Harga Bitcoin hari ini, Senin (30/3/2026), tercatat berada di kisaran Rp 1,114 miliar per BTC, setara US$65.402, melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Pada saat artikel ini disusun, BTC mengalami penurunan sekitar 1,60 persen dalam 24 jam terakhir dan turun 4,51 persen dalam sepekan, menunjukkan tekanan jual yang masih mendominasi pasar.
Analis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant menilai bahwa kondisi ini menempatkan Bitcoin pada fase krusial.
Jika Maret 2026 ditutup di zona negatif, maka pasar akan mencatat enam bulan berturut-turut penurunan, sebuah pola yang dalam sejarah sering dikaitkan dengan perubahan struktural, bukan sekadar koreksi jangka pendek.

Dalam laporannya, XWIN Research Japan menjelaskan bahwa indikator on-chain seperti SOPR (Spent Output Profit Ratio) menunjukkan perbedaan dibandingkan siklus sebelumnya.
Siklus Lama Terulang? Data On-Chain Bicara
Pada 2014, pasar mengalami penurunan selama empat bulan yang dipicu oleh runtuhnya Mt. Gox, peristiwa yang secara signifikan mengguncang kepercayaan investor. Dalam periode tersebut, indikator SOPR menjadi sangat tidak stabil, mencerminkan terganggunya fungsi pasar secara fundamental.
Sementara itu, fase penurunan enam bulan yang terjadi antara Agustus 2018 hingga Januari 2019 muncul setelah pecahnya gelembung ICO.
Pada saat itu, SOPR bertahan di bawah level 1 dalam waktu yang cukup lama, mengindikasikan terjadinya kapitulasi luas serta tekanan jual paksa. Kondisi tersebut menandai reset menyeluruh pasar, yang kemudian diikuti oleh pembalikan tren pada tahun 2019.
Adapun kondisi saat ini menunjukkan dinamika yang berbeda. Meskipun SOPR berada di sekitar atau sedikit di bawah angka 1, indikator tersebut belum memperlihatkan pola bertahan di bawah level tersebut secara berkepanjangan seperti pada 2018.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun realisasi kerugian mulai terjadi, pasar belum memasuki fase kapitulasi penuh.
“Fase ini lebih mencerminkan ‘market pause’ dibandingkan kehancuran pasar,” ungkap XWIN Research Japan.
Juga, cadangan Bitcoin di bursa dilaporkan terus menurun, yang mengindikasikan bahwa pasokan mulai terkunci. Namun, di sisi lain, arus masuk modal baru masih terbatas, tercermin dari lemahnya Coinbase Premium dan aliran dana ETF yang belum stabil.
Di sisi lain, data derivatif dari CoinGlass juga menunjukkan dinamika pasar yang beragam. Volume perdagangan tercatat naik 6,71 persen menjadi sekitar US$33,45 miliar, sementara open interest justru turun 3,39 persen ke level US$47,50 miliar.

Kondisi ini mengindikasikan adanya aktivitas perdagangan yang meningkat, tetapi tidak diikuti oleh peningkatan posisi terbuka, yang bisa mencerminkan ketidakpastian pasar.
Sementara itu, analis pasar Ted mengungkapkan bahwa terdapat akumulasi order beli Bitcoin di kisaran US$64.000 hingga US$66.000. Level tersebut dinilai berpotensi menjadi support jangka pendek yang dapat memicu relief bounce apabila tekanan jual mulai mereda.

Bitcoin di Titik Kritis, Arah Pasar Masih Terbuka
Di tengah kondisi ini, analis lain, Lofty, melihat adanya pola yang mirip dengan struktur pasar bearish pada 2018 dan 2022.
Dalam analisisnya, ia menyebut bahwa jika pola tersebut kembali terjadi, maka Bitcoin berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut hingga menyentuh level US$45.000 pada April mendatang.

Selain itu, XWIN Research Japan menambahkan bahwa pemulihan harga Bitcoin berpotensi terjadi jika beberapa indikator mulai menunjukkan perbaikan, seperti peningkatan arus masuk ETF, penguatan Coinbase Premium, serta kenaikan aktivitas on-chain.
Dengan demikian, harga Bitcoin hari ini berada di persimpangan antara tekanan jangka pendek dan potensi pemulihan jangka menengah, di mana arah pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh masuknya likuiditas baru ke pasar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



