Harga Bitcoin kembali berada di area krusial setelah reli terbaru membawa aset kripto terbesar itu mendekati resistance US$82.000–US$84.000.
BTC diperdagangkan di sekitar US$79.600 pada grafik harian, tetapi momentum kenaikan mulai menghadapi tekanan ketika indikator Relative Strength Index (RSI) berbalik turun setelah sebelumnya memasuki wilayah jenuh beli.
Kondisi tersebut muncul di tengah optimisme pasar yang mulai menguat terhadap kemungkinan perubahan struktur menuju tren bullish.
Pergerakan terbaru terjadi setelah Bitcoin sempat menembus US$81.000 sebelum kembali kehilangan level US$80.000. Di satu sisi, permintaan institusional melalui exchange-traded fund (ETF) spot Bitcoin AS mencatat lonjakan kuat.
Namun, tekanan makro kembali membayangi pasar setelah data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan mendorong imbal hasil obligasi dan meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat. Kombinasi resistance teknikal dan perubahan ekspektasi suku bunga kini menempatkan harga Bitcoin pada fase penentuan arah berikutnya.
Harga Bitcoin Lagi di Ujung Tanduk, RSI Bongkar Pola yang Bikin Deg-degan
Analis Gerla menyoroti kemiripan kondisi pasar saat ini dengan tiga koreksi besar Bitcoin sebelumnya dalam siklus yang sama.
Berdasarkan grafik harian BTC/USDT yang dibagikannya, setiap kali RSI menembus area overbought, harga Bitcoin kemudian mengalami penurunan tajam. Tiga momen sebelumnya menghasilkan koreksi masing-masing sekitar 35,21 persen, 38,23 persen dan 29,66 persen.

Kini, RSI harian berada di sekitar 66,4 dan mulai berbalik turun setelah sebelumnya menembus level 70. Pada saat bersamaan, BTC bergerak di sekitar US$79.646 dan mendekati area resistance yang menjadi perhatian pasar.
Menurut Gerla, kombinasi optimisme yang meningkat ketika momentum mulai melemah dapat menciptakan kondisi bagi terbentuknya bull trap, terutama bagi pembeli yang masuk setelah kenaikan terbaru.
Gerla menempatkan US$82.000–US$84.000 sebagai zona terpenting dalam skenarionya. Tesis koreksi tetap berlaku selama BTC bertahan di bawah area tersebut.
Artinya, kemampuan harga Bitcoin merebut dan mempertahankan zona itu akan menjadi faktor penting untuk membedakan breakout yang berkelanjutan dari reli yang berakhir dengan rejection.
Jika pola historis kembali berulang, Gerla memperkirakan pasar dapat mengalami flush besar yang memaksa keluar posisi dengan leverage tinggi dan menjebak pembeli terlambat.
Proyeksi pada grafiknya memperlihatkan kemungkinan pelemahan menuju kisaran US$68.000–US$70.000, sebelum tekanan yang lebih dalam berpotensi membawa BTC ke sekitar US$56.000–US$60.000.
Area tersebut diproyeksikan sebagai kandidat pembentukan dasar akhir pada kuartal IV sebelum pemulihan yang lebih besar. Skenario itu tetap bersifat proyeksi dan dapat gugur apabila BTC berhasil mengatasi resistance US$82.000–US$84.000.
Duit ETF Datang Berbondong-bondong, Kok BTC Malah Lemes?
Di tengah risiko teknikal tersebut, data yang disoroti analis Amr Taha di CryptoQuant menunjukkan permintaan melalui ETF justru menguat.
Pada Kamis (3/9/2026), empat Bitcoin ETF utama mencatat gabungan BTC holdings netflow positif sekitar US$683,25 juta, sementara keseluruhan Bitcoin ETF spot AS membukukan arus kas masuk bersih sekitar US$730,9 juta, terbesar sejak 14 Januari.

BlackRock IBIT memimpin dengan holdings netflow sekitar US$422,75 juta, level tertingginya sejak 20 Agustus. ARKB dari 21Shares menyusul sekitar US$130 juta, sementara Fidelity FBTC dan Grayscale Mini BTC masing-masing mencatat sekitar US$73,5 juta dan US$57 juta.
Gabungan tiga produk terakhir mencapai sekitar US$260,5 juta, sehingga angka IBIT sekitar 1,6 kali lebih besar. Sebaran tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas tidak hanya terkonsentrasi pada satu ETF.
Namun, derasnya aliran dana tersebut belum mampu menjaga harga Bitcoin di atas US$81.000. BTC kemudian turun menembus US$80.000 setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh melampaui ekspektasi sekitar 53.000–56.000.
Data tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan memperbesar ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Perbedaan arah itu menciptakan divergensi jangka pendek. Aktivitas ETF mencatat sesi terkuat dalam hampir delapan bulan, sementara harga Bitcoin justru kehilangan level psikologis US$80.000 ketika ekspektasi suku bunga berubah.
Dengan arus institusional tetap kuat tetapi resistance US$82.000–US$84.000 belum ditembus, harga Bitcoin kini menghadapi ujian apakah permintaan ETF mampu menyerap tekanan makro atau pasar kembali memasuki fase koreksi yang lebih dalam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


