Harga Bitcoin hari ini, Kamis (9/4/2026), tercatat mengalami penurunan sekitar 1 persen dalam 24 jam terakhir dan berada di kisaran Rp1,20 miliar, setara US$70.916 per koin.
Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi risiko struktural, meski sebelumnya sempat terdorong oleh sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik global.
Data perdagangan menunjukkan bahwa volume transaksi Bitcoin dalam periode yang sama sekitar US$40,86 miliar, turun sekitar 11,06 persen dari hari sebelumnya. Penurunan volume ini mengindikasikan berkurangnya partisipasi pasar dalam jangka pendek, sekaligus memperkuat sinyal bahwa reli sebelumnya mulai kehilangan momentum.
Dalam analisis on-chain terbaru, analis GugaOnChain di CryptoQuant menyoroti adanya ketidakseimbangan antara kenaikan harga dan dukungan likuiditas.
Ia menjelaskan bahwa meskipun harga sempat terdorong naik hingga area US$71.000, struktur pasar menunjukkan kondisi yang rapuh. Aktivitas beli agresif di Binance tercermin dari Taker Buy Sell Ratio yang tinggi, namun tidak diikuti oleh masuknya likuiditas baru yang cukup.
“Pasar saat ini terlihat seperti bergerak dengan bahan bakar cadangan, di mana kenaikan harga tidak didukung oleh arus likuiditas baru yang memadai,” ungkap GugaOnChain.
Lebih lanjut, indikator Binance USDT Refresh Rate Z-Score yang berada di level -1,58 menunjukkan kondisi kekurangan likuiditas sistemik.

Dalam kerangka analisis on-chain, kondisi itu disebut sebagai “Phantom Leverage,” yaitu situasi di mana harga terdorong naik oleh leverage berbasis keuntungan yang belum terealisasi, bukan oleh aliran dana riil ke pasar.
Risiko Long Squeeze Mulai Menguat
Dengan kondisi likuiditas yang menipis, risiko jangka pendek pasar menjadi semakin tidak seimbang. GugaOnChain menilai bahwa peluang terjadinya long squeeze meningkat secara signifikan. Dalam skenario ini, posisi long yang terlalu padat berpotensi dilikuidasi secara cepat jika harga BTC mengalami tekanan turun.
Reli yang terjadi sebelumnya juga disebut sebagai “supply vacuum,” yaitu kenaikan harga yang tidak didukung oleh permintaan kuat. Tanpa adanya masuknya modal baru untuk menyerap aksi ambil untung, level support menjadi rentan dan mudah ditembus.
Dari sisi makro, penurunan harga minyak Brent sekitar 12 persen memang memberikan ruang bagi aset berisiko untuk bergerak naik. Namun, aliran dana institusional masih cenderung mengarah ke aset defensif seperti emas dan obligasi pemerintah, yang menunjukkan bahwa pelaku besar belum sepenuhnya beralih ke aset kripto.
Tekanan Jual LTH Mereda, Pasar Masuk Fase Transisi
Sementara itu, analis lain di CryptoQuant, Zizcrypto, melihat bahwa tekanan jual dari investor jangka panjang mulai mereda. Dalam analisanya, Long-Term Holder SOPR bergerak mendekati level netral di sekitar angka 1.

Data tersebut mencerminkan bahwa keuntungan yang direalisasikan oleh pemegang jangka panjang mulai menurun, menandakan fase kelelahan profit-taking. Secara historis, kondisi seperti ini sering muncul pada fase transisi pasar, di mana tekanan jual mulai terserap namun belum memasuki fase kapitulasi penuh.
Zizcrypto menilai bahwa stabilisasi SOPR di sekitar level netral menunjukkan bahwa pasar Bitcoin belum mengalami tekanan struktural yang dalam seperti pada fase dasar siklus sebelumnya. Artinya, meskipun tekanan jual mereda, fase akumulasi besar belum sepenuhnya terbentuk.
CME Gap dan Zona Support Tentukan Arah Selanjutnya
Dari sisi teknikal, analis GainMuse menyoroti bahwa Bitcoin saat ini berada dalam pola “wedge within a wedge,” yang menunjukkan fase konsolidasi setelah kenaikan sebelumnya. Dalam analisis tersebut, area resistance kuat berada di sekitar US$73.000, yang sempat memicu penolakan harga.

GainMuse menilai bahwa penolakan ini merupakan bagian dari proses normal, di mana pasar membutuhkan likuiditas tambahan sebelum melanjutkan kenaikan.
Area US$68.000 hingga US$69.000 disebut sebagai zona beli potensial, karena bertepatan dengan support utama sekaligus area yang memungkinkan terjadinya “shakeout” terhadap posisi leverage berlebih.
Selain itu, analis Ted menyoroti adanya tiga celah harga atau CME gap, yang belum tertutup. Dua gap berada di bawah, masing-masing di level US$69.500 dan US$67.200, sementara satu gap berada di atas di kisaran US$80.000 hingga US$82.000.

Secara tidak langsung, kondisi ini membuka kemungkinan pergerakan harga ke kedua arah, tergantung pada dinamika likuiditas dan sentimen pasar.
Tidak hanya itu, data lain yang dibagikan oleh CryptoReviewing juga secara tidak langsung menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin baru-baru ini dipicu oleh likuidasi besar-besaran, dengan lebih dari US$503 juta posisi short terhapus saat harga menembus US$72.000.

Secara total, likuidasi di pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar US$806 juta, mencerminkan tingginya volatilitas jangka pendek.
Lebih lanjut, area likuiditas di kisaran US$73.000 hingga US$76.000 disebut masih berpotensi tersapu jika momentum naik berlanjut. Namun demikian, tekanan ke bawah dinilai lebih dominan, karena cluster likuidasi di bawah, khususnya di area US$69.000 hingga US$71.500, tercatat hampir dua kali lebih besar.
Bahkan, zona likuiditas yang lebih dalam di kisaran US$65.000 hingga US$68.000 memperkuat probabilitas penurunan dari perspektif likuiditas pasar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



