Harga Bitcoin Sedang Ulangi Pola 2022? Berpotensi Melejit ke US$130 Ribu

Harga Bitcoin (BTC) disebut sedang membentuk struktur pasar yang menyerupai siklus 2022–2023, memunculkan peluang dimulainya reli bullish baru dalam beberapa bulan ke depan.

Analis Crypto Cove menilai fase akumulasi masih berlangsung hingga pertengahan Agustus 2026 sebelum pasar berpotensi memasuki fase manipulasi pada akhir Agustus hingga September, dengan target jangka panjang mencapai US$125.000–US$130.000 pada pertengahan 2027.

Berdasarkan grafik mingguan yang dibagikan analis tersebut, Bitcoin masih bergerak di dalam pola menyerupai wedge, dengan area US$58.000–US$61.000 menjadi zona akumulasi penting.

Sementara itu, garis tren turun di kisaran US$84.000–US$86.000 dinilai sebagai resistance utama yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi dimulainya tren naik berikutnya.

Pola 2022 Kembali Muncul, Harga Bitcoin Bidik Reli Baru

Crypto Cove menjelaskan bahwa harga Bitcoin saat ini mengikuti pola Power of Three (PO3) yang pernah muncul pada siklus 2022–2023. Dalam konsep tersebut, pasar biasanya melewati tiga fase, yakni akumulasi, manipulasi dan ekspansi harga.

BTC analisis 2 AGS

Menurut proyeksinya, fase akumulasi diperkirakan masih berlanjut hingga pertengahan Agustus. Setelah itu, pasar berpotensi mengalami pergerakan yang lebih fluktuatif pada akhir Agustus hingga September sebagai bagian dari fase manipulasi sebelum menentukan arah utama.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 12 Juli 2026: ADA, VIRTUAL, BEAT, ENA dan CAKE Pamer Taring, Momentum Bullish Kian Kuat

Dari sisi teknikal, area US$58.000 dipandang sebagai support penting yang perlu dipertahankan agar skenario bullish tetap berlaku. Sebaliknya, zona US$84.000–US$86.000 menjadi level resistance krusial karena bertepatan dengan garis tren turun yang selama beberapa bulan terakhir membatasi kenaikan harga Bitcoin.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Apabila Bitcoin berhasil menembus area tersebut, Crypto Cove memperkirakan reli yang lebih besar dapat dimulai pada Oktober hingga November 2026.

Target jangka panjang yang ditampilkan dalam grafiknya berada di kisaran US$125.000–US$130.000, atau sekitar pertengahan 2027, meski proyeksi tersebut tetap bergantung pada konfirmasi breakout dan kemampuan harga mempertahankan area support utama.

Nasib CLARITY Act Kini Bergantung pada Politik AS

Di sisi fundamental, analis XWIN Japan di CryptoQuant menilai masa depan CLARITY Act, salah satu rancangan undang-undang kripto terpenting di AS, kini semakin dipengaruhi dinamika politik menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.

BACA JUGA:  Bitcoin Bersiap Hadapi Era Quantum, Strategy Hingga BlackRock Bentuk Konsorsium

Menurut analisis tersebut, Partai Republik berupaya mengesahkan aturan itu sebelum pemungutan suara agar dapat menunjukkan keberhasilan dalam memperjelas regulasi aset kripto, membagi kewenangan antara SEC dan CFTC, memperkuat perlindungan aset pelanggan, serta meningkatkan daya saing AS di sektor aset digital.

Sementara itu, Partai Demokrat disebut tidak menolak industri kripto secara menyeluruh. Fokus mereka lebih mengarah pada penguatan aturan etika, perlindungan konsumen, penerapan kebijakan anti pencucian uang (AML) yang lebih ketat, serta peningkatan pengawasan terhadap potensi konflik kepentingan pejabat pemerintah.

XWIN Japan memperkirakan negosiasi lintas partai akan semakin sulit mendekati hari pemilu. Jika Partai Republik kehilangan mayoritas di DPR atau bahkan Senat, pembahasan CLARITY Act berpotensi mengalami revisi besar maupun penundaan.

Skenario yang saat ini dianggap paling mungkin adalah DPR dikuasai Demokrat dan Senat tetap dikuasai Republik, sehingga proses negosiasi diperkirakan berlangsung lebih lama.

BACA JUGA:  Usai Ekspansi ke Sektor Kripto, Nama Haji Isam Kini Muncul dalam Kasus Febrie

Bitcoin alamat aktif 2 Ags

Meski demikian, data on-chain justru menunjukkan aktivitas jaringan Bitcoin masih bertahan kuat. Jumlah alamat aktif Bitcoin tetap mendekati satu juta, mengindikasikan partisipasi pengguna belum melemah di tengah ketidakpastian politik.

“Data on-chain menunjukkan aktivitas Bitcoin tetap kuat meski politik bergejolak,” ungkap XWIN Japan.

Karena itu, analis tersebut menilai perhatian investor sebaiknya tidak hanya tertuju pada apakah CLARITY Act akhirnya disahkan, tetapi juga pada bentuk akhir regulasi yang dihasilkan.

Hasil pemilu paruh waktu AS diperkirakan akan menentukan bagaimana kerangka regulasi aset digital generasi berikutnya dibentuk, yang pada akhirnya dapat turut memengaruhi sentimen terhadap harga Bitcoin dan pasar kripto secara lebih luas.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait