Harga Bitcoin hari ini, Selasa (31/3/2026), tercatat menguat lebih dari 1 persen dan kembali menyentuh kisaran Rp1,14 miliar per BTC, setara US$68.171. Ini mencerminkan upaya pasar untuk mempertahankan momentum di tengah fase konsolidasi.
Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan stabilnya pergerakan harga dalam jangka pendek, meskipun tekanan dari faktor eksternal masih membayangi.
Pada saat artikel kini disusun, BTC mengalami kenaikan sekitar 1,35 persen dalam 24 jam terakhir, sementara dalam 4 jam terakhir tercatat naik sekitar 0,75 persen.

Kenaikan ini turut diiringi lonjakan kuat pada pasar derivatif, di mana volume perdagangan meningkat 46,72 persen menjadi sekitar US$61,85 miliar, serta open interest naik 2,52 persen ke level US$49,60 miliar, berdasarkan data CoinGlass. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya partisipasi pelaku pasar, terutama dari sisi spekulatif.
Aktivitas Whale Bitcoin Mulai Melandai
Di tengah penguatan harga Bitcoin hari ini, analis on-chain Darkfost di CryptoQuant mengungkap adanya perubahan penting dalam perilaku pelaku besar atau whale, khususnya di bursa Binance.
Ia mencatat bahwa tekanan jual dari kelompok ini mulai menurun setelah sebelumnya sempat meningkat tajam.
Menurut Darkfost, Bitcoin masih mampu bertahan dalam rentang harga US$62.000 hingga US$75.000, yang menunjukkan ketahanan pasar di tengah kondisi yang belum sepenuhnya stabil.
Ia juga menyoroti bahwa Bitcoin saat ini berada di sekitar 47 persen dari level tertinggi sepanjang masa (ATH) sebelumnya, mencerminkan fase koreksi dan konsolidasi setelah reli besar.

Dalam periode sebelumnya, tepatnya saat harga mendekati US$60.000, aktivitas whale di Binance sempat melonjak.
Pada 4 Februari, lebih dari 11.800 BTC tercatat dikirim ke bursa dalam satu hari, yang mendorong rata-rata arus masuk bulanan meningkat dari sekitar 1.000 BTC menjadi hampir 4.000 BTC per hari di akhir Februari. Hal ini menandakan fase distribusi besar-besaran dari pemegang utama.
Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Darkfost menyebut bahwa rata-rata pergerakan 30 hari kini turun ke sekitar 1.600 BTC per hari, yang menunjukkan penurunan signifikan dalam aktivitas deposit whale ke bursa.
“Penurunan ini bisa mengindikasikan perlambatan tekanan jual dalam jangka pendek, dengan pelaku besar yang mulai mengadopsi pendekatan wait and see di tengah pasar yang masih tidak pasti,” ungkap Darkfost.
Level Kunci dan Proyeksi Harga Bitcoin
Sementara itu, dari sisi teknikal, analis Ted melihat bahwa Bitcoin sebelumnya sempat menyentuh level US$65.000 sebelum mengalami pantulan. Saat ini, area US$69.000 hingga US$70.000 dinilai menjadi zona krusial yang sebelumnya berfungsi sebagai support dan berpotensi diuji kembali sebelum terjadi penolakan harga.

Di sisi lain, analis Master Ananda melihat struktur yang lebih luas dengan pendekatan jangka menengah hingga panjang. Ia menilai bahwa Bitcoin telah membentuk higher low yang kuat setelah fase penurunan ke sekitar US$60.000 dan bergerak sideways selama lebih dari 50 hari tanpa kehilangan support utama.

Dalam analisisnya, potensi kenaikan harga Bitcoin tidak hanya terbatas pada target jangka pendek di kisaran US$79.000 hingga US$85.000. Ia memperkirakan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, Bitcoin berpotensi mencapai level yang lebih tinggi, yakni di kisaran US$121.000, US$136.000, hingga US$146.000 dalam waktu sekitar sembilan bulan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



