Harga Bitcoin Kembali Panas, Kini Bidik US$85.000

Harga Bitcoin kembali bergerak menguat dan berhasil merebut area US$81 ribu di tengah lonjakan aktivitas beli agresif di Binance serta meningkatnya sentimen risk-on pasar global.

Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$81.225, setara Rp1,42 miliar, dengan kenaikan harian sekitar 2,27 persen. Volume perdagangan spot dalam 24 jam juga melonjak menjadi sekitar US$43,37 miliar, naik hampir 27,84 persen.

Dalam analisis Bitcoin hari ini, analis teknikal Klondike melihat Bitcoin mulai membentuk pola bullish flag pada time frame 4 jam setelah sebelumnya mengalami reli tajam dari area bawah US$75 ribu menuju kisaran US$82 ribu.

BTC analisis terbaru 15 mei

Menurut Klondike, pola tersebut terlihat melalui fase konsolidasi menurun yang bergerak di dalam channel bearish sempit. Struktur seperti itu umumnya dianggap sebagai continuation pattern atau pola kelanjutan tren, yang biasanya muncul setelah reli kuat sebelum harga mencoba melanjutkan kenaikan berikutnya.

Ia menyoroti area resistance penting saat ini berada di sekitar US$81.500 hingga US$82.000. Jika breakout berhasil terjadi disertai peningkatan volume perdagangan, harga Bitcoin diperkirakan berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area US$85 ribu hingga US$85.700.

Sementara itu, support utama jangka pendek disebut berada di kisaran US$78 ribu hingga US$79 ribu. Selama harga Bitcoin masih mampu bertahan di atas area tersebut, struktur bullish jangka pendek dinilai masih tetap terjaga.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Melejit US$78.000 Pasca Kembali Dibukanya Selat Hormuz, Tanda Bullish?

Bitcoin taker buy

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Momentum kenaikan terbaru Bitcoin juga muncul bersamaan dengan lonjakan aktivitas taker buy di Binance yang disorot analis on-chain Amr Taha di CryptoQuant. Dalam laporannya, ia mencatat volume taker buy meningkat sekitar US$2,7 miliar hanya dalam waktu tiga jam.

“Kenaikan terbaru di atas US$81 ribu bukan hanya pemulihan harga pasif, tetapi juga didukung lonjakan aktivitas beli agresif di pasar,” ujar Amr Taha.

Sentimen Global dan Nvidia Ikut Dorong Harga Bitcoin

Lonjakan harga Bitcoin juga terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global. Indeks saham AS futures seperti S&P 500 dan Nasdaq dilaporkan kembali menguat hingga mendekati rekor tertinggi baru.

Di saat yang sama, saham NVIDIA ikut bergerak naik setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS memberikan izin kepada sejumlah perusahaan Tiongkok untuk membeli chip AI H200 milik Nvidia.

Selain itu, investor global sedang memantau perkembangan pembicaraan perdagangan antara AS dan Tiongkok yang dinilai mulai menunjukkan kemajuan. Meski demikian, isu Taiwan masih dianggap sebagai salah satu risiko geopolitik utama yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.

BACA JUGA:  ICE dan OKX Buka Suara, Saham Tokenisasi Ternyata Punya Risiko Tersembunyi

Amr Taha menilai kombinasi reli saham teknologi dan optimisme perdagangan global ikut memperkuat minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Menurutnya, data aliran dana Binance menunjukkan trader tidak hanya menunggu harga turun, tetapi aktif mengejar momentum kenaikan.

Dalam kondisi tersebut, harga Bitcoin dinilai mendapat dukungan tambahan dari meningkatnya minat terhadap aset berisiko di tengah penguatan pasar saham global.

Pasokan Bitcoin di Bursa Sentuh Level Terendah Sejak 2018

Di sisi lain, data dari Santiment menunjukkan pasokan Bitcoin di bursa kini berada di sekitar 5,6 persen berdasarkan data wallet exchange yang telah diperbarui. Rasio tersebut bertahan stabil selama sekitar satu bulan terakhir dan menjadi level terendah sejak 2018.

Bitcoin supply Santiment

Kondisi itu sering dianggap sebagai sinyal berkurangnya tekanan jual di bursa karena semakin banyak investor memilih menyimpan Bitcoin di luar platform perdagangan.

Santiment juga mencatat pasokan Ethereum di bursa kini berada di kisaran 4,6 persen, naik dibanding sekitar 4,2 persen sekitar 10 hari sebelumnya. Meski begitu, angka tersebut masih tergolong dekat dengan level terendah sejak awal perdagangan publik Ethereum pada 2015.

BACA JUGA:  Harga BBM Naik, Rupiah Melemah dan Ilusi Kenaikan Bitcoin di Indonesia

Harga Bitcoin Masih Terancam Koreksi Besar

Namun, tidak semua analis melihat arah harga Bitcoin akan tetap bullish dalam jangka menengah. Analis Kabuki justru menilai Bitcoin saat ini bergerak mengikuti pola Bear Cycle channel yang menurutnya mirip dengan siklus sebelumnya.

BTC analisis kabuki

Kabuki memproyeksikan pola pergerakan Bitcoin di 2026 berpotensi bergerak dari area US$82 ribu menuju US$71 ribu, lalu turun lebih dalam ke kisaran US$48 ribu sebelum sempat rebound ke US$55 ribu dan akhirnya kembali turun menuju area US$41 ribu.

Ia memperkirakan kripto utama tersebut berpotensi kembali menyentuh area US$72 ribu dalam beberapa hari ke depan dan bahkan membuka peluang penurunan menuju US$41 ribu pada Juni mendatang.

Pandangan tersebut kini menjadi perhatian pasar karena muncul di tengah kondisi harga Bitcoin yang sedang mencoba mempertahankan momentum penguatan di atas area US$81 ribu.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait