Harga Bitcoin Masih Bisa Turun Lagi? Data Ini Bikin Deg-degan

Harga Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar kripto setelah sejumlah analis on-chain dan teknikal mulai melihat munculnya sinyal yang berpotensi memicu volatilitas besar dalam beberapa waktu ke depan.

Di tengah rebound jangka pendek yang terjadi dalam 24 jam terakhir, data jaringan Bitcoin justru menunjukkan kondisi demand yang masih lemah dan pola pasar yang dinilai mirip dengan fase koreksi besar pada siklus sebelumnya.

Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$76.631, setara Rp1,35 miliar, dengan kenaikan harian sekitar 1,54 persen. Meski demikian, sejumlah analis menilai penguatan tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi bahwa tekanan koreksi benar-benar berakhir karena arus modal baru di jaringan masih terlihat terbatas.

Demand Bitcoin Masih Lemah di Tengah Rebound

Analis on-chain CryptoZeno di CryptoQuant menilai kondisi pasar saat ini cukup berbahaya karena harga Bitcoin mulai mencoba stabil sementara permintaan organik di jaringan masih terus melemah.

Dalam laporan terbarunya, ia melihat indikator Apparent Demand masih berada di area yang sangat lemah meski pasar beberapa kali memantul setelah tekanan jual sebelumnya.

Bitcoin price demand CQ

Menurut CryptoZeno, perlambatan tersebut juga mulai terlihat dari perilaku holder besar Bitcoin. Wallet kategori “dolphin” yang memegang sekitar 100 hingga 1.000 BTC memang masih menyimpan saldo tinggi secara historis, tetapi laju akumulasi mereka mulai melambat tajam dibanding beberapa bulan lalu.

BACA JUGA:  Mengupas Angka Misterius 3, 6, 9 Nikola Tesla di Bitcoin, Ada di Nama Satoshi Nakamoto hingga Periode Halving

Kondisi itu dinilai sering muncul pada fase akhir konsolidasi siklus ketika kepercayaan pasar masih ada, namun keyakinan untuk terus membeli mulai menurun.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

“Bitcoin sekarang terjebak di antara perlambatan akumulasi, meningkatnya pergerakan koin lama dan lemahnya arus modal baru di jaringan,” ujar CryptoZeno.

Ia juga menyoroti meningkatnya aktivitas pemegang jangka panjang (LTH) yang mulai kembali menggerakkan koin lama ke pasar di tengah kondisi demand negatif. Dalam beberapa siklus sebelumnya, kombinasi seperti itu sering memicu fase koreksi panjang dan pergerakan choppy sebelum pasar kembali menemukan arah utama berikutnya.

Selain itu, analis CryptoZ melihat terdapat satu sinyal makro langka yang mulai muncul di jaringan Bitcoin. Ia menyebut indikator Transaction Volume Strength kini kembali turun ke zona akumulasi ekstrem yang sebelumnya hanya muncul pada titik dasar pasar 2015, 2018 dan 2022.

BTC analisis 24 mei

Dalam analisisnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya divergensi antara struktur harga dan aktivitas transaksi jaringan. Saat harga Bitcoin masih bertahan dekat area tertinggi siklus, tekanan volume transaksi justru turun ke level yang secara historis identik dengan fase bear market.

CryptoZ menilai kondisi seperti itu sering menjadi awal dari fase akumulasi institusional sebelum volatilitas besar kembali muncul. Ia menyebut fase pasar yang terlihat paling sepi justru dalam sejarah Bitcoin sering menjadi fondasi bagi pergerakan paling agresif pada fase berikutnya.

BACA JUGA:  Bitcoin Pizza Day: 10.000 BTC yang Dulu Ditukar Pizza, Kini Setara Miliaran Porsi MBG

Pola Bull Trap Mulai Jadi Sorotan

Di sisi teknikal, analis Aralez melihat harga Bitcoin mulai membentuk pola yang mirip dengan beberapa siklus besar sebelumnya setelah berhasil menembus area ATH lama. Dalam chart timeframe bulanan yang dibagikannya, BTC terlihat sempat breakout dari resistance historis sebelum kembali mengalami tekanan turun tajam.

Bitcoin analisis terbaru 24 mei

Menurut Aralez, struktur tersebut lebih menyerupai “bull trap” atau jebakan bullish dibanding breakout sehat untuk melanjutkan reli besar secara langsung. Ia menyoroti bahwa pola serupa pernah muncul pada siklus 2017 dan 2021 ketika Bitcoin mengalami fakeout besar sebelum akhirnya melanjutkan kenaikan menuju ATH baru.

Area US$69 ribu kini dinilai menjadi support paling penting bagi Bitcoin karena sebelumnya merupakan resistance historis utama yang berhasil ditembus saat BTC mencetak ATH baru. Dalam beberapa pekan terakhir, harga Bitcoin sempat breakdown singkat di bawah area tersebut sebelum akhirnya memantul kembali.

BACA JUGA:  Harga Kripto Hari Ini 20 Mei 2026: PENGU Memanas, Siap Melejit Lagi

Aralez menilai fakeout itu berpotensi menjadi indikasi pengambilan likuiditas besar sebelum arah utama pasar benar-benar ditentukan. Namun ia juga mengingatkan bahwa rebound di area US$77 ribu hingga US$80 ribu saat ini belum tentu menjadi tanda bullish akhir.

Menurutnya, pergerakan terbaru justru masih terlihat seperti liquidity trap, yaitu kondisi ketika pasar memancing trader kembali masuk sebelum kemungkinan terjadi koreksi lebih dalam.

Karena itu, meski peluang bullish jangka panjang menuju area di atas US$130 ribu masih terbuka, pasar dinilai tetap berisiko mengalami fase panic selling dan volatilitas tinggi dalam waktu dekat apabila support utama gagal dipertahankan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait