukup sensitif bagi para dealer atau penyedia likuiditas pasar. Banyaknya posisi opsi yang bertaruh pada penurunan harga membuat dealer harus mengambil posisi berlawanan untuk menyeimbangkan risiko.
Ketika harga Bitcoin turun di bawah US$68.000, posisi lindung nilai yang dimiliki dealer mulai mengalami tekanan. Untuk mengurangi risiko kerugian, mereka berpotensi melakukan aksi jual tambahan di pasar spot maupun derivatif.
Kondisi tersebut dapat menciptakan efek berantai yang mempercepat penurunan harga. Semakin banyak aksi jual yang muncul, semakin besar tekanan yang diterima pasar sehingga koreksi berlangsung lebih cepat dibanding kondisi normal.
Rumor Akumulasi Institusi dan Ancaman Koreksi Lebih Dalam
Di tengah tekanan pasar yang sedang berlangsung, sejumlah analis mulai menyampaikan pandangan berbeda terkait penyebab di balik pelemahan harga Bitcoin.
Analis kripto Ash Crypto menyoroti munculnya rumor bahwa institusi besar sengaja menekan harga Bitcoin lebih rendah guna memperoleh harga akumulasi yang lebih murah sebelum regulasi Clarity Act disahkan di AS.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa peristiwa sebelumnya yang melibatkan perusahaan investasi besar. Menurutnya, sebelum pengajuan berbagai produk investasi Bitcoin oleh institusi keuangan raksasa, pasar sempat mengalami tekanan sebelum akhirnya memasuki fase kenaikan yang lebih kuat.
Meski demikian, pandangan tersebut masih bersifat spekulatif dan belum didukung bukti konkret yang dapat diverifikasi.
Sementara itu, analis teknikal Crypto Cove menilai struktur pasar saat ini masih menunjukkan dominasi penjual. Ia menyebut pola bearish flag pada grafik Bitcoin telah terkonfirmasi menembus ke bawah, sehingga tren jangka menengah masih berada dalam fase bearish.

Menurut Crypto Cove, keputusan membeli saat koreksi saat ini masih tergolong berisiko karena momentum bullish yang kuat belum terlihat. Ia bahkan memperkirakan harga Bitcoin masih berpotensi mengalami penurunan tambahan sekitar 20 hingga 25 persen apabila struktur pasar yang ada terus bertahan.
Dengan kombinasi tekanan makroekonomi, sentimen negatif investor, serta faktor teknikal yang masih belum mendukung pemulihan, harga BTC kini berada dalam salah satu fase paling sensitif sejak kuartal kedua tahun ini.
Para pelaku pasar pun terus memantau apakah area di sekitar US$60.000 hingga US$65.000 mampu bertahan sebagai support atau justru membuka jalan bagi koreksi yang lebih dalam dalam beberapa hari hingga pekan mendatang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


