Harga Bitcoin Mendadak Ambles, Data Ini Bongkar Dalang di Baliknya

Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan tajam pada akhir pekan setelah sempat turun dari area US$81 ribu menuju kisaran support harian di sekitar US$76 ribu.

Data on-chain terbaru dari analis Carmelo Aleman di CryptoQuant menunjukkan bahwa pelemahan tersebut bukan dipicu oleh aksi penutupan posisi besar-besaran di pasar futures, melainkan berasal dari tekanan jual di pasar spot yang gagal diserap oleh permintaan pasar.

Bitcoin OI

Dalam laporan terbarunya, Carmelo Aleman menjelaskan bahwa Open Interest Bitcoin justru masih relatif stabil selama periode koreksi berlangsung. Pada 15 Mei, nilai Open Interest tercatat berada di sekitar US$25,98 miliar dan meningkat menjadi sekitar US$26,18 miliar pada Senin (18/5/2026).

Kenaikan sekitar 0,78 persen itu dinilai tidak mencerminkan adanya likuidasi derivatif besar yang biasanya menjadi pemicu utama anjloknya harga Bitcoin secara agresif.

Tekanan Jual Spot Jadi Pemicu Utama

Sebaliknya, tekanan terbesar justru terlihat berasal dari pasar spot. Berdasarkan data Bitcoin: Price & Volume – Spot, All Exchanges, volume spot Bitcoin turun drastis dari 30.663 BTC pada 15 Mei menjadi sekitar 16.092 BTC pada 17 Mei.

Bitcoin price volume

Dalam rentang Jumat hingga Minggu, volume spot tercatat menyusut sekitar 47,52 persen bersamaan dengan koreksi harga Bitcoin sekitar 3,15 persen.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Selain itu, data Bitcoin Exchange Inflow menunjukkan sekitar 49.577 BTC masuk ke berbagai bursa antara 15 hingga 17 Mei. Lonjakan inflow atau arus masuk terbesar terjadi pada 15 Mei dengan total sekitar 37.657 BTC, tepat ketika tekanan bearish mulai meningkat di pasar.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Turun, Tiga Sinyal Ini Disebut Bisa Picu Lonjakan Besar

BTC exchange inflow

Kondisi tersebut dinilai memperlihatkan adanya distribusi besar yang masuk ke bursa saat harga Bitcoin sedang melemah. Arus masuk BTC dalam jumlah besar ke bursa umumnya dianggap sebagai sinyal potensi aksi jual, terutama ketika disertai pelemahan harga dan turunnya daya serap pasar spot.

“Bitcoin tidak jatuh karena futures closing besar-besaran. Bitcoin turun karena pasar spot kehilangan daya serap terhadap tekanan jual,” ujar Carmelo Aleman.

Di sisi lain, analis CryptoZ juga melihat kondisi pasar derivatif semakin memperburuk peluang pemulihan harga Bitcoin dalam jangka pendek. Ia menyoroti aggregate funding rates Bitcoin yang kini berada dalam kondisi tidak sehat akibat dominasi posisi long leverage tinggi dari trader ritel.

BTC cz

Menurut CryptoZ, banyak trader mencoba membeli penurunan harga menggunakan leverage agresif demi mengejar pantulan cepat.

Hal tersebut membuat harga kontrak perpetual tetap berada di atas harga spot dan menjaga funding rate tetap positif. Dalam situasi tersebut, posisi short justru mendapatkan pembayaran untuk mempertahankan posisinya.

CryptoZ juga menilai market maker dan institusi saat ini cenderung melakukan distribusi spot ke pasar, sementara trader ritel masih mempertahankan optimisme bullish berlebihan di pasar futures. Kombinasi itu dinilai menjadi salah satu faktor yang terus menekan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir.

Struktur Wyckoff Bitcoin Mulai Terbentuk, Bottom Belum Terbentuk?

Sementara itu, analis teknikal Aralez menilai Bitcoin saat ini mulai membentuk struktur Wyckoff accumulation pada time frame harian. Dalam skenario yang dibagikannya, BTC disebut belum mencapai titik bottom akhir meski sebelumnya sempat memantul kuat dari area support utama.

BACA JUGA:  Harga Kripto Hari Ini 3 Mei 2026: ETH dan DOGE Siap Bikin Kejutan Besar

BTC analisis 19 mei

Menurut Aralez, struktur saat ini masih membuka peluang koreksi lebih dalam menuju area US$60 ribu sebelum fase bullish besar benar-benar dimulai.

Ia menyoroti bahwa pola yang terbentuk memiliki kemiripan dengan skema akumulasi Wyckoff klasik, dimulai dari fase Preliminary Support (PS), Selling Climax (SC), hingga Automatic Rally (AR) yang sebelumnya berhasil membawa harga kembali ke area US$79 ribu.

Namun setelah menyentuh area resistance tersebut, BTC kini dinilai mulai memasuki fase distribusi ulang sementara yang berpotensi mendorong harga turun secara bertahap. Dalam proyeksinya, Bitcoin diperkirakan lebih dulu mengalami penurunan menuju area sekitar US$60 ribu untuk membentuk Secondary Test in Phase B (ST in B).

Setelah itu, BTC disebut berpotensi memantul kembali menuju area resistance US$75 ribu hingga US$76 ribu. Akan tetapi, Aralez menilai reli tersebut kemungkinan belum menjadi breakout akhir karena pasar masih berpotensi melakukan re-sweep support untuk membentuk bottom terakhir melalui pola spring.

Area support penting yang disorot berada di kisaran US$62.345 hingga US$59.493. Jika area tersebut kembali diuji dan mampu bertahan, struktur bullish jangka menengah dinilai masih tetap valid. Dalam fase tersebut, Bitcoin diperkirakan mulai memasuki fase Last Point of Support (LPS) sebelum memulai pemulihan bertahap.

Untuk resistance terdekat, area US$75 ribu hingga US$79 ribu menjadi zona penting yang harus ditembus buyer. Jika breakout berhasil terjadi setelah fase akumulasi selesai, Aralez memproyeksikan harga Bitcoin berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area US$92 ribu hingga mendekati US$100 ribu pada fase markup berikutnya.

BACA JUGA:  Aduh, Peretasan Kripto Terjadi Lagi, Rp59 Miliar Melayang!

Whale Bitcoin Terus Bertambah

Meski tekanan jual jangka pendek masih mendominasi, data dari Santiment menunjukkan akumulasi whale Bitcoin justru terus meningkat dalam jangka panjang.

Jumlah wallet yang menyimpan minimal 100 BTC kini tercatat mencapai 20.229 wallet atau naik sekitar 11,2 persen dibandingkan tahun lalu yang berada di angka 18.191 wallet.

BTC Whale 19 mei

Wallet dengan kepemilikan minimal 100 BTC umumnya diasosiasikan dengan whale, institusi besar, maupun investor jangka panjang bermodal besar.

Santiment menilai peningkatan jumlah wallet besar tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar utama masih mempertahankan kepercayaan terhadap kelangkaan dan nilai jangka panjang Bitcoin meski volatilitas terus terjadi.

Secara historis, peningkatan jumlah whale sering dianggap sebagai sinyal bahwa investor besar masih melakukan akumulasi saat trader ritel justru mulai dilanda ketakutan dan keraguan.

Kondisi tersebut membuat pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi pertarungan antara tekanan jual jangka pendek dan akumulasi jangka panjang dari pelaku pasar besar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait