Harga Bitcoin masih bergerak di bawah US$80.000 setelah reli pada akhir Agustus gagal bertahan di level yang lebih tinggi. BTC sempat menembus US$80.000 pada 27 Agustus 2026, tetapi kehilangan momentum dan kembali bergerak di kisaran US$76.000–US$78.000 menjelang awal September.
Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar sempat mengalami short squeeze besar pada pertengahan Agustus yang membantu mendorong harga Bitcoin naik dari posisi terendah sebelumnya. Namun, kenaikan belum berkembang menjadi breakout yang berkelanjutan karena BTC masih menghadapi pasokan besar di atas harga pasar saat ini.
Tembok Lama Kembali Mengadang Langkah Harga Bitcoin
Berdasarkan postingan Wu Blockchain pada Kamis (3/9/2026), Glassnode menilai area US$83.000–US$86.000 sebagai hambatan utama yang harus dilewati sebelum harga Bitcoin memiliki ruang lebih besar untuk melanjutkan kenaikan.

Zona tersebut menjadi penting karena terdapat konsentrasi pasokan milik pemegang Bitcoin jangka panjang (LTH). Ketika BTC mendekati area tersebut, sebagian investor yang sebelumnya membeli pada harga lebih tinggi berpotensi memanfaatkan kenaikan untuk keluar pada titik impas atau merealisasikan keuntungan.
Tekanan jual juga dapat meningkat karena komposisi pasokan Bitcoin yang berada dalam kondisi profit sudah lebih besar dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Ketika harga Bitcoin berada di sekitar US$78.000 pada Mei, sekitar 65 persen pasokan tercatat berada dalam posisi untung. Pada akhir Agustus, proporsinya meningkat menjadi sekitar 68 persen meski BTC kembali berada di area harga yang hampir sama.
Perubahan tersebut berkaitan dengan redistribusi koin selama beberapa bulan terakhir. Cost basis kelompok pemegang jangka pendek (STH) ikut bergeser ke sekitar US$71.000, sehingga semakin banyak Bitcoin yang kini berada di atas harga beli pemiliknya. Kondisi itu dapat menciptakan tambahan pasokan jual ketika BTC kembali naik.
Di sisi bawah, Glassnode menempatkan US$62.000–US$65.000 sebagai zona dukungan struktural utama. Area tersebut terbentuk dari konsentrasi cost basis dan aktivitas akumulasi selama periode konsolidasi sebelumnya.
Euforia Mulai Dingin, Pasar Belum Berani All In
Struktur derivatif menunjukkan optimisme jangka pendek mulai mendingin setelah short squeeze pada Agustus. Glassnode mencatat 7-day 25-delta skew sempat naik tajam ketika trader mengejar kontrak call saat pasar bergerak naik, tetapi indikator tersebut kemudian kembali mendekati posisi netral.
Perubahan itu menunjukkan permintaan terhadap perlindungan kenaikan jangka pendek tidak lagi seagresif sebelumnya. Sementara itu, 180-day skew tetap relatif stabil, sehingga permintaan terhadap eksposur opsi jangka lebih panjang belum mengalami perubahan besar.
Pasar derivatif juga menghadapi expiry kuartalan pada 25 September 2026 dengan sekitar US$14 miliar open interest gabungan di Deribit dan IBIT. Sejumlah besar posisi tercatat berada pada strike di atas US$80.000, sehingga pergerakan harga Bitcoin menuju area tersebut dapat menjadi perhatian menjelang berakhirnya kontrak.
Sebelumnya, reli Agustus turut didukung likuidasi besar posisi short. Glassnode mencatat peristiwa pada 19 Agustus sebagai salah satu gelombang short liquidation terbesar dalam data mereka sejak 2019. Sekitar 85 persen posisi yang terlikuidasi dalam periode tersebut berasal dari sisi short.
Meski begitu, kenaikan tidak diikuti peningkatan leverage yang agresif. Futures open interest dalam denominasi BTC justru turun sekitar 11 persen selama periode squeeze, sedangkan funding rate perpetual tetap relatif netral.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian kenaikan terjadi karena penutupan paksa posisi bearish, bukan semata-mata pembentukan posisi long baru dalam jumlah besar.
Arus dana institusional juga tetap menjadi faktor pendukung. Bitcoin ETF spot AS sebelumnya mencatat sekitar US$2,23 miliar inflow atau arus masuk dalam tujuh hari berturut-turut tanpa outflow atau arus keluar. Namun, aktivitas perdagangan ETF di pasar sekunder masih relatif lebih rendah dibandingkan fase ekspansi pasar sebelumnya.
Di Bawah Permukaan, Pola Bearish Mulai Mengintai
Di tengah hambatan tersebut, Wealthmanager melihat struktur teknikal jangka pendek BTC mulai menunjukkan pola Head and Shoulders pada time frame 4 jam. Bahu atau shoulder kiri terbentuk di sekitar US$78.000–US$79.000, sementara bagian head mencapai kisaran US$81.000–US$82.000 sebelum shoulder kanan muncul kembali di dekat US$79.000.

BTC kemudian turun menembus neckline yang sebelumnya menopang struktur kenaikan. Dengan harga terakhir berada di sekitar US$77.300, breakdown tersebut membuat perhatian beralih ke kemungkinan retest area US$78.000–US$78.500.
Menurut proyeksi Wealthmanager, area itu sebelumnya berfungsi sebagai support, tetapi setelah ditembus berpotensi berubah menjadi resistance.
Jika harga Bitcoin kembali naik menuju zona tersebut lalu mengalami penolakan, tekanan jual dapat membawa BTC menuju US$73.700 sebagai level antara sebelum mengarah ke sekitar US$71.000.
Skenario tersebut tetap memiliki batas invalidasi. Pola Head and Shoulders akan kehilangan kekuatannya apabila BTC mampu merebut kembali neckline dan bertahan di atas US$78.000–US$78.500, bukan hanya menembusnya sesaat.
Dengan demikian, pergerakan BTC dalam waktu dekat akan ditentukan oleh dua lapisan utama. Di sisi atas, pasar perlu menyerap pasokan LTH pada US$83.000–US$86.000 untuk membuka ruang kenaikan lebih lanjut.
Sementara dalam jangka lebih pendek, kemampuan BTC merebut kembali neckline US$78.000–US$78.500 akan menentukan apakah tekanan bearish mereda atau berlanjut menuju area yang lebih rendah.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


