Harga Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar kripto setelah sejumlah analis melihat pola pergerakan BTC mulai menunjukkan kemiripan dengan fase fakeout besar yang sebelumnya berujung pada koreksi tajam.
Analis teknikal Aralez menilai struktur pasar saat ini berpotensi menjadi “jebakan terbesar” bagi trader ritel setelah Bitcoin terus naik tanpa katalis bullish yang benar-benar kuat.
Dalam analisis terbarunya, Aralez menyoroti bahwa harga Bitcoin saat ini bergerak naik di tengah banyaknya likuiditas yang masih tertinggal di area bawah. Ia juga melihat investor retail mulai kembali yakin bahwa bull run baru telah dimulai.
Menurutnya, pola seperti ini sudah muncul dua kali dalam setahun terakhir sebelum BTC mengalami penurunan lebih dari 35 persen.
Struktur Lama Harga Bitcoin Mulai Muncul Lagi
Aralez membandingkan kondisi pasar saat ini dengan periode Oktober-November 2025 dan Januari-Februari 2026. Pada dua fase tersebut, Bitcoin sempat mengalami kenaikan yang membuat pasar terlihat bullish sebelum akhirnya berbalik turun sangat tajam.

Koreksi pertama tercatat mencapai sekitar 36 persen, sementara fase berikutnya memicu penurunan sekitar 39 persen.
Kini, menurutnya, struktur serupa kembali terbentuk pada April-Mei 2026. Ia melihat kenaikan harga Bitcoin saat ini berpotensi menjadi perangkap bagi posisi long trader sebelum pasar mengalami koreksi lebih dalam.
Di tengah kekhawatiran tersebut, harga Bitcoin tercatat berada di kisaran US$77.912, setara Rp1,37 miliar. Berdasarkan data pasar terbaru, BTC masih menguat sekitar 0,72 persen dalam 4 jam terakhir dan naik 1,73 persen dalam periode 24 jam.
Analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant juga menilai kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase defensif.
Menurutnya, performa harga Bitcoin sepanjang Mei masih sedikit positif apabila dibandingkan dengan penutupan akhir April di area US$76,3 ribu. Namun posisi tersebut dinilai sangat rapuh karena sedikit tekanan tambahan dapat membawa performa bulanan BTC kembali negatif.
XWIN Japan menjelaskan bahwa tekanan terbesar datang dari memburuknya arus dana Bitcoin ETF spot. Setelah sempat mencatat pemulihan inflow atau arus masuk pada awal Mei, Bitcoin ETF kembali mengalami outflow atau arus keluar yang cukup besar.
Situasi tersebut memperlihatkan pasar masih sangat bergantung pada rotasi modal institusional dibanding permintaan spot organik yang kuat.
Area US$76 Ribu Jadi Penentu
Meski tekanan jangka pendek meningkat, data on-chain disebut belum menunjukkan tanda keruntuhan struktural pasar. Cadangan Bitcoin di bursa masih terus menurun, sementara Exchange Netflow tetap berada di area negatif tipis. Kondisi tersebut menandakan panic selling besar belum sepenuhnya terjadi.

Selain itu, cadangan stablecoin ERC20 di bursa masih tinggi, yang menunjukkan banyak modal masih berada di pinggir pasar dan belum keluar dari ekosistem kripto. Karena itu, XWIN Japan menilai kondisi saat ini lebih mencerminkan pasar defensif dibanding fase bubble collapse klasik.
Di sisi teknikal, analis GainMuse melihat harga Bitcoin masih bergerak di dalam pola rising wedge besar setelah sebelumnya breakout dari wedge kecil pada akhir Maret hingga awal April. Struktur tersebut dinilai masih mempertahankan tren naik, tetapi support bawah wedge kini menjadi area paling penting.

Dalam grafik di atas, BTC tampak beberapa kali memantul dari trendline support naik di area US$76 ribu hingga US$77 ribu. Zona tersebut kini menjadi support utama jangka pendek sekaligus area invalidasi bullish apabila ditembus kuat ke bawah.
Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas support rising wedge dan berhasil breakout dari resistance US$81 ribu hingga US$82 ribu, GainMuse memperkirakan BTC berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area US$88 ribu hingga US$90 ribu.
Namun di sisi lain, rising wedge juga dikenal sebagai pola yang cukup rawan fakeout dan breakdown apabila momentum buyer mulai melemah. Karena itu, area US$76 ribu kini menjadi level terpenting yang dipantau pasar dalam beberapa hari ke depan untuk menentukan arah harga Bitcoin selanjutnya.
Di sisi lain, analis BehDark turut menyoroti keberadaan CME Gap Bitcoin di area US$78 ribu hingga US$79 ribu. Dalam analisisnya, ia menyebut gap CME secara historis cenderung terisi sekitar 90 persen meski tidak selalu dalam waktu cepat.

Menurut BehDark, kenaikan harga Bitcoin saat ini kemungkinan juga sedang bergerak untuk mengisi gap tersebut. Karena itu, area US$78 ribu hingga US$79 ribu menjadi salah satu zona yang kini diperhatikan trader jangka pendek.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


