Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan terbaru, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasar obligasi AS.
Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di sekitar US$76.850, setara Rp1,35 miliar, turun 1,64 persen dalam 24 jam dan melemah 5,43 persen sepanjang tujuh hari terakhir. Pergerakan tersebut membuat area support terdekat menjadi perhatian setelah reli sebelumnya gagal mempertahankan momentum di atas US$80.000.
Tekanan terhadap aset kripto berlangsung ketika imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak menuju 5 persen. Kenaikan yield dapat meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus memperketat kondisi keuangan, sehingga aset berisiko seperti Bitcoin menghadapi tantangan mempertahankan permintaan.
Dalam kondisi tersebut, pasar kini mengamati apakah BTC mampu bertahan di area US$76.000 atau justru melanjutkan koreksi menuju zona moving average di bawahnya.
Pasar Obligasi Bikin Tegang, Bitcoin Bisa Terseret ke US$73.000
Analis kripto SuperBro menilai Bitcoin masih memiliki support horizontal di sekitar level harga saat ini. Berdasarkan grafik harian yang dibagikannya, area tersebut berada di kisaran US$75.500–US$76.000. Jika support itu gagal dipertahankan, perhatian pasar berpotensi beralih menuju kumpulan moving average yang berada lebih rendah.

Grafik diatas menunjukkan EMA200 berada di sekitar US$72.891, sedangkan EMA50 telah mencapai sekitar US$72.830. Kedekatan kedua indikator itu membuat wilayah sekitar US$73.000 menjadi area teknikal yang berpotensi diuji apabila tekanan jual berlanjut.
Sementara itu, SMA200 berada di sekitar US$70.024, sehingga level psikologis US$70.000 dapat menjadi zona berikutnya apabila pelemahan berkembang lebih dalam.
Selain itu, SMA50 terlihat terus bergerak naik menuju SMA200. Konvergensi beberapa moving average tersebut menempatkan rentang US$70.000–US$73.000 sebagai wilayah yang semakin penting secara teknikal. Namun, selama support horizontal masih bertahan, skenario penurunan menuju area tersebut belum mendapatkan konfirmasi.
SuperBro juga menyoroti kemungkinan perubahan situasi apabila otoritas mengambil langkah agresif di pasar obligasi.
“Di sisi lain, intervensi agresif di pasar obligasi dapat mendorong kenaikan berikutnya,” ungkapnya.
Dengan demikian, arah pasar obligasi AS dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah tekanan terhadap Bitcoin berlanjut atau justru membuka ruang bagi pemulihan.
Perkembangan tersebut membuat harga Bitcoin menghadapi dua faktor sekaligus, yakni kemampuan mempertahankan support teknikal dan perubahan kondisi pasar obligasi. Jika yield terus meningkat tanpa adanya intervensi yang mampu meredakan tekanan, risiko pengujian area sekitar US$73.000 tetap terbuka.
BTC Menumpuk di Binance, Alarm Tekanan Jual Mulai Menyala
Di tengah tekanan terhadap harga Bitcoin, analis Darkfost di CryptoQuant menemukan perkembangan lain dari sisi cadangan bursa.
Cadangan BTC di Binance disebut telah mencapai lebih dari 693.000 BTC, level tertinggi dalam dua tahun. Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen dari seluruh Bitcoin yang tersimpan dalam cadangan bursa-bursa utama.

Darkfost mencatat cadangan Bitcoin di Binance telah bertambah sekitar 77.000 BTC sejak akhir April hingga saat ini.
Peningkatan itu terutama dikaitkan dengan investor yang memanfaatkan reli pada Mei serta kenaikan terbaru untuk memindahkan aset mereka ke bursa dengan tujuan melakukan penjualan. Binance memiliki likuiditas yang dalam, sehingga arus BTC dalam jumlah besar cenderung terlihat lebih jelas di platform tersebut.
Faktor lainnya berasal dari peluncuran dana SAFU yang dirancang mengalokasikan US$1 miliar untuk memperoleh sekitar 15.000 BTC tambahan. Langkah tersebut ditujukan untuk menunjukkan dukungan terhadap komunitas Bitcoin selama fase koreksi.
Darkfost juga menyebut aspek keamanan dapat ikut mendorong perpindahan aset menuju Binance pasca insiden ColdCard yang membuat sebagian pemegang BTC berpotensi memilih penyimpanan melalui platform pihak ketiga.
Menurut Darkfost, lonjakan cadangan tersebut perlu dicermati karena besarnya Bitcoin yang tersedia di bursa dapat menciptakan potensi pasokan jual tambahan.
“Lonjakan cadangan Bitcoin sebesar ini patut mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan jual,” ujar Darkfost.
Kondisi itu menambah faktor yang perlu dipantau ketika harga Bitcoin masih berusaha mempertahankan support, sementara area US$73.000 mulai muncul sebagai tujuan koreksi berikutnya apabila struktur harga melemah.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


