Harga Bitcoin Kasih Sinyal Langka, Pola 2023 Mau Terulang Lagi?

Harga Bitcoin kembali menjadi perhatian setelah grafik pergerakan terbaru menunjukkan terbentuknya golden cross, pola teknikal yang memiliki kemiripan dengan struktur pasar pada awal 2023.

Sinyal tersebut muncul ketika moving average (MA) jangka pendek bergerak menembus ke atas moving average jangka panjang di sekitar US$69.000–US$71.000, setelah BTC bangkit kuat dari tekanan jual pada pertengahan tahun.

Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di sekitar US$77.229, setara Rp1,36 miliar, turun tipis 0,04 persen dalam 24 jam dan melemah 3,25 persen selama tujuh hari terakhir. Volume perdagangan 24 jam tercatat sekitar US$12,41 miliar, merosot 66,72 persen.

Pergerakan tersebut terjadi setelah BTC sebelumnya sempat menembus US$80.000 sebelum kembali terkoreksi ke area US$77.000.

Golden Cross Muncul Lagi, Harga Bitcoin Mulai Mirip Pola 2023

Grafik perbandingan Bitcoin 2023 dan 2026 menunjukkan kemiripan yang cukup mencolok. Pada awal 2023, golden cross terbentuk di kisaran US$19.000–US$20.000, setelah BTC lebih dahulu membangun dasar di sekitar US$15.000–US$16.000.

Harga kemudian bergerak naik hingga mencapai sekitar US$30.000–US$31.000 beberapa bulan setelah persilangan tersebut.

BTC analisis 13 SEP

Struktur serupa kini terlihat pada harga Bitcoin 2026. BTC sebelumnya jatuh dari kisaran US$97.000 menuju area dasar sekitar US$59.000–US$61.000, sebelum memasuki fase pemulihan dan konsolidasi. Harga kemudian melesat dari sekitar US$64.000 hingga menyentuh area US$80.000–US$81.000.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Harga XRP Bisa Merosot Tajam? Level Ini Jadi Pemeran Utamanya

Dalam pergerakan tersebut, MA jangka pendek akhirnya menembus MA jangka panjang di sekitar US$69.000–US$71.000. Persilangan inilah yang membentuk golden cross dan memunculkan perbandingan dengan struktur yang terjadi tiga tahun sebelumnya.

Jika momentum tersebut bertahan, US$80.000–US$81.000 menjadi area pertama yang perlu ditembus kembali. Di atasnya, grafik menunjukkan area US$85.000, kemudian US$89.000–US$93.000 sebagai level berikutnya yang berpotensi menjadi hambatan apabila pembeli kembali mengambil kendali.

Namun, kemiripan pola tidak berarti pergerakan 2023 akan terulang secara identik. Area US$69.000–US$71.000, tempat persilangan MA terjadi, kini menjadi zona penting untuk menjaga struktur pemulihan.

Pelemahan di bawah US$69.000 dapat membuka ruang pengujian kembali terhadap US$64.000, sementara US$59.000–US$61.000 merupakan area dasar utama dari koreksi sebelumnya.

Sinyal On-Chain Membaik, Tapi Buyer Spot Masih Belum Ngegas

Di balik munculnya golden cross, data on-chain memberikan gambaran yang lebih hati-hati. Analis XWIN Japan di CryptoQuant mencatat Net Unrealized Loss (NUL) Bitcoin turun tajam dari sekitar 0,18 pada pertengahan Agustus menjadi 0,08, seiring pemulihan BTC dari sekitar US$65.000 menuju US$77.200.

BTC NUL 13 sep

Penurunan NUL menunjukkan sebagian besar kerugian belum terealisasi yang terbentuk selama koreksi telah terhapus. Dengan semakin sedikit modal berada dalam posisi rugi, tekanan terhadap pemegang BTC untuk menjual dalam kondisi panik ikut berkurang.

BACA JUGA:  Harga XRP Sedang Meniru Masa Lalunya, US$8 Jadi Target Reli

“Tekanan pemegang mereda, tetapi permintaan spot masih belum cukup mendukung pemulihan berkelanjutan saat ini,” ungkap XWIN Japan.

Meski demikian, indikator tersebut mulai bergerak naik dari titik terendahnya pada awal September setelah harga Bitcoin terkoreksi dari atas US$80.000. Kondisi itu menunjukkan kerugian belum terealisasi mulai kembali terbentuk ketika momentum pemulihan kehilangan tenaga.

XWIN Japan juga menyoroti lemahnya permintaan di pasar spot, arus keluar dari produk ETF Bitcoin, serta reli yang masih banyak bergantung pada aktivitas pasar futures. Artinya, berkurangnya tekanan jual dari investor yang merugi belum otomatis menciptakan permintaan baru yang cukup kuat untuk menopang kenaikan.

Tekanan pada sisi permintaan juga terlihat dari produk investasi institusional. Berdasarkan data Farside Investors, Bitcoin ETF spot AS mencatat net outflow atau arus keluar bersih sekitar US$462,7 juta selama empat sesi perdagangan pada 8–11 September.

Arus keluar terjadi di setiap sesi dan mengakhiri tiga pekan berturut-turut inflow atau arus masuk, setelah pada pekan sebelumnya produk tersebut menyerap sekitar US$986,7 juta.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Jiplak Pola Saham Apple? Reli Gila Bisa Terjadi

Outflow terbesar terjadi pada 10 September sebesar US$282,7 juta, sementara pada sesi 11 September arus keluar melambat menjadi sekitar US$13,2 juta. Pergeseran arus ini menjadi faktor penting bagi harga Bitcoin karena menunjukkan sinyal teknikal positif belum dibarengi permintaan institusional yang konsisten dari pasar spot.

Kondisi tersebut juga memperkuat peringatan bahwa rebound yang terlalu bergantung pada futures dapat lebih rentan jika pembelian tunai tidak ikut meningkat.

Karena itu, area US$80.000–US$83.000 menjadi ujian penting berikutnya bagi harga Bitcoin. Pemulihan yang lebih berkelanjutan membutuhkan NUL tetap terkendali, permintaan spot menguat, serta BTC menembus zona tersebut dengan dukungan pembelian nyata dari pasar tunai.

Hingga kondisi itu terbentuk, golden cross memang memberikan sinyal teknikal positif dan mengingatkan pada 2023, tetapi konfirmasi dari sisi permintaan masih diperlukan sebelum struktur pasar dapat dinilai lebih kuat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait