Harga Bitcoin tercatat naik tipis pada perdagangan terbaru, diperdagangkan di kisaran US$73.327, setara sekitar Rp1,25 miliar.
Dalam 24 jam terakhir, harga BTC menguat sekitar 0,67 persen, sementara dalam tujuh hari terakhir mencatat kenaikan 9,55 persen, mencerminkan pemulihan bertahap di tengah dinamika pasar global yang kompleks.
Analis on-chain di CryptoQuant, XWIN Research Japan, dalam laporan terbarunya menegaskan bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi makro ekonomi, khususnya inflasi dan respons kebijakan moneter di AS.
Inflasi AS dilaporkan kembali meningkat, dengan headline CPI yang mencapai 3,3 persen secara tahunan pada Maret 2026, sementara inflasi inti tetap stabil di 2,6 persen.
Menurut analis tersebut, kenaikan inflasi kali ini lebih dipicu oleh gangguan sisi pasokan seperti lonjakan harga energi dan tekanan rantai pasok, bukan karena permintaan yang kuat. Kondisi ini menciptakan tekanan baru terhadap kebijakan moneter yang pada akhirnya berdampak pada likuiditas global dan arah harga Bitcoin.
“Bitcoin tidak digerakkan oleh inflasi itu sendiri, melainkan oleh bagaimana inflasi membentuk kondisi finansial,” ungkap XWIN Research Japan.
Likuiditas dan Suku Bunga Jadi Penentu Arah Harga Bitcoin
Lebih lanjut, XWIN Research Japan menjelaskan bahwa hubungan antara inflasi dan harga Bitcoin tidak bersifat langsung. Dalam praktiknya, harga Bitcoin lebih sensitif terhadap suku bunga riil, kekuatan dolar AS, serta ketersediaan likuiditas di pasar keuangan.
Dalam kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lama, tekanan terhadap harga Bitcoin cenderung meningkat. Sebaliknya, ketika likuiditas mulai membaik, peluang pemulihan harga Bitcoin ikut terbuka.
Hal ini juga terlihat dari pergerakan pasar sepanjang 2025 hingga 2026, di mana inflasi tetap tinggi namun harga Bitcoin tidak selalu bergerak searah.

Selain itu, indikator Coinbase Premium Index yang berada di zona negatif sepanjang 2026 menunjukkan bahwa permintaan dari investor AS masih relatif lemah, sehingga turut membatasi kenaikan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Di sisi lain, data yang dibagikan CryptoReviewing menunjukkan bahwa harga Bitcoin sempat menembus level US$73.000 untuk kali kedua dalam pekan ini, yang memicu likuidasi posisi short dalam jumlah besar.

Secara tidak langsung, aksi ini mendorong volatilitas pasar, dengan total likuidasi mencapai ratusan juta dolar dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, area likuiditas padat masih terbentuk di kisaran US$68.500 hingga US$72.000, yang dinilai berpotensi menjadi zona kunjungan harga berikutnya.
Akumulasi Besar dan Zona Kunci Pasar
Dari sisi teknikal dan on-chain, analis lain seperti Ali Martinez menyoroti keberadaan garis tren naik jangka panjang yang telah bertahan hampir satu dekade. Garis ini, yang sering disebut sebagai “Parabolic Guard,” secara historis selalu menjadi titik awal lonjakan besar harga Bitcoin setelah fase akumulasi.

Secara tidak langsung, analis tersebut mengindikasikan bahwa area US$56.000 hingga US$60.000 menjadi zona penting di mana pelaku pasar besar biasanya menyelesaikan akumulasi sebelum fase kenaikan berikutnya dimulai.
Sementara itu, data on-chain dari Glassnode yang dianalisis oleh Tektonik menunjukkan adanya akumulasi besar-besaran di kisaran US$60.000 hingga US$70.000 sepanjang 2026.

Dalam periode tersebut, sekitar 850.000 BTC telah dikumpulkan, sehingga total pasokan yang terakhir berpindah di kisaran harga tersebut mencapai sekitar 1,85 juta BTC.
Akumulasi ini mencerminkan adanya pembelian agresif saat pasar mengalami koreksi, sekaligus membentuk zona permintaan kuat yang berulang kali berfungsi sebagai support bagi harga Bitcoin.

Namun demikian, tekanan juga datang dari sisi fundamental lain. Data menunjukkan bahwa Bhutan telah menjual sekitar 70 persen kepemilikan BTC-nya dalam 18 bulan terakhir. Secara tidak langsung, aksi jual ini mengurangi cadangan Bitcoin negara tersebut secara signifikan, sekaligus mengindikasikan perubahan strategi terhadap aset kripto.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



