Harga Bitcoin hari ini masih berada di bawah tekanan setelah terkoreksi lebih dari 45 persen dari puncak siklusnya di atas US$120.000 dan kini ada di bawah level US$66.200.
Di tengah penurunan tajam tersebut, analis on-chain NovAnalytica di CryptoQuant melaporkan bahwa indikator Stock to Flow (S2F) Ratio mulai menunjukkan tanda awal pemulihan, memunculkan potensi divergensi antara harga dan tingkat kelangkaan aset digital tersebut.

Dalam analisisnya, NovAnalytica menyoroti area terbaru pada grafik satu tahun terakhir yang memperlihatkan pergerakan signifikan. Saat harga Bitcoin masih berjuang di sekitar support US$66.200, indikator Stock to Flow Ratio justru berbalik naik dari titik terendahnya di kisaran 1,1.
“Meskipun harga masih berada di bawah tekanan berat, indikator kelangkaan mulai menunjukkan tanda pemulihan awal,” ungkapnya.
Divergensi di Tengah Tekanan Harga Bitcoin
Stock to Flow Ratio merupakan indikator yang mengukur rasio antara pasokan yang beredar dengan produksi baru Bitcoin, sehingga kerap digunakan untuk menilai tingkat kelangkaan aset tersebut.
Dalam kondisi normal, pergerakan harga dan indikator ini cenderung sejalan. Namun kali ini, ketika harga Bitcoin masih melemah, indikator justru bergerak naik.
NovAnalytica menilai divergensi tersebut dapat mengindikasikan kemungkinan terjadinya fase akumulasi. Meski demikian, ia menekankan bahwa konfirmasi tambahan tetap dibutuhkan, terutama berupa stabilisasi harga dan keberlanjutan tren kenaikan indikator sebelum menyimpulkan adanya pembalikan tren.
Di sisi lain, analis di CryptoQuant lainnya, CW8900, melaporkan bahwa struktur kepemilikan Bitcoin juga mengalami perubahan signifikan. Ia menyebut sebagian besar investor ritel telah meninggalkan pasar, menyisakan kelompok investor yang dinilai lebih berpengalaman.

Menurutnya, kepemilikan BTC oleh investor besar meningkat secara signifikan, sementara kepemilikan investor ritel menurun tajam.
CW8900 menggambarkan bahwa “smart money” meningkatkan akumulasi Bitcoin selama periode penurunan harga. Ia juga mencatat bahwa setelah penurunan tajam, sebagian investor ritel yang lebih berpengalaman mulai kembali menambah kepemilikan BTC. Saat ini, pasar dinilai didominasi oleh pelaku yang memiliki strategi lebih matang.
Peringatan Bull Trap dan Potensi Penurunan Lanjutan
Sementara itu, analis independen Lofty menyampaikan pandangan berbeda terhadap arah harga Bitcoin dalam jangka pendek. Ia menilai pergerakan terbaru merupakan fase bull trap terakhir dalam siklus ini.

Berdasarkan pola yang disebut identik dengan pergerakan tahun 2022, Lofty memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi turun hingga sekitar US$47.500 dalam 12 hari.
Proyeksi tersebut muncul ketika harga Bitcoin tengah menguji level support penting. Dalam konteks ini, pergerakan harga dinilai krusial untuk menentukan arah selanjutnya, apakah indikator kelangkaan yang mulai pulih akan diikuti oleh stabilisasi harga atau justru tekanan jual kembali meningkat.
Sinyal Historis dan Ujian Level Kritis Bitcoin
Secara historis, titik pembalikan indikator kelangkaan pada siklus sebelumnya kerap diikuti oleh fase pemulihan signifikan pada harga Bitcoin. Namun, kondisi makro dan dinamika pasar saat ini dinilai berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
NovAnalytica menyarankan pelaku pasar untuk mempertimbangkan rasio risiko dan imbal hasil secara cermat. Ia menilai rasio harga terhadap kelangkaan saat ini berpotensi menawarkan peluang masuk yang lebih menarik dibandingkan saat harga berada di puncak siklus.
Dengan harga Bitcoin yang masih bergerak di sekitar level kritis dan indikator on-chain menunjukkan sinyal yang beragam, pelaku pasar kini dihadapkan pada dua kemungkinan, yakni pemulihan bertahap seiring akumulasi oleh investor besar atau penurunan lanjutan apabila skenario bull trap terkonfirmasi.
Di sisi lain, perusahaan Strategy telah kembali menambah kepemilikan Bitcoin dengan membeli 3.015 BTC senilai sekitar US$204,1 juta atau rata-rata di kisaran US$67.700 per koin.
Dengan akumulasi terbaru tersebut, hingga Minggu (1/3/2026), Strategy tercatat memegang 720.737 BTC yang diperoleh dengan total investasi sekitar US$54,77 miliar, dengan harga rata-rata pembelian sekitar US$75.985 per koin.
Langkah ini mempertegas bahwa di tengah tekanan harga Bitcoin, sejumlah institusi besar masih melanjutkan strategi akumulasi jangka panjang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



