Harga Bitcoin hari ini, Jumat (17/4/2026), masih bergerak di bawah tekanan meski pasar saham global telah mencetak rekor tertinggi baru.
Analisis terbaru dari XWIN Research Japan di CryptoQuant menunjukkan adanya divergensi antara pasar kripto dan ekuitas, di mana Bitcoin belum mampu mengikuti reli yang terjadi di S&P 500 dan Nasdaq.

Dalam laporan tersebut, XWIN Research Japan menegaskan bahwa kondisi ini mencerminkan perbedaan fase dalam siklus aliran modal global.
“Keterlambatan Bitcoin bukan menunjukkan kelemahan, melainkan soal timing dalam siklus pasar,” tulis XWIN Research Japan.
Pada saat artikel ini disusun, harga Bitcoin berada di kisaran US$74.704, setara sekitar Rp1,28 miliar, dengan volume perdagangan 24 jam mencapai US$41,03 miliar, naik sekitar 9,21 persen.
Data tambahan menunjukkan bahwa Bitcoin sempat mencatatkan penutupan harian di atas US$75.000 untuk kali pertama dalam 73 hari terakhir, menandai momen penting dalam pergerakan harga.
Namun demikian, menurut analis Ted, harga BTC masih berada di dalam zona resistance krusial di rentang US$74.500 hingga US$76.000, yang sejauh ini belum berhasil ditembus secara meyakinkan. Kelanjutan bullish akan bergantung pada mampu tidaknya harga untuk menembus zona ini.

Bitcoin Tertinggal dari Saham, Tapi Akumulasi Makin Kencang
Menurut XWIN Research Japan, reli yang terjadi di pasar saham global tidak didorong oleh pelonggaran moneter yang signifikan, melainkan oleh penurunan risiko eksternal seperti meredanya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.
Dalam kondisi ini, likuiditas global masih tergolong ketat karena suku bunga tetap berada di level tinggi.
Situasi tersebut membuat arus modal bergerak secara bertahap, dimulai dari sektor energi, kemudian ke dolar dan suku bunga, dilanjutkan ke saham, dan pada akhirnya ke aset berisiko seperti Bitcoin. Saat ini, saham berada di fase lebih maju dalam siklus tersebut, sementara Bitcoin masih berada di tahap akhir.
Di sisi lain, meskipun harga Bitcoin hari ini belum mampu menembus resistance, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi besar.
Dalam 96 jam terakhir, sekitar 10.000 BTC atau setara kurang lebih US$750 juta telah dibeli oleh investor besar (whale). Selain itu, cadangan Bitcoin di bursa juga terus menurun, yang mengindikasikan kecenderungan penyimpanan jangka panjang.
Uji Level Kunci dan Potensi Skenario Harga
Namun, tekanan teknikal tetap menjadi perhatian utama. Harga Bitcoin hari ini masih berada di bawah area resistance utama, dan kegagalan menembus zona tersebut dinilai sebagai indikasi kelemahan jangka pendek. Bahkan, terdapat pandangan bahwa Bitcoin berpotensi mendekati puncak lokalnya dengan peluang koreksi yang cukup tinggi.
Analis lain, Ali Martinez, juga menyoroti bahwa Bitcoin saat ini kembali menguji level penting, yaitu simple moving average (SMA) 100 hari, yang sebelumnya telah beberapa kali menjadi titik penolakan kuat.
Dalam enam bulan terakhir, pengujian level ini dua kali berujung pada koreksi besar, masing-masing sekitar 30 persen dan 39 persen.

Jika skenario penolakan kembali terjadi, Martinez memperingatkan adanya potensi pembentukan pola triple top yang dapat mendorong harga turun hingga ke level terendah tahunan di sekitar US$59.800.
Sebaliknya, jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang breakout menuju kisaran US$80.000 hingga US$84.000 akan semakin terbuka, sekaligus mengonfirmasi berakhirnya fase koreksi makro.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



