Harga Bitcoin menunjukkan struktur pergerakan yang memiliki kemiripan mencolok dengan pola saham Apple (AAPL) pada periode 2015–2017. Kesamaan tersebut terlihat pada grafik bulanan BTC yang turut menjadi perhatian analis kripto Klondike.
Fractal pada grafik bulanan menunjukkan koin utama ini berpotensi memasuki fase pemulihan besar apabila pola historis tersebut terus berkembang, dengan area US$58.740 menjadi salah satu level penting yang menopang skenario bullish.

Dalam grafik yang dibagikan, Klondike membandingkan BTC di time frame bulanan dengan saham Apple pada time frame serupa. Keduanya memperlihatkan pola berupa penurunan dari puncak, pembentukan pola falling wedge, pengujian support horizontal utama, lalu pemulihan.
Klondike bahkan menyampaikan keyakinan sangat tinggi terhadap kemiripan tersebut dengan mengatakan bahwa fractal itu akan bekerja dengan akurasi 100 persen.
Pola Lama Apple Bersemi Lagi di Harga Bitcoin
Pada sisi Bitcoin, grafik memperlihatkan area sekitar US$58.740 sebagai support horizontal utama. BTC sempat mendekati wilayah tersebut setelah bergerak turun dari puncak sebelumnya, kemudian berbalik naik.
Saat artikel ini disusun, harga berada di kisaran US$64.287, sehingga kemampuan pembeli mempertahankan area US$58.740–US$64.000 menjadi bagian penting dari skenario yang dipetakan Klondike.
Pergerakan itu dibandingkan dengan saham Apple yang pada 2015–2016 juga mengalami koreksi setelah mencetak puncak lokal. AAPL kemudian menguji area support sekitar US$23, keluar dari struktur penurunannya dan memasuki fase kenaikan yang membawa harga menuju level tertinggi baru.
Kesamaan urutan pergerakan tersebut menjadi dasar fractal yang digunakan untuk memproyeksikan arah BTC.
Jika pola itu berlanjut, harga Bitcoin berpeluang terlebih dahulu menghadapi sejumlah hambatan sebelum memasuki fase ekspansi lebih besar. Berdasarkan jalur proyeksinya, area sekitar US$74.000 menjadi wilayah terdekat yang perlu diperhatikan, disusul kisaran US$86.000–US$98.000.
Hambatan berikutnya berada di sekitar US$100.000–US$110.000. Kemampuan BTC menembus dan bertahan di atas wilayah tersebut dapat memperkuat struktur pemulihan dalam skenario fractal.
Proyeksi Klondike selanjutnya memperlihatkan kemungkinan pergerakan menuju sekitar US$125.000, bahkan kisaran US$140.000–US$145.000 apabila fase ekspansi mengikuti pola AAPL.
Sebaliknya, area US$58.740 tetap menjadi batas penting. Penurunan dan kegagalan mempertahankan support tersebut dapat mengurangi validitas kemiripan pola yang sedang diamati.
Dengan demikian, fractal AAPL lebih tepat digunakan sebagai peta skenario dibandingkan kepastian bahwa harga Bitcoin akan mengulangi persis pergerakan saham tersebut.
Volume Ambruk, Pasar BTC Justru Masuki Fase Menarik
Di tengah proyeksi bullish tersebut, data pasar yang disoroti analis Darkfost di CryptoQuant memperlihatkan kondisi berbeda dari sisi aktivitas perdagangan. Volume spot BTC di Binance dilaporkan turun ke bawah US$1 miliar ketika permintaan dan aktivitas transaksi di pasar kripto mengalami pelemahan tajam.

Menurut Darkfost, angka tersebut tergolong rendah apabila dibandingkan dengan Maret 2024, ketika volume perdagangan Bitcoin dalam beberapa hari mampu melampaui US$15 miliar.
Level terbaru bahkan disebut sebagai volume terendah yang tercatat sejak berakhirnya bear market pada 2023. Kondisi ini menjadi penting karena Binance diperkirakan menyumbang hampir 40 persen dari keseluruhan volume perdagangan lintas bursa.
Darkfost menilai keruntuhan volume mencerminkan perlambatan, bahkan terhentinya aktivitas sebagian besar investor.
“Ini menunjukkan ketidakpedulian investor yang semakin ekstrem terhadap kondisi pasar Bitcoin saat ini,” ungkapnya.
Rendahnya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan harga Bitcoin saat ini berlangsung ketika minat transaksi belum kembali ke level tinggi.
Meski demikian, Darkfost melihat kondisi tersebut memiliki sisi paradoks. Ketika volatilitas berada pada level rendah dan ketertarikan pasar melemah, situasi semacam ini dapat menjadi periode yang menarik bagi pelaku pasar untuk membangun eksposur secara bertahap.
Namun, rendahnya volume juga berarti kenaikan harga Bitcoin membutuhkan kembalinya permintaan agar dapat berkembang menjadi pergerakan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Data lain yang disorot Darkfost menunjukkan besarnya peran Binance dalam perdagangan BTC selama beberapa tahun terakhir. Sejak 2020, bursa tersebut disebut telah mencatat hampir US$200 triliun volume kumulatif perdagangan Bitcoin, atau sekitar dua kali estimasi ukuran pasokan uang global M2.
Dengan fractal Apple yang mengarah pada potensi ekspansi besar tetapi volume perdagangan berada pada titik sangat rendah, pasar kini menghadapi dua sinyal yang berbeda.
Pertahanan US$58.740 dan kemampuan menembus US$74.000 menjadi level awal yang dapat menentukan apakah proyeksi bullish harga Bitcoin mulai memperoleh konfirmasi, sementara pemulihan volume dapat menjadi indikator pendukung untuk menilai kekuatan reli berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


